Minggu, April 14, 2024
Google search engine
BerandaBegini Lika-liku Bisnis Narkoba di Pesisir Timur Aceh, Tekong Diupah Rp1 Juta/Kg 

Begini Lika-liku Bisnis Narkoba di Pesisir Timur Aceh, Tekong Diupah Rp1 Juta/Kg 

Mirisnya, anak-anak remaja ikut dikerahkan para bandar menjadi mata-mata. Bila ada aparat keamanan atau orang asing mengintai desanya, anak-anak itu segera bereaksi. Mereka memperlambat gerakan para petugas yang mengendus masuknya narkoba partai besar itu ke daratan.

Mengapa masalah narkoba tidak bisa tuntas di Aceh? Malah, semakin mengkhawatirkan, masuk dalam skala extra ordinary (luar biasa), yang harus menjadi perhatian sangat serius.

Bila tidak diatasi segera, masa depan generasi milenial Aceh bakal terancam. Soalnya, barang haram itu, sudah tidak asing lagi dengan keseharian anak-anak muda di provinsi yang menyandang gelar “Negeri Syariat” itu.

Pertanyaan di atas mulai terurai dari jawaban Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol Winardy ketika berkunjung dan berdiskusi dengan pengurus PWI Aceh, di aula kantor organisasi wartawan terbesar itu, di Simpang Lima, Banda Aceh, Kamis (7/1/2021).

Putra asal Palembang yang baru dua hari menjabat Kabid Humas Polda Aceh ini rupanya “katam” dengan liku-liku bisnis narkoba di Aceh.

Sebelum bertugas di Interpol sebagai Kasubbag Bankuminter Bagjatinter Divhubinter Polri, ayah tiga putri ini ternyata pernah setahun menangani kasus-kasus narkoba saat dia tugas BKO sebagai Katimsus Ditresnarkoba Polda Aceh.

Setahun di Direktorat Reserse Narkoba Polda Aceh, Winardy yang alumni Akademi Kepolisian 1998 bersentuhan langsung dengan bandar, kurir, nelayan yang dilibatkan oleh para mafia narkoba. Mereka bahkan melibatkan anak-anak remaja untuk ikut memuluskan bisnis haram tersebut.

BACA:
Polda Ungkap Jaringan Narkoba Internasional, Nova: Perlu Gerakan Masif
Kapolres Agara: Mari Perangi Narkoba Bersama-sama

Menurut Winardy, banyak warga khususnya para nelayan yang jadi “korban” perdagangan narkoba jaringan internasional. Nelayan yang disebut di sini adalah para tekong atau pawang, yang dimanfatkan keberaniannya menjemput barang (narkoba) di laut lepas, yakni di luar Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE).

“Tekong boat ini bersama co-pilot, mengarungi laut lepas dengan terpaan angin dan ombak ganas, sepanjang 150 mil dari bibir pantai di kawasan Aceh Timur,” ungkap Winardy.

Pada jarak 150 mil tersebut, kata Winardy, waktu tempuhnya mencapai 15 jam berangkat dan 15 jam berikutnya untuk waktu perjalanan pulang. Artinya, nelayan menghabiskan waktu 30 jam untuk mengambil narkoba (biasanya jenis shabu dan pil inex) dari bandar internasional di lautan bebas.

“Itu bila laut berombak. Tapi jika laut dalam keadaan tenang bisa dikurangi 2 jam menjadi 28 jam pergi-pulang,” ujar Kabid Humas Polda Aceh ini.

Besarnya resiko yang ditanggung tekong ini, ujar Winardy, sepadan dengan upah yang diterima dari bandar besar narkoba. Jika jemputan narkoba itu aman sampai daratan, imbalannya cukup menggiurkan.

Yakni upah sebesar Rp1 juta untuk setiap 1 Kg narkoba. Kalau berhasil menjemput 100 Kg, berarti nelayan bisa mendapat ubah besar mencapai Rp100 juta. Biasanya hasil itu dibagi dua dengan co-pilot, 50:50 atau masing-masing mendapat Rp50 juta/orang.

Jaringan lain, berdasarkan penggrebekan yang berhasil diungkap Ditresnarkoba Polda Aceh, lanjut Winardy, sampai di daratan, barang haram itu sudah ditunggu oleh kurir. Kurir ini mendapat imbalan sama seperti nelayan tadi, yakni Rp1 juta untuk 1 Kg narkoba.

Rantai lainnya, pemilik boat. Juga kebagian dana haram cukup besar, yakni Rp50 juta untuk sekali jemput Narkoba dari tengah Selat Malaka.

Harga narkoba dalam perdagangan internasional (asal Malaysia, dll) ini, menurut Kabid Humas Polda Aceh ini, untuk 1 Kg dibanderol Rp150 juta. Lalu, oleh bandar lokal (untuk konsumsi di Aceh) harganya naik menjadi Rp250 juta dan harganya lebih tinggi lagi ketika sampai di Medan.

“Bila dibawa ke Jawa, harganya menjadi dua kali lipat, yakni Rp500 juta/Kg,” ujar Winardy yang hadir di kantor PWI Aceh didampingi sejumlah staf Humas itu,

Selesai? Ternyata belum. Untuk meloloskan barang haram itu hingga bisa sampai ke kurir di Aceh, banyak yang ikut bermain. Menurut Kombes Pol Winardy, stategi para bandar narkoba ini melibatkan beberapa pihak.

Ada satu desa di Kabupaten Aceh Timur, yang lokasinya kerap dijadikan “pelabuhan” tikus oleh para bandar. Di daerah ini, masyarakat sepertinya sudah kompak alias telah berkomplot untuk “melindungi” bisnis haram ini.

Warga ini dimanfaatkan oleh para bandar sehingga pihak kepolisian kesulitan menangkap basah si nelayan mau pun kurirnya, ketika narkoba baru tiba dari tengah laut.

Mirisnya, ungkap Winardy, anak-anak remaja ikut dikerahkan oleh para bandar untuk menjadi mata-mata. Bila ada aparat keamanan atau orang asing yang mengintai desanya, anak-anak ini akan segera bereaksi. Mereka memperlambat gerakan para petugas yang mengendus masuknya narkoba partai besar itu ke daratan.

Polisi juga sering terkecoh, melihat anak-anak muda yang duduk di masjid atau mushalla/surau, yang seolah-olah sedang membaca kiab suci. Anak anak muda seusia siswa SMP dan SMA kelas satu ini, bisa bertahan lama duduk sambil mengawasi gerak-gerik aparat yang datang ke desanya.

“Kita sudah tunggu sekian lama, tapi anak anak muda ini tidak pernah beranjak. Bahkan anggota yang ‘merayu’ warga, kadang dilempar gayung dan jenis gangguan lainnnya. Hingga operasi kita selalu terganggu atau digagalkan dengan ikut andilnya pemuda- pemuda tadi,” cerita Winardy, teringat saat dia dan timnya melakukan operasi narkoba di kawasan itu.

Keterlibatan anak muda ini menjadi mata-mata bandar narkoba tidak lebih demi mendapatkan “secuil” barang haram itu untuk dikonsumsi bersama teman-temannya.

Salah satu bandar narkoba yang ditangkap aparat Polda Aceh, menyebut, para generasi muda ini sudah ketagihan mengkonsumsi narkoba. “Mereka, kita beri paket kecil,” kata sang bandar sebagaimana ditirukan Winardy, sambil memperagakan jari jempol ditempel ke ujung jari telunjuk.

Para bandar narkoba jaringan internasional ini tidak peduli dan tidak ragu telah merusak masa depan generasi muda Aceh. Sulitnya diberantas kasus-kasus narkoba kelas kakap ini, karena para pemainnya pun selalu membuat trik dan strategi bila tertangkap. Mereka mengubah stategi untuk memasukkan narkoba.

Ketika ditanya wartawan bahwa jaringan narkoba sudah berlangsung lama, kenapa sulit sekali diberantas sampai ke akar-akarnya, Kabid Humas Polda Aceh, menyatakan, selain trik dan strategi, para bandar juga difasilitasi hand phone satelit. Dengan alat komunikasi itu mereka bisa menembus jaringan dan memperoleh informasi di tengah lautan bebas sekalipun.

Hasil pengembangan dan penyidikan dari para tersangka bandar narkoba, sebut Winardy, bandar narkoba dari negeri jiran Malaysia ini, cara kerjanya sama seperti para mafia. Satu ditangkap, ternyata ada bandar besar lagi di atasnya. Karena bandar besar mengoperasikan bisnisnya di luar negeri, seperti Malaysia, aparat kepolisian Indonesia bekerjasama dengan polisi kerajaan di Malaysia.

Alangkah terkejutnya, cerita Winardy di hadapan Ketua PWI Aceh, Tarmilin Usman dan Sekretaris PWI Aldin NL, Sekretaris DKP PWI Aceh, Nasir Nurdin, dan pengurus lainnya, berdagangan narkoba internasional itu selalau terkait dengan Nanggroe Aceh.

Hal itu terungkap dari hasil pertukaran informasi yang intens dilakukan interpol oleh kepolisian Kerajaan Malaysia dengan Indonesia.

“Kementerian Kerajaan Malaysia mendapat informasi bahwa toke narkoba itu orang Indonesia yang menetap di Malaysia berasal dari Aceh. Di sinilah masalah makin kompleks (ruwet). Itu kenapa aparat kepolisian kita kesulitan memberantas kasus narkoba ini sampai ke akar-akarnya,” cetus Winardy yang baru naik pangkat Kombes Pol ini.

Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, bersama Kapolda Aceh, Wahyu Widada, Kajati Aceh, Muhammad Yusuf, Kasdam IM, Joko Purwo Putranto menghadiri Press Conference Pengungkapan Jaringan Gelap Narkotika Jenis Sabu Sebanyak 61 Kg, di Aula Serbaguna Polda Aceh, Banda Aceh, Rabu, (06/01/2021). (Foto/Ist)

Nova: Narkoba Ancaman Nyata

Terkait pengungkapan jaringan narkoba internasional dengan barang bukti 61 Kg shabu oleh personil gabungan Polda Aceh, Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, kepada pers sehari sebelumnya menegaskan, peredaran gelap narkoba adalah ancaman nyata bagi masyarakat.

Oleh karena itu, butuh upaya bersama dari seluruh komponen bangsa untuk memutus peredaran barang haram tersebut.

“Sudah saatnya kita membangun gerakan yang masif, menyeluruh untuk mencegah peredaran gelap narkoba. Seluruh elemen bangsa, seluruh organisasi dan lembaga harus mendukung upaya ini, karena narkoba adalah ancaman nyata yang dapat merusak generasi penerus dan masa depan bangsa,” ujar Nova.

Gubernur juga mengajak insan pers untuk terus mendukung pemerintah dalam menyosialisasikan bahaya narkoba kepada masyarakat.

“Terima kasih atas dukungan selama ini. Mohon dukungan insan pers untuk terus membantu pemerintah dan aparatur hukum pada segala kegiatan yang berkaitan dengan kampanye dan sosialisasi terhadap pencegahan narkoba,” demikian Gubernur Aceh. (Aldin Nainggolan)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER