Banda Aceh (Waspada Aceh) – Seorang pasien Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, Yismanila (45) Warga Aceh Barat, mengalami kebutaan pada mata kanannya setelah menjalani prosedur embolisasi untuk mengatasi tumor pembuluh darah di hidungnya.
Keluarga pasien menduga ada malpraktek yang dilakukan oleh dokter yang menangani kasusnya.
Direktur RSUDZA dr Isra Firmansyah mengatakan, pihaknya masih melakukan proses investigasi untuk mencari penyebab kejadian tersebut.
“Kita masih berproses berlangsung mengejar kebenarannya. Apa kausal penyebabnya. Sedang saya kumpulkan informasinya,” kata Isra yang diterima waspadaaceh.com, Senin (19/2/2024).
Isra menjelaskan, pihaknya juga mengumpulkan spesialisasi yang terlibat dalam tindakan operasi Yismanila
Menurutnya, yang mengerjakan operasi tersebut adalah subspeasialis semuanya.
“Kita akan mendengarkan penjelasan mereka satu persatu bagaimana kronologisnya, efek sampingnya, apakah komplikasi dari penyakit itu sendiri karena penyakit tumornya berulang,” ujar Isra.
Isra mengaku, Yismanila sudah pernah dioperasi sebelumnya karena tumor. “Dulu kalau tidak salah saya sudah pernah dioperasi. Ini berulang, rekuren. Saya sedang mencari data dengan pihak terkait. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa dapat jawabannya,” tutur Isra.
Sebelumnya diberitakan, Yismanila
menderita tumor pembuluh darah di hidung sejak 2022 dan pernah dioperasi di RSUDZA Banda Aceh. Namun, penyakitnya kambuh lagi pada akhir 2023, sehingga ia kembali berobat ke rumah sakit yang sama.
“Awalnya berobat jalan. Setelah melalui semua proses pemeriksaan dan dijadwalkan operasi pada Selasa, 13 Februari 2024, selanjutnya disuruh rawat inap mulai Senin,” kata Azhar keluarga Yismanila.
Namun, pada Senin pagi, Azhar menceritakan ada dokter koas yang datang bersama dokter pembimbingnya dan membawa Yismanila ke sebuah ruangan. Di sana, dokter pembimbing menjelaskan materi kepada dokter koas sambil mengorek dan mencokel hidung Yismanila. Akibatnya, hidungnya berdarah secara terus menerus.
“Keluarnya darah kurang lebih satu botol air mineral atau sekitar setengah liter. Operasi yang sudah dijadwalkan terpaksa dibatalkan karena takut terjadi pendarahan saat operasi,” ujar Azhar.
Keesokan harinya, kata Azhar, tim dokter memutuskan untuk melakukan embolisasi, yaitu penyumbatan suatu pembuluh darah, melalui selang dari pangkal paha ke otak. Prosedur ini bertujuan untuk menutup kuncup darah agar tidak terjadi pendarahan saat operasi.
“Operasi kecil itu dilakukan mulai habis magrib hingga pukul 23.00 WIB malam. Tapi setelah itu, pasien mengalami muntah-muntah hebat hingga setengah sadar. Kedua matanya tidak bisa dibuka, saya pikir mungkin karena pengaruh obat,” kata Azhar.
Namun, ternyata perkiraannya salah. Setelah sadar sekitar pukul 04.00 WIB, mata kanan Yismanila tidak bisa melihat lagi. Azhar menduga ada kesalahan yang dilakukan oleh dokter saat melakukan embolisasi. (*)