BerandaAcehBI: Kenaikan Harga Komoditas Global Jadi Peluang Ekspor Aceh

BI: Kenaikan Harga Komoditas Global Jadi Peluang Ekspor Aceh

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Kenaikan harga komoditas global pada 2026 berpotensi menjadi peluang bagi Aceh untuk meningkatkan ekspor, terutama komoditas unggulan seperti minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO), minyak dan gas (migas), serta hasil perkebunan lainnya.

Namun, peluang tersebut dibayangi risiko kenaikan harga pangan impor yang dapat menekan daya beli masyarakat dan memicu inflasi daerah. Ekonom Senior Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (DKEM) Bank Indonesia (BI), Anisha Wirasti Cahyaningrum, menjelaskan perekonomian global masih menghadapi ketidakpastian akibat konflik geopolitik dan disrupsi perdagangan.

“Kenaikan harga komoditas global dapat menjadi peluang bagi Aceh untuk memperoleh keuntungan dari perdagangan, terutama melalui komoditas unggulan yang selama ini menjadi andalan ekspor daerah,” kata Anisha dalam pemaparan prospek perekonomian global dan nasional serta dampaknya terhadap Aceh pada 2026, yang dipaparkan pada acara Aceh Economic Forum (AEF) 2026 di Balai Meuseruraya Aceh (BMA), Kamis (22/10/2026].

Pertumbuhan Global Melambat

Anisha memaparkan, pertumbuhan ekonomi global pada 2026 diproyeksikan berada di kisaran 3 persen, lebih rendah dibandingkan sekitar 3,5 persen pada 2025. Sementara itu, inflasi dunia diperkirakan meningkat menjadi sekitar 4 persen.

Kondisi tersebut dipengaruhi disrupsi perdagangan dan konflik geopolitik, termasuk di kawasan Timur Tengah, yang mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas.

Ketidakpastian global juga meningkatkan risiko arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia, seiring penguatan dolar Amerika Serikat dan perubahan kebijakan suku bunga negara-negara maju.

Meski demikian, perekonomian Indonesia dinilai masih menunjukkan ketahanan. Pertumbuhan ekonomi nasional tercatat 4,61 persen pada triwulan I 2026, kemudian meningkat menjadi 5,2 persen pada triwulan II.

Untuk keseluruhan 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan berada di kisaran 4,9–5,3 persen, ditopang konsumsi masyarakat, belanja pemerintah, investasi, dan ekspor.

Aceh Perlu Waspadai Inflasi Pangan

Di tengah peluang peningkatan ekspor, Aceh juga menghadapi tantangan dari kenaikan harga komoditas impor, terutama pangan. Jika tidak diantisipasi, kenaikan tersebut berpotensi meningkatkan biaya hidup masyarakat dan mengurangi daya beli rumah tangga.

“Peluang dari kenaikan harga komoditas perlu diimbangi dengan kewaspadaan terhadap risiko kenaikan harga pangan. Stabilitas harga dan ketersediaan pasokan menjadi faktor penting yang harus dijaga,” ujar Anisha.

Selain tekanan inflasi, perlambatan ekonomi global juga berpotensi memengaruhi permintaan pasar terhadap komoditas ekspor Aceh. Karena itu, daerah perlu memperhatikan perkembangan harga komoditas dan permintaan dari negara mitra dagang.

Menurut Anisha, koordinasi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) diperlukan untuk menjaga pasokan serta kelancaran distribusi bahan pangan.

BI Perkuat Kebijakan Stabilitas

Untuk menghadapi ketidakpastian tersebut, BI mengarahkan kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas makroekonomi, sementara kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran diperkuat guna mendukung pertumbuhan.

Dukungan likuiditas dan insentif bagi perbankan juga diarahkan untuk mendorong penyaluran kredit ke sektor-sektor prioritas. Di sisi lain, perluasan transaksi digital, termasuk penggunaan QRIS dan kerja sama pembayaran lintas negara, terus didorong.

“Sinergi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, perbankan, dan seluruh pemangku kepentingan penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi agar tetap berdaya tahan, stabil, dan inklusif,” kata Anisha.

Bagi Aceh, upaya tersebut diharapkan dapat membantu daerah memanfaatkan peluang perdagangan global sekaligus mengantisipasi tekanan inflasi dan risiko perlambatan ekonomi dunia. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER