Beranda Laporan Khusus Kejar Ketertinggalan Pelajaran Melalui PTM, Siswa dan Guru Tetap Taat Prokes

Kejar Ketertinggalan Pelajaran Melalui PTM, Siswa dan Guru Tetap Taat Prokes

BERBAGI

“Prokes sangat perlu dijalankan sebagai upaya Dinas Pendidikan Aceh untuk menjamin keamanan siswa dari ancaman COVID-19 saat menjalani Pembelajaran Tatap Muka (PTM)”

— Kadis Pendidikan Aceh, Alhudri —

Pemerintah telah memutuskan untuk menerapkan pembelajaran secara tatap muka sejak beberapa bulan yang lalu. Salah satu sekolah yang sudah menerapkan PTM secara penuh adalah SMA Negeri 16 Kota Banda Aceh.

Diizinkan untuk melakukan PTM merupakan kesempatan emas yang diberikan pemerintah kepada sekolah untuk berbenah setelah 2 tahun lamanya melakukan pembelajaran secara online. Kesempatan itu pun tidak disia-siakan oleh sekolah di Aceh, seperti SMA Negeri 16 Kota Banda Aceh, SMAN 1 Pulo Aceh, SMA Fatih Bilingual Boarding Boarding School, SMAN 6 Kota Banda Aceh dan sekolah lainnya. Pihak sekolah terus mengenjot mutu pendidikan melalui PTM.

Berdasarkan pantauan Waspadaaceh.com,  situasi di dalam ruangan dan kehadiran siswa sudah mulai normal tanpa ada shift. Pembelajaran juga sudah berjalan normal seperti sebelum COVID-19, walau masih ada pembatasan dengan protokol kesehatan. Selain itu para siswa dan guru juga sudah menjalani vaksin sebagai upaya meningkatkan kekebalan tubuh.

Karena adanya kegiatan pendidikan yang pernah tertunda selama 2 tahun, akibat pandemi COVID-19, kini pihak satuan pendidikan melakukan berbagai kegiatan untuk mengejar ketertinggalan siswanya. Namun demikian, Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Alhudri, tetap menekankan kepada sekolah untuk mengedepankan prokes secara ketat.

Alhudri, menyebutkan, prokes sangat perlu dijalankan sebagai upaya Dinas Pendidikan Aceh untuk menjamin keamanan siswa dari ancaman COVID-19 saat menjalani Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Untuk itu semua satuan pendidikan di Aceh, yang telah melaksanakan PTM, tidak boleh kendor dalam menerapkan aturan prokes.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Alhudri. (Foto/Ist)

Berikan Tugas Tambahan kepada Siswa

Sementara itu SMA Negeri 16 Banda Aceh, sebelum memulai pembelajaran, terlebih dahulu memastikan kesehatan siswa dan guru dengan mengecek suhu tubuh, mencuci tangan serta memakai masker.

Dalam mengatasi ketertinggalan materi akibat pandemi, guru SMA Negeri 16 Kota Banda Aceh memberikan tugas tambahan kepada siswa, baik berupa makalah atau pemberian pengayaan materi pelajaran.

“Saat belajar online banyak materi yang tidak tersampaikan dengan maksimal. Untuk mengejar ketertinggalan itu, saya selalu menekankan kepada guru untuk memberikan tugas tambahan kepada siswa, baik berupa makalah atau kelas pengayaan,” tutur Kepala Sekolah SMAN 16 Kota Banda Aceh, Syarfati, dalam wawancara dengan Waspadaaceh.com, Sabtu (19/3/2022).

Kepala Sekolah SMA Negeri 16 Kota Banda Aceh, Syarfati. (Foto/Kia)

Syarfati mengatakan, sejak dilanda COVID-19 kegiatan pendidikan menjadi terbatas, tidak terkecuali juga pembatasan interaksi antara guru dan siswa. Dampak dari itu, ucap Syarfati, transfer ilmu dari para guru kepada siswanya tidak bisa berjalan dengan sempurna.

Kata dia, tidak bisa dipungkiri sedikit banyaknya pasti terjadi ketertinggal materi pelajaran. Tetapi dengan dilaksanakannya PTM sekarang ini, pelan-pelan akan diupayakan untuk mengejar ketertinggalan tersebut.

“Pelajaran pendamping untuk kelas 3 sudah kita berikan dari awal Januari sampai sekarang. Dan untuk anak-anak yang lain juga terus dilakukan pembinaan, baik melalui ekstra kurikuler atau kegiatan yang lainnya,” tuturnya

Kemampuan Kognitif Siswa Dilihat Melalui PTM

Syarfati mengatakan, secara kasat mata kemampuan kognitif, sikap maupun keterampilan siswa dapat dilihat guru melalui PTM. Dia menuturkan, ada materi tertentu yang memang harus dijelaskan secara langsung agar siswa mudah dalam memahaminya. Maka dari itu, menurutnya,  dengan adanya PTM ini para guru sangat merespon dengan baik  karena bisa mengetahui secara langsung keluhan dari siswa.

Kemudian dia juga mendukung langkah pemerintah untuk tetap mematuhi prokes saat pembelajaran berlangsung maupun di luar pembelajaran.  “Alhamdulillah, kami tetap mengindahkan peraturan yang ditetapkan pemerintah untuk menjalankan prokes yang ketat walaupun di dalam ruangan,” sebutnya.

Dia juga berharap kepada orang tua siswa untuk memberi dukungan agar PTM bisa berlanjut dan percaya bahwa peraturan yang ditetapkan pemerintah terkait PTM adalah kebijakan yang banyak manfaatnya dari pada mudharatanya.

“Kami selalu berdoa kepada Allah semoga musibah pandemi bisa segera sirna. Supaya segala kegiatan kita baik di bidang pendidikan maupun bidang usaha lainnya dapat berjalan dengan baik tanpa ada pembatasan lagi,” harapnya.

Guru: Siswa Lebih Cepat Memahami Lewat PTM

Salah seorang guru di SMAN 16 Kota Banda Aceh, Zaini Yusuf, menyampaikan tingkat penyerapan siswa lebih bagus dan lebih cepat melalui PTM. “Lebih tepatnya mereka menerima secara langsung di dalam kelas, dari pada menerima pelajaran melalui online,” sebutnya.

Guru sekolah di SMA Negeri 16 Kota Banda Aceh, Zaini Yusuf. (Foto/Kia)

Menurutnya, belajar secara online, baik siswa maupun guru sama-sama mendapat kendala. Guru susah menjelaskan materi pelajaran, sedangkan siswa juga sulit untuk memahami. “Kalau PTM, jika siswa tidak mengerti, siswa akan mudah berkomunikasi dengan guru dan  guru juga bisa melihat langsung reaksi siswa bila terdapat materi yang kurang dimengerti,” tutupnya.

Kejar Ketertinggalan, SMAN 1 Pulo Aceh Bentuk English Club

Kepala Sekolah SMAN 1 Pulo Aceh, Anwar, mengatakan kepada Waspadaaceh.com, Jumat (18/3/2022) dalam mengejar ketertinggalan akibat COVID-19 SMAN 1 Pulo Aceh membentuk english club.

“Untuk mengejar ketertinggalan selalu kami upayakan, misal kami membentuk egglish club karena Pulo Aceh blue printnya pariwisata,” Anwar.

Dia mengatakan, pembelajaran di sekolahnya selama ini tidak begitu terpengaruh dengan COVID-19 sebab berada di daerah terpencil. Kendati demikian, sekolah juga pernah merumahkan siswa sehingga transfer ilmu antara guru dan siswa mengalami kendala.

Kepsek SMAN 1 Pulo Aceh, Anwar. (Foto/Ist)

“Alhamdulillah sekarang guru sudah nyaman dan kembali pada titahnya, sebagai pendidik yang punya tanggung jawab dalam memberikan ilmu kepada siswanya secara langsung,” jelasnya.

Menurutnya, pembelajaran secara online juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Karena pada satu sisi, ucap Anwar,  guru maupun siswa dituntut terbiasa dengan menggunakan teknologi dalam menghadapi masa yang akan datang.

Walau demikian, menurutnya, tidak ada yang lebih efektif selain PTM. Suasana belajar mengajarnya juga lebih menyenangkan jika interaksi siswa dan guru itu ada.

Daya Serap Siswa Lebih Bagus saat PTM

Kepala Sekolah SMA Fatih Bilingual Boarding School, Muhammad Azhar Annas, mengatakan, penerapan PTM menimbulkan pro kontra di berbagai kalangan. Tentu PTM ini jika dilihat dari sisi positifnya, siswa dalam menyerap pembelajaran lebih bagus, karena secara langsung guru bisa melihat respon ataupun pencapaian dari siswa saat memberikan pembelajaran.

“Sebelumnya kami sudah melakukan pembelajaran secara hybrid, namun kami menyimpulkan pencapaian anak-anak  cenderung tidak secepat bila mereka hadir di kelas,” sebutnya.

Namun jika dipandang dari segi negatifnya, yang menjadi tantangan, sekolah harus menerapkan prokes yang ketat serta memiliki tanggungjawab yang besar terhadap kesehatan siswa. Sekolah harus mampu melindungi siswa dan guru dari ancaman penyebaran COVID-19 yang belum benar-benar hilang dari Indonesia, termasuk Aceh.

Kepsek SMA Fatih Bilingual Boarding School, Muhammad Azhar Annas. (Foto/Kia)

“Termasuk kami sampai sekarang masih mempertahankan prokes secara ketat. Kita masih ada pemeriksaan suhu, cuci tangan dan masker, dan jarak masih diperhitungkan serta ada buku panduan yang disosialisasikan untuk siswa dan guru,” tutur Annas.

Pihaknya tetap melakukan secara disiplin, karena hal ini menjadi penting jika menginginkan PTM tetap berlanjut.  “Meski diperbolehkan proses Pembelajaran Tatap Muka (PTM) sekolah kita tetap mengutamakan keselamatan siswa dan guru. Di samping itu, kami juga tetap memperhatikan capaian pembelajaran dari semua siswa,” sebutnya.

Namun, terkait aman atau tidaknya, menurut dia sangat tergantung dari kesadaran pihak sekolah dalam menerapkan prokes dan tentu kerjasama dari orang tua dalam mengawasi juga sangat dibutuhkan.

Di samping itu, Annas juga mengatakan pandemi telah membuat banyak ketertinggalan mutu pendidikan. Dalam mengatasi keterlambatan itu, SMA Fatih Bilingual Boarding School mengambil langkah untuk pencapaian target pembelajaran. Ketika PTM sudah diizinkan, siswa diberikan program insentif bahasa Inggris, kemudian ada program tambahan pelajaran lainnya.

Orang Tua Siswa Tidak Khawatir dengan PTM

Meski pandemi COVID-19 belum usai, namun orang tua atau wali murid dari siswa tidak khawatir lagi untuk melepaskan anaknya kembali mengikuti pembelajaran tatap muka.

Hal itu diungkapkan oleh Evi Qadriati, orang tua dari Azzah Shafa, siswa kelas XI di SMA Fatih Bilingual Boarding School Kota Banda Aceh.

Evi Qadriati, orang tua siswa Azzah Shafa. (Foto/Kia)

“Sekarang nggak khawatir lagi, alasannya karena anak-anak juga sudah divaksin. Selain itu, kekhawatiran kita tentang COVID-19 tidak seperti pertama masuk,” ucapnya.

Adanya aturan dari pemerintah yang kini membolehkan siswa kembali melakukan PTM membuat dia bahagia walaupun tanggung jawabnya masih ada. Semenjak pembelajaran online, dia sendiri mengakui tidak mempunyai kemampuan dalam mengajar atau mendampingi anaknya.

“Bukan bidang kita, jadi anak-anak bosan belajar dengan mamanya karena sering tidak nyambung. Apalagi pelajaran sekarang sulit-sulit,” tuturnya. (Adv)

BERBAGI