Entaskan Kemiskinan, Investasi Aceh Harus Diarahkan ke Sektor Produktif

    BERBAGI
    ILUSTRASI. Usai meresmikan ASIA Mart, Nova Iriansyah, saat itu menjabat Plt Gubernur Aceh, melihat salah satu produk berbahan baku serat sabut kelapa milik pengusaha, M. Jamil ZA, yang juga pengurus ASIA Aceh, Sabtu (11/7/2020). (Foto/Ist)

    Banda Aceh (Waspada Aceh) – Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Aceh, Achris Sarwani, menyampaikan potensi hasil ekonomi suatu daerah itu dapat diperoleh dari CIG, yaitu Consumsi, Investasi, dan Goverment.

    Tantangan ekonomi yang dihadapi oleh Provinsi Aceh, kata Achris Sarwani, yaitu ketergantungan bahan pangan dari provinsi lain yang masih tinggi serta permasalahan kemiskinan dan pengangguran.

    “Aceh masih sangat tergantung dari pengeluaran, kita lebih banyak membeli, dari pada mengekspor. Banyak membeli bukan berarti kaya, artinya tidak mampu menghasilkan dari daerah sendiri,” kata Kepala BI Aceh itu pada acara penyampaian release Realisasi Investasi Aceh tahun 2020 di kantor DPMPTSI Aceh di Banda Aceh, Kamis (25/2/2021).

    Achris mengatakan, saat ini banyak produk yang dibutuhkan Aceh yang dihasilkan dari luar daerah, yakni dari Provinsi Sumatera Utara. Menurutnya Aceh perlu menggiatkan sektor produktif.

    Sektor Industri

    Sebelumnya Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DMPTSP) Aceh, telah merilis data realisasi investasi Aceh dari bulan Januari-Desember 2020 senilai Rp9.1 triliun.

    Plt Kepala Dinas DPMPTSI Aceh, Marthunis, Kamis (25/2/2021), mengatakan, jumlah invertasi tersebut mampu menyerap tenaga kerja 4.715 orang dari 675 proyek investasi.

    Berdasarkan data tersebut realiasisasi investasi triwulan IV 2020 berdasarkan sektor bidang usaha, untuk investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) proyek konstruksi mendominasi, yakni sebanyak 105 proyek. Sementara itu Penanaman Modal Asing (PMA) pada triwulan IV 2020, didominasi investasi unit usaha listrik, gas dan air sebanyak 20 proyek dengan investasi sebesar USD15.383.890 atau sekitar Rp215,3 miliar.

    Plt Kepala DPMPTSI Aceh, Marthunis mengatakan, investasi perlu diarahkan pada kebijakan pengentasan kemiskinan di Aceh.

    “Ini menjadi PR bagi kita, bahwa investasi perlu kita arahkan ke sektor hilirisasi industri. Ke depan target kita lebih menyasar industri pengolahan,” ungkap Marthunis.

    Marthunis menjelaskan dalam investasi di sektor industri ini sangat konsen pada efisiensi, terutama produktivitas tenagakerja.

    “Industri pengolahan itu banyak tantangannya. Harus konsen dan efisien. Jadi perlu efektifitas tenaga kerja, apakah ada illegal tax, pungli juga regulasi lainnya,” ucap Marthunis.

    “Untuk menarik investor di sektor pengolahan, syaratnya kita harus membuat efisiensi, juga dukungan dari masyarakat. Selain itu tenagakerja kita perlu meningkatkan keahliannya,” ungkapnya. (Cut Nauval Dafistri)

    BERBAGI