Beranda Aceh BKSDA Akan Tambah 20 Km Kawat Kejut di Pidie Cegah Konflik Gajah...

BKSDA Akan Tambah 20 Km Kawat Kejut di Pidie Cegah Konflik Gajah – Manusia

BERBAGI
Suasana rapat koordinasi penanggulangan konflik gajah dengan manusia melalui inisiatif koridor hidup liar di Oprom Kantor Bupati Pidie, Selasa (8/3/2022). (Waspada/Muhammad Riza)

Sigli (Waspada Aceh) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Aceh akan memasang penghalau (barrier) jenis kawat kejut sepanjang 20 Km di beberapa titik berintensitas tinggi konflik gajah liar dengan manusia di Kabupaten Pidie.

BKSDA Aceh juga akan memasang kalung GPS pada kawanan gajah liar yang hidup berkelompok di sejumlah kawasan di daerah tersebut.

“Pemasangan kawat kejut ini merupakan program lanjutan. Sebelumnya di Pidie juga sudah dipasang kawat kejut di beberapa kawasan,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pidie, Firman Maulana, Selasa (8/3/2022).

Pernyataan itu disampaikan Firman Maulana usai menghadiri acara rapat koordinasi penanggulangan konflik gajah dengan manusia melalui inisiatif koridor hidup liar di Oprom Kantor Bupati Pidie.

Acara itu dibuka Wakil Bupati Pidie, Fadhlullah TM Daud, dihadiri Kepala BKSDA Aceh, Agus Arianto, Kabag Tata Pemerintahan Kabupaten Pidie, Almanza, dan sejumlah pejabat terkait lainnya.

Kepala BKSDA Aceh, Agus Arianto, usai menghadiri rapat itu, menuturkan tidak ada solusi tunggal dalam penanganan konflik satwa liar dengan manusia. Namun kata dia, tahun ini ada beberapa penanggulangan yang dilakukan, di antaranya pemasangan 20 Km kawat kejut dan pemasangan GPS solar di beberapa kawasan di Kabupaten Pidie.

“GPS solar ini untuk mendeteksi pergerakan dari gajah liar,” katanya.

Sebelumnya sudah dipasang GPS solar pada satu ekor gajah liar di kawasan Mila, yang jalurnya ke Seumileuk. Pada tahun ini akan dipasang GPS solar pada kelompok gajah liar yang ke arah Blang Rawe.

Wakil Bupati Pidie, Fadhlulah, menyambut baik adanya rapat koordinasi penanggulangan konflik gajah liar dengan manusia melalui inisiatif koridor hidup liar.

Menurut dia, persoalan konflik gajah liar dengan manusia intensitasnya sangat tinggi di Pidie. Jadi karena sesuai dengan kewenangannya, maka dalam rapat koordinasi tersebut diundang semua keuchik (kepala desa) dan camat yang memang terdampak konflik tersebut.

“Ada kebun keluarganya yang sudah rusak akibat konflik. Kan mereka itu rata-rata mengeluh semua karena ada taman di kebun yang dirusak, dan ini menjadi prihatin kita semua,” katanya.

Karena itu, kata Fadhlullah, Pemkab Pidie memfasilitasi dengan mengundang FFI, CRU Aceh, dan beberapa instasi terkait lainnya. Dalam rapat tersebut Fadhlullah menyambut baik program lanjutan BKSDA yang segara action melanjutkan pembangunan kawat kejut dan GPS solar. (b06)

BERBAGI