Banda Aceh (Waspada Aceh) – Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mengubah pola pikir dari sekadar pedagang menjadi pebisnis agar mampu mengembangkan usaha dan memperluas pasar.
Menurut Illiza, pelaku UMKM tidak cukup hanya mendapatkan bantuan modal. Mereka juga perlu dibekali literasi keuangan dan kemampuan manajemen bisnis agar usahanya dapat berkembang dan naik kelas.
Hal itu disampaikan Illiza usai menghadiri kegiatan literasi keuangan dan penguatan UMKM yang berlangsung di Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Banda Aceh, Jumat (14/8/2026).
“PNM ini merupakan BUMN yang memiliki program memberikan bantuan modal, kemudian juga bagaimana manajemen bisnis usaha dari ibu-ibu, dari pedagang menjadi para pebisnis,” kata Illiza.
Ia mengatakan, kemampuan mengelola keuangan dan manajemen usaha menjadi bagian penting dalam proses pengembangan UMKM. Dengan pembekalan tersebut, pelaku usaha diharapkan tidak hanya mampu menjalankan bisnis, tetapi juga memiliki perencanaan untuk mengembangkannya.
“Jadi, mereka diberikan literasi keuangan dan juga dilatih dalam manajemen bisnis. Ini sesuatu yang sangat penting agar mereka bisa naik kelas,” ujarnya.
Dorong Standar Produk Lebih Tinggi
Selain kemampuan pengelolaan usaha, Illiza menilai kualitas produk UMKM juga perlu terus ditingkatkan. Hal itu mencakup hasil produksi hingga kemasan atau packaging.
Ia meminta pelaku UMKM tidak hanya berorientasi pada standar pasar lokal. Menurutnya, produk harus mulai dipersiapkan dengan standar yang lebih tinggi sehingga memiliki peluang memasuki pasar yang lebih luas.
“Kita lihat mulai dari hasil produk, kualitas produk, sampai nanti packaging dari produk itu harus menjadi lebih baik. Standarnya juga harus kita tingkatkan. Jangan hanya menggunakan standar lokal, tetapi kita harus bisa menggunakan standar internasional,” kata Illiza.
Menurut dia, penggunaan standar yang lebih tinggi akan membuka peluang bagi produk UMKM Banda Aceh untuk memperluas pasar.
“Kalau sudah menggunakan standar internasional, pasar yang mereka rambah paling tidak minimal pasar nasional. Sehingga suatu hari mereka bisa go international,” ujarnya.
Illiza juga menekankan pentingnya legalitas usaha dan aspek kehalalan produk. Menurutnya, hal tersebut perlu menjadi bagian dari pengetahuan yang diberikan kepada pelaku UMKM.
“Baik dari sisi izin usaha maupun kehalalannya. Sekarang kan semua produk harus halal,” katanya.
Ia mencontohkan, perhatian terhadap kehalalan tidak hanya berlaku untuk produk makanan. Produk nonmakanan seperti tas maupun produk berbahan bambu juga perlu memperhatikan aspek tersebut sesuai ketentuan yang berlaku.
Selain itu, Illiza mendorong pelaku UMKM mulai memperhatikan aspek ramah lingkungan. Menurutnya, kesadaran tersebut penting karena pengembangan usaha tidak hanya berbicara mengenai keuntungan saat ini, tetapi juga keberlanjutan dalam jangka panjang.
“Literasi seperti ini memang harus diajarkan. Termasuk juga ramah lingkungan, karena ini sifatnya visioner dan untuk jangka panjang,” ujarnya.
Illiza menilai kolaborasi PNM dengan lembaga jasa keuangan dapat memberikan pendampingan yang lebih menyeluruh kepada pelaku UMKM, mulai dari pembiayaan, pengelolaan usaha hingga peningkatan kualitas produk.
“Inilah bedanya ketika PNM hadir berkolaborasi dengan jasa keuangan. Baik dari keuangan, manajemennya, maupun produknya, semuanya akan lebih baik ke depannya,” kata Illiza. (*)



