Beranda Laporan Khusus Ija Kroeng, Sarung Khas Aceh yang Semakin Populer

Ija Kroeng, Sarung Khas Aceh yang Semakin Populer

BERBAGI
Khairul Fajri Yahya mengenakan Ija Kroeng, produk yang menjadi andalannya. (Foto @ija_kroeng)

Di tingkat dunia, Ija Kroeng sudah menyentuh pasar di berbagai negara seperti Denmark, Belanda, Norwegia, Malaysia dan negara-negara lainnya.

—————

Memang namanya masih asing bagi sebagian orang, apalagi untuk masyarakat di luar Provinsi Aceh. Ija Kroeng bisa disebut sejenis sarung, tapi memiliki perbedaan dari sarung lainnya.

Ija kroeng berasal dari bahasa Aceh, artinya kain sarung, kain panjang yang pada kedua ujungnya dijahit berhubungan. Sedangkan kata “sarong” atau sarung sendiri berasal dari bahasa Melayu, artinya penutup.

Ija kroeng belakangan ini banyak dipakai oleh kalangan pria dan wanita muda, baik untuk melaksanaan shalat mau pun untuk kelengkapan pakaian sehari-hari. Bahkan banyak di antara pria dan wanita di Aceh yang mengenakan ija kroeng saat mengunjungi pesta, acara resmi dan aktivitas bermasyarakat.

Kini ada pengusaha di Aceh yang mempopulerkan produk Ija Kroeng ini hingga ke dunia internasional. Produk IKM Aceh ini dipopulerkan oleh Khairul Fajri Yahya. Sang pemilik brand itu telah menekuni usahanya sejak 11 tahun silam.

Pengusaha yang akrab dipanggil Khairul itu mengatakan, strategi pemasaran ija kroeng ada beberapa model pemasaran. Pertama penjualan secara umum, di mana ija kroeng dijual di pasar-pasar tradisional. Kedua, melalui penjualan di toko souvenir khusus. Selain itu, dia juga melakukan penjualan secara online.

Khairul menyebutkan, agar produknya tetap laku, produk ija kroeng harus autentik (dapat dipercaya, asli) atau tidak meniru produk orang lain.

“Tidak sedikit sekarang ini orang yang meniru produk-produk orang lain, semata-mata hanya ingin meningkatkan profit, tanpa ada konsep storytellingnya,” kata Khairul ketika ditemui Waspadaaceh.com di workshopnya, Jumat (3/9/2021).

Khairul mengakui pernah membuka lapak di Blang Padang. Kemudian ada instansi yang melihat, selanjutnya diberi kesempatan untuk mengikuti pameran di tingkat kota, provinsi, nasional hingga sampai ke tingkat internasional dengan melewati beberapa proses.

Memanfaatkan rumah sebagai tempat usaha, kini produk kain sarung ija kroeng telah merambah pasar dunia, seperti Denmark, Norwegia, Belanda dan Malaysia.

Khairul mengatakan, sejak awal dia memberi merek Ija Kroeng agar memudahkan dalam pemasaran. Sebab, sambungnya, nama itu sudah melekat kuat bagi masyarakat Aceh.

“Semua orang Aceh pasti tahu apa itu Ija Kroeng,” sebutnya.

Workshop milik Khairul Fajri Yahya, sebagai tempat memproduksi dan memasarkan Ija Kroeng. (Foto/Kia Rukiah)

Jika bicara brand Ija Kroeng, tentu tidak terlepas dari sejarahnya. Menurut Kharul lagi, Ija Kroeng yang berarti kain sarung memang sudah ada sejak masa Kerajaan Aceh Darussalam. Dan bahkan, dari literasi yang Ia baca, sejarawan Aceh, Rusdi Sufi dalam bukunya “Pakaian Tradisional di Aceh” yang diterbitkan tahun 1993 menulis bahwa salah satu lokasi pengrajin Ija Kroeng pada masa itu ada di kawasan Lambhuk, Kota Banda Aceh.

Di sana, pengrajin memproduksikan kain-kain dengan menggunakan alat tenun tangan yang disebut teupeun, sedangkan pekerjaannya disebut pok teupeun dan hasilnya disebut ija pok teupeun.

Dari desa Lambhuk juga dihasilkan kain-kain yang sangat terkenal seperti kain sarong (ija krong), kain selendang (ija sawak) dan jenis-jenis kain lainnya. Begitu terkenalnya sehingga selalu dicari orang, yang sering dinamakan dengan Ija Kroeng Lambhuk.

“Jadi, semua orang Aceh pasti tahu apa itu Ija Kroeng, nggak mungkin kalau kita bilang Ija Kroeng itu orang menyebut nama makanan, tumbuh-tumbuhan atau pot bunga. Maka dibilangnya pasti nama kain sarung,” jelas Khairul.

Khairul menceritakan, ia mendirikan Ija Kroeng bermula pada tahun 2010, di mana saat itu ia merancang kain sarung hitam putih polos. Meski belum memiliki brand, produksinya mendapat sambutan bagus dari pasar.

Beranjak dari itu, Khairul kemudian memberanikan diri untuk menjadikan usaha tersebut menjadi sebuah brand, sehingga bisa menembus pasar yang lebih luas.

“Sehingga di tahun 2015 kita tekatkan untuk kita jadikan sebagai brand profesional, ada prodaknya, ada brandnya, ada HAKI-nya, ada sistem produksinya dan lainnya,” ucap Khairul.

Khairul memanfaatkan rumahnya di Jalan Teuku Umar Lorong Mahya No 51 Gampong Setui, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, sebagai lokasi produksi dan penjualan Ija Kroeng.

“Ija Kroeng baru memiliki satu workshop (tempat kerja), di mana di workshop itu ada tempat produksinya, ada tempat jualannya atau mini galerinya lah, dan sekarang lagi persiapan untuk membuka galeri baru di daerah Lampineung,” ujarnya.

Ija Kroeng, lanjut Khairul, menawarkan beragam jenis produk kepada konsumen, antara lain kain sarung, celana sarung, baju, syal, dan beragam jenis lainnya.

Dari beragram jenis, katanya, kain sarung warna hitam menjadi jenis produk paling diminati konsumen, terutama untuk kalangan anak muda. Kemudian disusul celana sarung, juga cukup diminati kalangan muda di Tanah Rencong.

“Untuk kalangan muda sendiri itu juga lebih diminati celana sarung, karena bisa dipakai sehari-hari dan bisa dipakai untuk aktivitas di luar tempat peribadatan,” tutur Khairul.

Adapun harganya cukup beragam, seperti kain sarung Rp285.000, celana sarung Rp335.000, baju Rp365.000 dan Rp395.000, kain sarung ikat bahan linen Rp420.000 dan ada kain sarung linen motif bordir manual Rp1.730.000.

“Kalau dari Aceh, peminatnya hampir seluruh kabupaten/kota di Aceh dan hampir seluruh provinsi di Indonesia, dan luar negeri kita pernah kirim ke Denmark, Belanda, Norwegia, dan Malaysia juga,” ucap Khairul.

Para karyawan sedang menjahit Ija Kroeng. (Foto/Kia Rukiah)

Perjalanan Bisnis di Tengah Pandemi

Pembatasan-pembatasan selama pandemi COVID-19, telah membuat wisatawan sulit masuk ke Indonesia, termasuk ke Aceh, sehingga memberi pengaruh besar bagi penjualan produk-produk IKM, salah satunya Ija Kroeng.

Hanya saja, Khairul lebih jeli melihat peluang pasar. Saat pandemi melanda, ia langsung banting setir, dari sebelumnya merancang dan memproduksi sarung, kini beralih merancang dan memproduksi masker.

“Dimulainya pandemi, kita mengalami penurunan omzet di 2020, itu di Oktober dan November. Menyikapi penurunan omzet ini, di awal-awal pandemi kita mengalihkan produksi sarung ke produksi masker, dan itu Alhamdulillah diterima bagus oleh pasar,” katanya.

Sejak menjadi IKM binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh, kata Khairul, Ija Kroeng banyak mendapat hal-hal positif untuk kemajuan usaha, seperti dilibatkan dalam pameran-pameran, diberikan informasi tentang pelatihan dan lain sebagainya. 

“Kelebihan kita mendapat informasi mengenai pelatihan-pelatihan, difasilitasi untuk pameran-pameran, difasilitasi untuk business matching, dijadikan produk kita sebagai souvenir dan lain-lain,” ungkap Khairul.

Khairul berharap, Pemerintah Aceh terutama Disperindag untuk tetap komit dalam menyokong IKM di provinsi paling barat Indonesia ini agar tetap eksis di tingkat lokal, nasional hingga ke pasar internasional. 

“Harapan Ija Kroeng kepada Disperindag tetap komit dari awal, yaitu mengeksekusi slogan membeli dan menggunakan produk lokal, dan itu harus dilakukan setiap waktu lah, dan bukan hanya dislogankan, ayo beli, dan lain-lain, tetapi betul-betul dibeli oleh pemerintah,” demikian Khairul.

Tetap Semangat 

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Aceh berharap kepada para pelaku IKM di Tanah Rencong tetap semangat dalam menjalani usaha di tengah pandemi Covid-19. Pelaku IKM juga diminta tetap menjalani protokol kesehatan dalam melayani pembeli.

“Dan perluas wawasan bisnisnya melalui kesempatan pelatihan yang ditawarkan secara tatap muka maupun online,” kata Kabid Pengembangan Industri Menengah dan Aneka Disperindag Aceh, Dra. Nila Kanti, M.Si, Kamis (26/8/2021).

Di samping memanfaatkan program-progam yang disediakan Disperindag Aceh, seperti pojok kreatif, pelatihan digital marketing dan lain sebagainya, para pelaku IKM juga dapat mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat, daerah, maupun lembaga lembaga pelatihan yang kredible.

Sehingga, lanjut Nila Kanti, diharapkan dengan ikutnya para pelaku IKM dalam setiap pelatihan bisnis akan timbul ide-ide kratif, bertambahnya mitra dan jaringan bisnis.

“Sehingga akan bermanfaat dalam mengambil peluang pasar yang saat ini persaingannya semakin ketat,” ungkap Niken, sapaan akrab Nila Kanti.

Ija Kroeng produk sarung khas Aceh yang dikembangkan Khairul Fajri Yahya. (Foto/Kia Rukiah)

Tingkatkan Daya Saing

Beberapa waktu lalu Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh, Ir Mohd Tanwier, mengatakan, produk-produk IKM pada umumnya menjadi andalan sebagai ciri khas produk dari masing-masing kabupaten/kota di Aceh.

“Elemen penting yang tidak bisa dipisahkan dari produk namun masih sering dilupakan oleh pelaku IKM adalah kemasan,” kata Tanwier.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh Ir Mohd Tanwier. (foto/Cut Nauval D).

Tanwier menyebutkan, meskipun sudah banyak yang menyadari arti penting dari sebuah kemasan, namun pada umumnya masih banyak pelaku IKM yang menggunakan kemasan apa adanya. Mereka belum sadar bahwa kemasan itu cukup penting.

Kepala Disperindag Aceh juga mencatat ada beberapa kendala yang dihadapi pelaku IKM Aceh, di antaranya kurangnya pengetahuan tentang kemasan, belum memiliki izin edar produk, serta keterbatasan IKM dalam memperoleh kemasan dengan harga terjangkau.

Dari permasalahan tersebut, kata Tanwier, Disperindag Aceh memberikan solusi melalui salah satu unitnya yaitu UPTD Rumah Kemasan Aceh dalam pengembangan nilai produk IKM. UPTD Rumah Kemasan akan memberi edukasi dan pendampingan kepada pelaku IKM agar mampu meningkatkan kualitas produk dan kemasannya sehingga memiliki daya saing. (Kia Rukiah)