Beranda Profil Ekonom Unsyiah Prof Dr Nasir Azis: Bila Ekonomi Daerah Tumbuh, Resesi Tidak...

Ekonom Unsyiah Prof Dr Nasir Azis: Bila Ekonomi Daerah Tumbuh, Resesi Tidak Terjadi

BERBAGI
Ekonom dari Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Prof Dr Nasir Azis, SE, MBA. (Foto/Ist)

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Ekonom dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Aceh, Prof Dr Nasir Azis, mengakui adanya tanda-tanda atau gejala terjadinya resesi ekonomi di Indonesia. Namun menurutnya, jika prekonomian daerah tumbuh, resesi tidak akan terjadi malah akan terjadi sebaliknya, terjadi kebangkitan.

“Secara teori memang seperti itu. Artinya jika terjadi penurunan (minus) pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang akan terjadi resesi ekonomi. Dan jika terjadi terus malah akan terjadi depresi ekonomi,” kata Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unsyiah Prof Dr Nasir Azis kepada waspadaaceh.com, Senin (31/8/2020).

“Jadi sangat dinamis menurut saya, jangan terlalu cepat memvonis resesi. BPS meliris bahwa kwartal 2 pertumbuhan negatif dan kwartal 3 berada di bulan September nanti,” ujarnya.

Dia menilai memang kondisi sekarang berbeda dengan krisis di tahun 1998. Apalagi saat ini kondisi ekonomi terpuruk karena pandemi COVID-19.

“COVID-19 menyebabkan supply dan demand tidak bergerak sama sekali sehingga ekonomi tidak berjalan normal. Ini terjadi di seluruh dunia, tidak hanya di satu atau dua negara saja. Jadi sederhana saja ekonomi tidak berjalan karena tidak ada supply dan juga kurang demand,” ungkapnya.

Dia membandingkan bahwa krisis 1998 UMKM masih bisa bertahan dan beroperasi, namun saat ini dalam kondisi COVID-19 UMKM juga terkena dampaknya, bahkan banyak yang tidak bisa berproduksi (menutup usahanya). Melihat kondisi saat ini, agar tidak terjadi resesi, cara mengatasinya antara lain, pemerintah harus berperan membantu stimulus ekonomi melalui bantuan langsung terutama kepada masyarat bawah.

“Secara psikologis sebenarnya pemerintah tidak boleh bilang resesi. Karena akan berdampak pada prilaku pasar. Tapi memang situasi COVID ini berat ekonomi tumbuh,” tegasnya.

Sebelumnya, diberitakan akhirnya pemerintah mengakui bahwa Indonesia berada di ambang resesi ekonomi sebagai dampak dari pandemi virus Corona atau COVID-19 yang melanda hampir seluruh dunia, termasuk tanah air.

Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Polhukam), Mahmud MD, mengisyaratkan Indonesia masuk ke jurang resesi ekonomi pada kuartal ketiga ini. Pertumbuhan Ekonomi RI sudah terkontraksi hingga minus 5,32 persen pada kuartal II 2020.

Resesi ekonomi terjadi apabila sebuah negara mengalami pertumbuhan negatif dalam dua kuartal berturut-turut.

“Bulan depan, hampir dapat dipastikan 99,9 persen akan terjadi resesi ekonomi di Indonesia,” ujar Mahfud sebagaimana dikutip dari Antara, Senin (31/8/2020).

Mahfud memprediksi, pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi di rentang minus 0,5 persen hingga 2,2 persen. Namun, dia mengimbau masyarakat tidak perlu panik lantaran resesi ekonomi bukan berarti krisis.

“Tapi resesi itu bukan krisis,” katanya.

Selain itu, dia menegaskan pemerintah telah mengantisipasi kondisi tersebut. Salah satunya, dengan menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 82 Tahun 2020 tentang Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional. (sulaiman achmad)

BERBAGI