BerandaAcehGuru Besar USK Ungkap Cara Mengolah Lahan Bekas Banjir agar Kembali Produktif

Guru Besar USK Ungkap Cara Mengolah Lahan Bekas Banjir agar Kembali Produktif

Pidie Jaya (Waspada Aceh) – Sawah yang tertimbun material banjir tidak serta-merta kehilangan fungsinya sebagai lahan pertanian. Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Rina Sriwati, mengatakan lahan seperti itu masih dapat dimanfaatkan kembali, asalkan dikelola dengan pendekatan berbasis ilmiah melalui analisis tanah dan pemberian nutrisi yang tepat.

Hal tersebut disampaikan Prof. Rina Sriwati yang didampingi Prof. Rita Hayati saat ditemui di sela-sela panen perdana bawang merah di lahan bekas banjir di Desa Meunasah Teungoh, Kec, Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Selasa (7/7/2026).

Menurut Rina, tim Fakultas Pertanian USK telah terlibat sejak awal program sebagai pendamping teknis. Langkah pertama yang dilakukan adalah meninjau kondisi lahan yang sebelumnya tertimbun material banjir dengan ketebalan sekitar 30 sentimeter dan didominasi material berpasir.

“Kami menyarankan agar dilakukan analisis tanah terlebih dahulu. Kandungan unsur hara seperti nitrogen, fosfor, kalium, dan unsur lainnya harus diketahui sebelum menentukan perlakuan terhadap lahan,” katanya.

Ia menjelaskan, hasil analisis tanah menjadi dasar dalam menentukan jenis pupuk dan nutrisi yang dibutuhkan tanaman. Berdasarkan hasil tersebut, tim USK merekomendasikan penggunaan pupuk organik dan pupuk NPK sesuai kondisi lahan.

“Prinsipnya sederhana. Tanaman membutuhkan nutrisi yang cukup untuk tumbuh. Jika kebutuhan nutrisinya tidak terpenuhi, pertumbuhannya tidak akan optimal. Karena itu, rekomendasi pemupukan harus berdasarkan hasil analisis tanah, bukan sekadar perkiraan,” ujarnya.

Selain kesuburan tanah, ketersediaan air juga menjadi perhatian tim pendamping. Menurut Rina, sejak awal pihaknya mendorong penyediaan sumber air karena menjadi faktor penting dalam budidaya bawang merah.

“Alhamdulillah, di lokasi ini sudah dibangun sistem penyiraman menggunakan sprinkler. Teknologi ini membantu memastikan kebutuhan air tanaman tetap terpenuhi selama masa pertumbuhan,” katanya.

Rina menuturkan, kondisi lahan bekas banjir memang berbeda dengan lahan pertanian pada umumnya. Tanah timbunan memiliki kandungan unsur hara yang lebih rendah, sementara lapisan tanah di bawahnya telah memadat akibat lama terendam banjir.

Karena itu, menurutnya, tanaman hortikultura seperti bawang merah dan cabai lebih sesuai dikembangkan dibandingkan tanaman berkayu yang memiliki sistem perakaran lebih dalam.

“Tanah timbunan masih bisa dimanfaatkan untuk pertanian, tetapi memerlukan perlakuan khusus. Pemupukan harus dilakukan secara berkelanjutan pada setiap musim tanam agar produktivitasnya tetap terjaga,” jelasnya.

Ia menambahkan, tim USK juga mendampingi petani dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman. Monitoring dilakukan secara rutin agar serangan penyakit dapat segera ditangani sebelum menyebar ke seluruh areal tanam.

Menurut Rina, keberhasilan budidaya bawang merah di lahan bekas banjir ini akan dievaluasi melalui pengukuran produktivitas setelah panen.

Tim USK akan menghitung hasil produksi per petak sampel dan mengonversinya menjadi produktivitas per hektare sebagai bahan evaluasi sekaligus acuan pengembangan lahan pascabencana di daerah lain.

“Harapan kami, model pengelolaan lahan berbasis analisis tanah seperti ini dapat menjadi contoh dalam memulihkan lahan pertanian yang terdampak bencana, sehingga petani dapat kembali berproduksi dan memperoleh hasil yang optimal,” tutupnya. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER