Beranda Laporan Khusus Industri Tahu di Aceh, Bertahan dalam Tekanan Harga Kedelai dan Pandemi

Industri Tahu di Aceh, Bertahan dalam Tekanan Harga Kedelai dan Pandemi

BERBAGI
Proses produksi tahu di pabrik tahu Timbul Jaya. (Foto/Kia Rukiah)

Meski sejak pandemi COVID-19 harga kacang kedelai melambung tinggi, hal itu tidak menyurutkan semangat Maulizar untuk tetap bertahan dan mempekerjakan karyawan. 

—————

Tahu dikenal oleh masyarakat Indonesia karena menjadi salah satu lauk-pauk yang memiliki rasa lezat dan bermanfaat. Jenis lauk-pauk ini juga terjangkau bagi masyarakat dari semua kalangan.

Sebagai sumber protein, ada begitu banyak manfaat tahu yang dapat diperoleh. Tak hanya protein, beragam kandungan nutrisi lain ada di dalamnya. Tahu diketahui baik untuk kesehatan, mulai dari menjaga kekuatan tulang hingga mencegah kanker.

Selain sebagai sumber protein, tahu juga mengandung beragam nutrisi, seperti karbohidrat, serat, dan lemak. Kandungan asam amino esensial dan berbagai mineral, seperti kalsium, selenium, fosfor, magnesium, dan zat besi, pun dapat ditemukan di dalam tahu.

Tahu merupakan hasil olahan terbuat dari kacang kedelai yang dicairkan dan dikentalkan. Jadi bahan dasar tahu adalah kedelai. Hal itu pula yang kini dihadapi para pengusaha industri tahu dan tempe di Aceh, yakni naiknya harga bahan baku (kedelai) sejak pandemi COVID-19 melanda negeri ini.

Tahu hasil produksi Pabrik Tahu Timbul Jaya. (Foto:Kia)

Industri Tahu Timbul Jaya

Pemilik pabrik tahu Timbul Jaya yang beralamat di Lorong Banding, No 21 Geuce Kayee Jato, Banda Aceh, Maulizar, mengatakan kepada Waspasaaceh.com, Selasa, (21/9/2021), meski harga kedelai melambung tinggi, tapi usahanya tetap berproduksi.

Dia mengatakan, meski sejak pandemi COVID-19 harga kacang kedelai melambung tinggi, hal itu tidak menyurutkannya semangatnya untuk tetap bertahan dan mempekerjakan karyawan. Kini harga kedelai telah mencapai Rp 10.000/Kg dari harga sebelumnya di kisaran Rp7.400/Kg.

Menurutnya, selain mahalnya kacang kedelai, saat ini juga seluruh sektor ekonomi mengalami penurunan. Omzet penjualan tahu di pasar-pasar tradisional juga menurun karena lesunya ekonomi masyarakat sejak masa pandemi.

Walaupun dihadapakan dengan dua permasalahan, namun industri tahu Timbul Jaya tetap mampu memperkerjakan enam karyawannya. Setiap hari IKM ini memproduksi 50 ember tahu atau mengolah 400 Kg kedelai perhari.

IKM Tahu Tertua di Banda Aceh 

Maulizar menuturkan rumah produksi tahu Timbul Jaya sudah berdiri sejak 25 tahun silam dan merupakan rumah produksi tahu pertama di Banda Aceh.

Pemilik pabrik tahu Timbul Jaya yang beralamat di Lorong Banding, No 21 Geuce Kayee Jato, Banda Aceh, Maulizar. (Foto/Kia Rukiah)

“Untuk di Banda Aceh ini yang tertua. Kita merencanakan untuk membuka cabang di Aceh Selatan dan daerah lainya, namun saat ini fokus yang di Banda Aceh dulu, mengingat keadaan juga belum stabil,” sebut Maulizar.

“Bahan kacang kedelai dipasok dari Medan, melalui toke di Lambaro, Aceh Besar. Pesanan kita 400 kilogram perharinya. Sebelum pandemi kita bisa menghabiskan 800 kilogram perhari,” tuturnya.

Di samping itu, dia juga menyebutkan dalam proses proses produksi atau pembuatan tahu, mulai perendaman, perebusan hingga penggilingan serta proses pencetakan, pabrik tahu miliknya masih menggunakan peralatan tradisional.

Dia mengaku lebih menyukai dengan peralatan tradisional untuk memproduksi tahu, karena selain rasa tahunya akan lebih enak, juga dia mampu mempekerjakan lebih banyak karyawan dari masyarakat sekitar. Bila dia menggunakan alat-alat mesin yang lebih modern, pabrik tahunya hanya membutuhkan sedikit tenaga kerja.

“Saya ada rencana untuk mengganti alat produksi tahu. Hanya saja kalau sudah menggunakan alat mesin semua, otomatis saya akan mengurangi tenaga kerja. Jadi sayang para karyawanya nanti,” beber Maulizar.

Hal itu menjadi sebuah alasan untuk mempertahankan alat tradisional dalam pembuatan tahu. Selain juga produksi secara tradisional mendapatkan kualitas tahu yang lebih bagus.

“Proses pembuatan tahu, kacang kedelai direndam, setelah mengembang kita giling mengunakan mesin penggiling. Kemudian kita saring menggunakan kain, kita ambil santannya dan diberikan pengembang (ragi) yang terbuat dari cuka makanan. Setelah menggumpal kita cetak persegi empat dan diamkan selama 15 menit untuk bisa dipotong,” jelasnya.

Proses pemasaran tahu juga masih dengan menawarkan ke konsumen langsung dan ke pasar tradisional yang ada di Banda Aceh dan Aceh Besar, secara eceran mau pun memenuhi pesanan. Dia juga menyebutkan, untuk pasar tradisional, tahu produksinya masuk ke pasar tradisional yang ada Lamdingin, Lambaro, Keutapang dan lainnya.

Bantu Stabilkan Harga Kedelai

Ketua Pusat Koperasi Tahu Tempe (Puskopti) Aceh T. Tansri Jauhari mengatakan, pihaknya terus mendampingi seluruh IKM tahu tempe yang ada di Aceh, salah satunya membantu mendorong menstabilkan harga kedelai atau ikut memfasilitasi.

Ketua Pusat Koperasi Tahu Tempe (Puskopti) Aceh T. Tansri Jauhari. (Foto/Kia Rukiah)

“Jadi dari wadah Puskopti pusat seluruh Indonesia, terus melakukan pemantaun berbagai kebijakan pemerintah termasuk distribusi kacang kedelai ke Indonesia. Dengan adanya kolaborasi bersama antara importir dan pemerintah, harga kacang kedelai bisa stabil kembali,” sebutnya.

Ketua Rumah Aspirasi UKM dan IKM ini berharap kepada Pemerintah Aceh untuk memberikan dukungan dan bantuan berupa sarana dan prasarana, demi meningkatkan mutu dan kualitas tahu yang lebih baik.

Pelaku IKM Harus Berjuang Lebih Gigih

Kabid Pengembangan Industri Menengah dan Aneka Disperindag Aceh, Nila Kanti, mengatakan saat ini hampir semua IKM di Aceh sedang mengalami masalah yang sama akibat pandemi COVID-19. Tidak hanya di Banda Aceh saja, ujarnya.

Kabid Pengembangan Industri Menengah dan Aneka Disperindag Aceh, Dra.Nila Kanti, M.Si. (Foto/Ist)

“Oleh karena itu, dampak situasi pandemi COVID-19 juga berpengaruh terhadap IKM yang mengharuskan para pelaku IKM berjuang gigih, kreatif dan inovatif agar usahanya tetap bertahan,” tegas Nila Kanti kepada Waspadaaceh.com, Kamis (23/8/9/2021) di Banda Aceh.

Selain itu, ucapnya, permodalan yang cukup bagi IKM juga menjadi salah satu penentu bertahannya IKM di masa pandemi ini.

“Termasuk pelaku usaha IKM produksi tahu yang ada di Seutui ini. Karena itu, pelaku IKM di Aceh perlu kuat dalam hal permodalan, kreativitas dan inovatif,” sebutnya.

Apalagi saat ini selain pandemi, usaha tahu juga dihadapkan dengan tingginya harga kedelai. Padahal berdasarkan data BPS Aceh, ada tiga daerah penghasil kedelai terbesar di Aceh, yaitu Bireuen, Aceh Timur dan Aceh Utara.

“Artinya komoditi kedelai sebagai bahan baku pembuatan tahu sangat potensial untuk dikembangkan di Aceh. Selain itu, kacang kedelai pernah menjadi primadona di Aceh Timur bahkan kualitasnya diakui terbagus di Indonesia,” jelasnya.

Jadi dia berharap komoditi kedelai di Aceh menjadi perhatian bersama dan harus bersinergis lintas sektor untuk pengembangan komoditi kedelai Aceh, sehingga harga kedelai kedepannya diharapkan bisa menjadi stabil, dan para IKM tahu tempe bisa mengembangkan usahanya menjadi lebih baik.

Dia juga menuturkan, Disperindag Aceh berusaha untuk selalu mendukung kemajuan IKM di Aceh. Seperti melaksanakan kegiatan pelatihan dalam rangka meningkatkan kapasitas pelaku IKM dan peningkatan kualitas produk IKM.

“Seperti di tahun 2019 kami telah melaksanakan pelatihan/ bimbingan teknis peningkatan mutu dan diversifikasi produk pengolahan kedelai untuk sentara IKM Kabupaten Aceh Timur di Banda Aceh,” tutupnya. (Kia Rukiah)

BERBAGI