Beranda Opini Catatan Ketua Ombudsman Aceh Ketika Terpapar COVID-19, “Sakit dan Menyedihkan”

Catatan Ketua Ombudsman Aceh Ketika Terpapar COVID-19, “Sakit dan Menyedihkan”

BERBAGI
Taqwaddin ketika menjenguk istrinya saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, setelah dinyatakan positif COVID-19. (Foto/Facebook)

“Dalam kondisi masih kurang fit saya menemui istri di ruang observasi IGD RSUZA. Saya tidak bisa menahan untuk tidak menangis menyaksikan beratnya rasa sakit yang sedang dialami istri” 

————–

Saat saya menulis catatan ini, saya dan istri masih berstatus positif COVID-19. Ini menjadi tulisan pengalaman pribadi, bukan analisis ilmiah berdasarkan literasi.

Bagi mereka yang belum pernah merasakan diserang COVID-19, terkesan menyepelekan dan menganggap remeh dengan eksistensi Covid. Tidak peduli, cuek, batat tungang, bahkan mengganggap Covid sebagai ilusi dan hoax.

Anjuran prokes (protokol kesehatan) hanya terpaksa dilakukan untuk melepaskan diri dari razia aparat. Jadinya, tak ada razia tak ada prokes.

Padahal, untuk mengawasi penerapan prokes ini pemerintah sudah all-out, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, hingga pemerintah kabupaten/kota. Namun faktanya masih begitu banyak orang yang tidak memakai masker, tidak mencuci tangan, dan masih berkerumun.

Mengapa bangsa kita saat ini payah sekali untuk patuh pada pemerintah? Masalah ini ada di pemerintah atau di rakyat?

Masalah larangan mudik, misalnya. Esensinya adalah untuk menghindari kerumunan. Saya memaklumi kebijakan ini. Apalagi jika dikaitkan dengan amanah konstitusi untuk pemerintah, yang tegas menyebutkan bahwa dibentuknya pemerintah, pertamanya adalah untuk melindungi segenap bangsa. (Lihat Alinea IV Pembukaan UUD 1945). Sehingga kebijakan larangan mudik dalam rangka melindungi warga bangsa dapat dimaklumi karena sesuai dengan amanah konstitusi.

Namun masalahnya, kebijakan tersebut telah menimbulkan kontra produktif di sektor jasa transportasi. Seharusnya ini masa panen besar bagi kalangan sopir, kernet, ekerja terminal, dan tentu saja para pengusaha armada.

Tetapi kali ini, karena alasan kedaruratan kesehatan, maka mereka dipaksa untuk tidak berproduksi. Tentu sangat dimaklumi, jika konsekuensi dari kebijakan ini, bahwa semua para aktivis jasa transportasi berhak mendapatkan kompensasi dari negara atau daerah.

Setahu saya yg awam, refocusing anggaran Aceh (APBA) untuk Covid begitu besar. Walaupun saya tidak tahu detail rincian penggunaannya. Secara gelondongan, dana Covid tersebut pada tahun 2020 mencapai Rp2,5 triliun. Penggunaannya untuk tiga bidang, yaitu 1. Kesehatan, 2. Ekonomi, dan 3. Jaring pengaman sosial.

Artinya, dananya ada dan boleh digunakan. Jika demikian, maka wajar juga perlu ada kebijakan tambahan terkait larangan mudik, yaitu kebijakan kompensasi insentif bagi aktifis usaha jasa transportasi di Aceh.

Seandainya kebijakan ini ada, saya yakin pihak pengelola jasa transportasi, mulai dari kernet, sopir, awak bangku, dan seterusnya hingga ke pengusaha pemilik armada pasti akan bahagia gembira. Mereka akan merasakan bahwa negara hadir juga untuk mereka. Ini tentu akan berbuah manis.

Sisi lain, mudik dilarang. Sementara di pasar-pasar tampak warga dibiarkan berkerumun. Ini dilematis juga. Jika inipun dilarang maka perlu juga ada kebijakan insentif untuk para aktivis sektor tersebut. Berat memang menjadi pejabat pemerintah. Tapi jangan pernah menyerah. Lakukan yang terbaik untuk melindungi rakyat.

Mengimplementasikan kebijakan “di rumah saja,” (stay at home), hemat saya, sudah sesegera mungkin harus dilakukan. Pembatasan keluar rumah sudah mulai bisa dilakukan untuk per-14 hari. Upaya ini bisa mencegah penularan virus COVID-19.

Isolasi atau PSBB atau lockdown gampong pun boleh lagi dilakukan. Info yang saya dapatkan barusan bahwa angka terpapar COVID-19 semakin hari semakin meningkat di berbagai provinsi di Indonesia, termasuk di Aceh. Maka berbagai upaya taktis dan strategis harus dilakukan oleh pemerintah dalam rangka melindungi rakyatnya. Sekalipun banyak pula rakyat yang sepertinya “menolak” untuk dilindungi.

Sakit dan Menyedihkan

Kembali ke judul di atas, saya ingin menyampaikan bahwa usahakan semaksimal mungkin agar Anda tidak sampai terkena Covid. Sakit dan menyedihkan. Berikut di bawah ini saya ceritakan bagaimana sakit dan menyedihkannya.

Saat terasa terpapar, walaupun belum Swab PCR, badan mulai terasa lelah dan lemah. Ketika itu saya dalam perjalanan pulang dinas dari luar kota.

Perasaan saya, penyebab terpaparnya saya dengan virus jahat ini karena kondisi tubuh saya kurang fit saat melakukan perjalanan luar kota. Seingat saya sudah hampir seminggu itu, saya tidak makan buah-buahan yang lazim saya konsumsi, mangga dan jeruk.

Entah mengapa saya abai saat itu. Ditambah lagi saya juga alpa membawa dan minum multivitamin yang sudah biasa saya tengguk sejak tahun 2000 lalu. Padahal persediannya masih ada. Itulah kealpaan yang mengakibatkan antibodi saya melemah.

Intinya, sangat diperlukan kebugaran dan daya tahan tubuh untuk menghadapi virus ini. Jika lemah maka kita kalah dan sakit.

Sakitnya kira-kira begini. Saya merasakan demam tinggi, batuk-batuk, dan pegal-pegal alias kuweut yang tiada terkira. Sementara istri saya lebih parah lagi. Selain sakit seperti saya, beliau ditambah lagi dengan mual-mual, muntah-muntah, dan sakit kepala yang amat sangat.

Biasanya kami cukup berobat di klinik di Darussalam Banda Aceh. Tetapi kali ini, obat dari klinik tersebut tidak mempan.

Pada 5 Mei 2021, pukul 04.00 WIB pagi, anak-anak membawa ibunya ke RSU Price Nayef USK. Alhamdulillah. Penanganannya cepat. Tetapi setelah beberapa botol diinfus, ternyata kondisi sakitnya tidak berkurang. Sakit kepalanya masih kuat sekali.

Lalu dokter jaga di RSU USK memberi saran agar ibu dibawa ke dokter spesial syaraf dan dirujuk ke RSUZA karena ini terkait kepala. Sementara saya di rumah karena sedang demam tinggi juga.

Lalu pukul 16.00 WIB sore, hari itu juga anak menantu membawa ibunya konsul ke Dr Syahrul, SpS, di Klinik Dokter Spesialis Cempaka Lima. Sesampai di sana diterima Dr Syahrul dan segera dirujuk ke IGD RSUZA. Alhamdulillah, pelayanan paramedis juga bagus, yang penting para pasien harus sabar.

Istri saya diinfus dan diberi obat suntik, ditest antigen dan Swab PCR. Hasil kedua test tersebut Positif. Rasa sakit yang diderita istri saya sangat luar biasa. Seperti ada serangga yang sedang menggoroti bagian dalam kepala istri saya. Ditambah lagi dengan mual-mual dan muntah-muntah yang tiada henti.

Besok sorenya, dalam kondisi masih kurang fit saya menemui istri di ruang observasi IGD RSUZA. Saya tidak bisa menahan untuk tidak menangis menyaksikan beratnya rasa sakit yang sedang dialami istri. Sore itu datang Dr Syahrul, SpS ke IGD dan menyampaikan pada saya bahwa istri Positif Covid. Harus segera dipindahkan ke Ruang Khusus Perawatan Covid, yaitu Pinere RSUZA.

Mendengar nama Pinere, saya langsung down, lunglai. Tapi tak bisa berbuat apa-apa. Sementara saya dan anak-anak, termasuk menantu, diharuskan test Swab PCR oleh Dr Syahrul (Mantan Dirut RSUZA). Kami semua diswab. Hasilnya, saya juga Positif. Sedangkan ketiga anak kami negatif, begitu juga menantu juga negatif.

Isteri masuk Pinere RSUZA, saya pulang ke rumah untuk isolasi mandiri. Kami terpisah sementara ini.

Kisah menyedihkan kalau terkena Covid, apalagi jika dirawat di RS dan tidak boleh dijenguk. Bukan seperti sakit yang lainnya, ketika menjenguk orang sakit, kadangkala para tamu datang dan membuat hal-hal lucu, sehingga pasien merasa terhibur.

Pasien Covid diisolasi. Terisolasi dari masyarakatnya, bahkan keluarganya sendiri. Tidak bisa ketemu cucu, inilah hal berat yang menyedihkan bagi kami. Tidak bisa ketemu kawan-kawan, tidak boleh dikunjungi sanak saudara, bahkan hanya boleh dijaga oleh satu orang saja yang tak boleh berganti, hal menyedihkan.

Kesedihan yang lebih berat lagi adalah tinggalnya puasa Ramadhan beberapa hari, yang belum tentu Ramadhan depan diizinkan Allah ketemu lagi. Malah apabila pada masa awal-awal banyak buruk sangka yang dialamatkan kepada pasien Covid, yang membuat pasien Covid semakin sedih. Bagaikan sudah jatuh, ketimpa tangga.

Tapi Alhamdulillah, saya tidak begitu merasakan hal ini. Pihak Puskesmas Darussalam menghubungi saya dan berkunjung. Juga pihak Koramil, Babinsa juga mengunjugi walau kami berbicara secara berjauhan. Terima kasih atas simpatinya. Terima kasih juga untuk Bapak Teuku Ahmad Dadek yang mewakili Pemerintah Aceh memberikan saya satu kotak suplemen penguat untuk memperkuat antibodi.

Alhamdulillah kami tidak merasa begitu terisolasi karena saya menuliskan isi hati ini di media sosial, dan mendapatkan dukungan doa dari banyak teman. Baik yang di Aceh, luar Aceh, bahkan luar negeri. Ini bisa sedikit mengobati kesedihan.

Mengakhiri catatan ini, saya mengajak semua sahabat agar memperkuat daya tahan tubuh dan laksanakan protokol kesehatan agar tidak sampai terkena Covid. Patuhi anjuran pemerintah. (Dr Taqwaddin)