Beranda Disbudpar Aceh Ekowisata Aceh Jaya, Asyiknya Bermain Bersama Gajah di CRU Sampoiniet

Ekowisata Aceh Jaya, Asyiknya Bermain Bersama Gajah di CRU Sampoiniet

BERBAGI
Jurnalis Waspadaaceh.com, Cut Nauval Dafistri, sedang bermain gajah di CRU Sampoinit. (foto/ist).

““Desa yang tersebar di sejumlah daerah dalam provinsi ini memiliki banyak potensi wisata. Jika dikembangkan atau dikemas menjadi ekowisata bisa menjadi daya tarik wisatawan lokal, nusantara dan mancanegara berkunjung ke desa”

— Kadisbudpar Aceh Jamaluddin —

Isabella mulai membenamkan tubuhnya di Krueng Ligan, Aceh Jaya, persis di belakang basecamp ekowisata CRU Sampoinet. Gajah ini tampak sangat patuh mengikuti instruksi dari sang Mahout.

“Duduk-duduk!”. Aba-aba sang mahout (pawang) yang sedang memandikan Isabella. Terdengar suaranya lantang seperti sedang marah. Namun meski begitu kasih sayang sang mahout kepada gajah yang dirawatnya itu sangatlah terjalin erat.

Pada Minggu (20/3/2022), jurnalis Waspadaaceh.com berkunjung ke Conservation Response Unit (CRU) itu sebagai salah satu tempat konservasi dan penempatan gajah jinak di Aceh.

Jurnalis pun bergegas turun ke sungai untuk ikut bermain dan memandikan Isabella dengan menyikat dan menyiram bagian tubuhnya. Sesekali Isabella ikut bermain, menyemburkan air melalui belalainya yang panjang.

Pengunjung tidak lupa mengabadikan moment berfoto bersama Isabella sambil memeluk belalainya. Usai memandikan Isabella, jurnalis ikut menunggangi Isabella sambil berkeliling di sekitaran Basecamp CRU untuk mencari makan.

“Gajah itu suka jenis palman, rumputan, dan tanaman yang bergetah putih,” tutur mahout bernama Milin.

Dihuni Tiga Ekor Gajah

Isabella, merupakan satu dari tiga gajah yang ada di pusat konservasi gajah ini. hewan mamalia berjenis kelamin betina ini berusia lebih dari 38 tahun.

Saat ini, CRU Sampoinet dihuni oleh tiga ekor gajah, yakni Isabella yang paling tua dari ketiga gajah di sana, berusia 38 tahun, gajah jantan yang memiliki tubuh dan gading paling besar bernama Aziz, berusia 33 tahun, dan Johanna, betina 23 tahun.

Di sana, mamalia bertubuh besar tersebut dibimbing oleh para mahout, Ranger dan tim CRU lainnya. Tiga gajah inilah garda terdepan di CRU Sampoinit dalam meredakan konflik gajah dengan manusia.

Lokasi konservasi gajah ini terletak di Gampong Ie Jereungeh, Kecamatan Sampoinit Aceh Jaya. Berjarak 110 Kilometer dari Kota Banda Aceh, ibukota Provinsi Aceh, ke simpang menuju lokasi. Selanjutnya dari simpang jalan besar masuk ke lokasi, berjarak 18 Kilometer. Dari Kota Banda Aceh, hampir membutuhkan waktu tiga jam sampai di lokasi, menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat. 

Jurnalis Waspadaaceh.com, Cut Nauval Dafistri, sedang menunggangi seekor gajah di CRU Sampoinit. (foto/ist).

Didukung Alam yang Asri

Wisatawan lokal maupun mancanegara yang berkunjung dari arah Banda Aceh, akan lebih dulu disuguhkan dengan keindahan alam Tepatnya di puncak Gunung Geurutee.

Suasana masih alami atau asri, dengan pepohonan rimbun juga dialiri sungai dan jauh dari hiruk-pikuk suasana kota.

Di pusat konservasi gajah di Sampoiniet ini, memandikan gajah adalah sebagai sensasi berwisata bagi pengunjung. Biasanya jadwal memandikan mamalia berbelalai panjang ini setiap pagi dan sore.

Mahout Milin mengatakan, kegiatan memandikan gajah ini juga sebagai cara mengedukasi masyarakat untuk mengenal lebih dekat tentang gajah. Bertanya seputar seluk beluk dan kehidupan gajah, manfaat dari adanya gajah, sehingga gajah tersebut harus dilindungi.

Leader CRU Sampoiniet, Samsul Rizal mengatakan, sejak COVID-19 melanda, lokasi ekowisata ini sempat tutup, tak ada wisatawan yang berkunjung. Namun sejak Februari 2022 mulai dibuka kembali.

Kata Rizal peran adanya CRU juga sebagai alat pemberdayaan perekonomian masyarakat pinggir hutan yang berkawasan konservasi.

“Dengan adanya CRU yang menjadi ekowisata satwa, semakin meningkatkan kunjungan wisatawan ke sini. Ini juga berdampak bagi ekonomi masyarakat sekitar. Misal yang punya usaha jualan, di CRU tidak ada pedagang kuliner. Otomatis pengunjung sebelum ke sini singgah dulu untuk membeli bekal di warung warga sekitar,” tuturnya.

Di lokasi ini juga sangat strategis untuk berkemah menikmati suasana alam dan bermain bersama gajah-gajah di sana.

Kata Rizal, setelah Hari Raya Idul Fitri ini juga sudah mulai ramai wisatawan yang berkunjung untuk mengisi hari libur. Untuk itu dia berharap agar ekowisata ini semakin terekspos dan lokasi ini terus dikembangkan potemsi pariwisatanya.

Gajah Berperan Bagi Ekosistem

Gajah sebagai penyeimbang ekosistem di alam. Gajah disebut dengan spesies payung (umbrella species). Disebut sebagai spesies payung, karena gajah merupakan hewan yang memiliki daerah jelajah sangat luas.

Dengan jelajahnya yang sangat luas maka pada lintasannya dia mampu menyebarkan benih-benih tanaman, sehingga sangat berperan untuk reboisasi.

Perburuan dan perusakan habitat merupakan ancaman nyata kehidupan gajah saat ini.

Tingginya konflik gajah dengan manusia menyebabkan semakin banyak jumlah gajah yang terbunuh, untuk diambil gadingnya atau terkena jerat yang sengaja dipasang agar gajah tidak memasuki kawasan perkebunan.

Peran CRU sebagai Mitigasi Konflik

Masuknya gajah ke daerah pemukiman menyebabkan rumah warga menjadi rusak. Warga yang marah kerap kali melampiaskan emosinya ke gajah tersebut, dan berujung pada kematian gajah.

Maka dari itu, peran CRU ini mencoba memitigasi konflik yang terjadi dengan mengedukasi masyarakat setempat agar angka kematian gajah terus berkurang.

“Gajah sebetulnya tidak akan berkonflik dengan manusia, kalau bukan manusia itu sendiri yang menciptakan konflik,” tuturnya.

Rizal menyebutkan, konflik gajah dan manusia itu biasanya terjadi karena manusia membuka lahan begitu luas hingga mengakibatkan habitat gajah rusak. Karena merasa terancam gajah akan secara otomatis berusaha mempertahankan habitat untuk kehidupannya. 

“Gajah punya kebiasaan menjelajahi wilayah yang sama dengan selang waktu tertentu. Ingatan gajah sangat tajam, ia bisa mengingat daerah jelajahnya,” tutur Rizal.

Dengan begitu, gajah pasti berhadapan dengan manusia yang telah merambah dan
membongkar daerah jelajahnya.

Samsul Rizal mengatakan tentang ekowisata. Tujuan utama didirikannya CRU ini adalah untuk menjaga kelestarian baik flora maupun fauna yang ada. Terutama memastikan kawanan gajah sumatra yang sekarang terancam punah agar tetap hidup dan dapat mempertahankan keturunannya dengan baik.

Ekowisata yang berdiri sejak 2008 ini memang sangat dijaga keasrian alamnya. Lanskapnya begitu beragam dan dapat juga ditemui sungai, lembah, air terjun, gua-gua alam, dan tebing. Tak heran selain gajah, pengunjung juga akan bertemu satwa liar lainnya.

Selain melatih gajah-gajah, mahout di CRU ini juga berpatroli ke hutan. Biasanya dilakukan sekali dalam seminggu. Berpatroli untuk mengawasi adanya gajah liar yang masuk ke perkampungan atau perkebunan warga serta membuka jalan baru.

Setiap gajah mendapatkan perawatan serta perhatian penuh dari para mahout. Pemeriksaan chek up rutin 3 bulan oleh dr hewan dari BKSDA. Dalam kegiatan chek up ini biasanya dokter hewan memberikan vitamin, obat obatan yang diperlukan dan vaksin tetanus bila dibutuhkan.

Disbudpar Aceh Pacu Ekowisata

Sangat asyik menikmati ekosistem tanpa merusak dan mengetahui betapa pentingnya semua komponen kehidupan meski hewan atau tumbuhan kecil sekalipun.

Potensi wisata di setiap kabupaten dan kota di Aceh cukup besar dan memiliki keunggulan masing-masing. Sebagai contoh Kabupaten Aceh Jaya memiliki banyak potensi wisata yang bisa dikembangkan, kata Kepala Disbudpar Aceh Jamaluddin.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Jamaluddin, bersama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno. (Foto/Ist)

Ekowisata merupakan salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial, dan budaya.

Jamaluddin mengatakan kegiatan pariwisata tersebut juga dapat mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan di desa.

Dengan mengembangkan ekowisata, selain dapat memaksimalkan pemanfaatan potensi desa, juga bisa mengurangi dampak negatif pada lingkungan dan budaya.

“Desa yang tersebar di sejumlah daerah dalam provinsi ini memiliki banyak potensi wisata. Jika dikembangkan atau dikemas menjadi ekowisata bisa menjadi daya tarik wisatawan lokal, nusantara dan mancanegara berkunjung ke desa,” tuturnya.

Menurutnya, menggalakkan ekowisata juga sekaligus sebagai upaya meningkatkan pelestarian lingkungan yang berkelanjutan, serta menciptakan keseimbangan manfaat ekonomi dan pelestarian budaya dan alam sekitar desa. (Adv)

BERBAGI