Beranda Laporan Khusus Begini Kolaborasi Pertamina di SPBE, DPPU Hingga Toilet Internasional di Danau Toba

Begini Kolaborasi Pertamina di SPBE, DPPU Hingga Toilet Internasional di Danau Toba

BERBAGI

“Selama ini tidak ada masalah, berapa yang dibutuhkan maskapai, kita selalu stand by”

Laporan: Sulaiman Achmad

Pekan pertama Oktober 2021, sejumlah jurnalis dari Medan mendapat kesempatan berkunjung ke objek wisata Sipinsur, yang berlokasi di Parulohan, Paranginan, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatera Utara. Lokasinya tidak jauh dari Bandara Silangit.

Kunjungan itu difasilitasi oleh PT Pertamina Patra Niaga Sumbagut ke beberapa lokasi, termasuk meninjau pengisian bahan bakar Avtur ke pesawat di Bandara Silangit, hingga proses pengisian gas elpiji di Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) di Kabupaten Toba.

Rangkaian kegiatan itu guna melihat bagaimana proses distribusi kebutuhan masyarakat, baik elpiji maupun BBM. Untuk itu lah, operasional PT Pertamina Patra Niaga ini menjadi salah satu objek vital nasional.

Rantai distribusi ini, jika salah satu di antara titik itu terganggu maka akan berdampak ke masyarakat. Salah satunya, tabung gas elpiji yang selesai diisi dari SPBE di Kabupaten Toba hendak kembali ke Parapat untuk menyeberang ke Pulau Samosir.

Jika di tengah perjalanan ada kemacetan dan bencana alam seperti longsor, maka truk pengangkut elpiji akan ditinggalkan kapal penyeberangan. Alhasil, kebutuhan masyarakat juga terganggu dan terjadi kelangkaan beberapa saat.

“Kalau stok kita selalu sedia. Mobil tangki elpiji juga selalu stand by di sini. Kalau kosong gas kita, langsung diisi. Distribusi tidak ada masalah. Selalu lancar, kapan butuh truk tangki langsung datang ke SPBE kita,” kata Kepala Operasional SPBE PT Citra Pasific Mandiri, Nurhadi, kepada wartawan saat proses peninjauan bersama tim PT Pertamina Patra Niaga Sumbagut.

Nurhadi mengatakan, distribusi ke tempatnya tidak pernah ada masalah, termasuk juga truk pengangkut tabung elpiji dari agen elpiji. Apalagi, SPBE miliknya melayani pengisian tabung elpiji untuk agen dari tiga kabupaten yakni Kabupaten Simalungun, Kabupaten Samosir dan Kabupaten Toba.

“Kalau pun terlambat sampai ke masyarakat, biasanya akibat force majeure atau bencana alam dan kemacetan. Force majeure itu bisa longsor atau banjir. Tapi jarang terjadi, biasanya akibat kemacetan karena kepadatan lalu lintas khususnya hari libur,” jelasnya.

Area Manager Communication Relation & CSR (Comrel & CSR) Sumbagut PT Pertamina Patra Niaga, Taufikurachman, melalui Officer I Comrel, Haris Yanuanza, yang turut mendampingi jurnalis mengakui kendala force majeure jarang terjadi. Masalah yang sering dihadapi adalah kemacetan.

“Kita tidak tahu kondisinya di lapangan. Namun, kita selalu berkomitmen tetap menyediakan kebutuhan masyarakat. Kepada agen juga kita selalu memberikan imbauan untuk tetap menyediakan stok di gudang mereka selama proses pengisian ulang tabung gas elpiji ke SPBE. Tujuannya ya itu, biar tidak terjadi kekosongan di pasar,” ujarnya.

Distribusi Avtur ke Maskapai di Silangit

Lalu, bagaimana dengan distribusi bahan bakar khusus pesawat jenis avtur? Perjalanan kami berlanjut menuju Bandara Silangit. Di sini, bukan lokasi bandara yang dituju namun kondisi dan proses pengisian bahan bakar ke pesawat.

Di DPPU Silangit, kami bertemu dengan Pjs Operation Head, Mahmud Ridho Ritonga dan timnya. Lima jurnalis diajak langsung melihat proses pengisian avtur ke pesawat Citilink yang sedang mendarat di sana sore itu dari Cengkareng, Jakarta.

“Ketersediaan di sini juga cukup, karena kita memiliki stok. Selama ini distribusi juga tidak ada masalah. Karena kita dapat distribusi avtur dari Kualanamu, melalui jalur darat bukan pipanisasi. Selama ini tidak ada masalah, berapa yang dibutuhkan maskapai, kita selalu stand by,” kata Ridho.

Ridho menjelaskan, Pertamina memahami perannya sebagai lokomotif perekonomian dan industri nasional yang strategis tentunya harus dibangun dengan kolaborasi yang baik di internal dan eksternal. Jika internal ada yang salah, maka eksternal juga berdampak.

“Untuk itu, kita selalu berkolaborasi baik dalam komunikasi dan inovasi yang selalu mengikuti perkembangan jaman untuk bisa tumbuh bersama maskapai,” ungkapnya.

Toilet Internasional di Sipinsur, Humbahas

Sebelum kembali ke Hotel Patra Jasa, Parapat, yang juga unit usaha yang masih di bawah bendera Pertamina, tim jurnalis dan Comrel PT Pertamina Patra Niaga Sumbagut berjalan menuju objek wisata Sipinsur yang dekat dari DPPU Silangit.

Sebagai wujud pengabdian dan kontribusi perusahaan, PT Pertamina Patra Niaga membangun toilet bertaraf internasional di lokasi itu. Di sana sebenarnya sudah ada toilet yang dibangun pengelola, namun kotor dan tidak terawat.

Toilet ini juga sudah diresmikan langsung oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparenkraf) Sandiaga Uno, belum lama ini. Lokasinya, berdekatan di sisi tebing Danau Toba di areal wisata itu.

Fisik bangunan toilet itu terlihat berasitektur moderen namun kurang dirawat oleh pengelola di sana. Setelah diserahterimakan dari PT Pertamina ke pengelola di sana, harusnya menjadi tanggungjawab penuh pihak pengelola.

PT Pertamina sudah berkomitmen membangun sarana pendukung yang paling dibutuhkan di objek-objek wisata Danau Toba. Namun, akan percuma jika pengelola juga tidak memahami peran dan tanggungjawabnya.

“Kita juga mohon masukan dari tim jurnalis dan PT Pertamina yang berkunjung kemari. Bagaimana potensial kita ini dikembangkan. Kita perlu masukan dan saran untuk membangun bersama menjadikan Danau Toba super prioritas wisata dunia,” kata pihak sekretaris desa dan pengelola pihak Indra Karya di sana.

Dari diskusi kecil yang berlangsung sekitar beberapa jam di sore itu, ditambah semilir angin gunung berhembus mulai menusuk tulang dihasilkan beberapa poin penting. Kawasan Sipinsur dan Kabupaten Humbahas dikenal kawasan dingin karena berada 1.400 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Pertama, pentingnya peningkatan transaksi ekonomi di sana dengan tujuan agar masyarakat lokal lebih memiliki daya saing. Jika daya saing tercipta, maka akan berlomba-lomba untuk memberikan yang terbaik.

Kedua, selain objek wisata alam perlu dikembangkan sarana wisata lain seperti water sport, karena Danau Toba identik dengan air. Termasuk sarana olahraga pendukung lain seperti jalur khusus sepeda atau gowes bagi komunitas, baik dari Medan maupun nasional.

Ketiga, perlu dipertimbangkan untuk masuknya investor dengan tujuan pengembangan sektor industri hiburan berkelas mencakup karaoke, kafe dan sejenisnya.

Poin keempat paling penting adalah membangun warga yang sadar wisata dan ramah kepada wisatawan lokal dan mencanegara. Jika perlu, saling sharing knowledge atau berbagi ilmu dengan Provinsi Bali dalam mengelola objek wisata.

“Pertamina Patra Niaga Sumbagut siap membantu jika dibutuhkan. Karena komitmen kita untuk membangun kolaborasi di internal dan eksternal dalam mendukung industri lokal dan nasional baik dalam CSR maupun hal lain,” kata Officer I Comrel, Haris Yanuanza, menimpali dalam diskusi itu.

Haris menegaskan, pemerintah pusat baik Kementerian Maritim dan Investasi (Marves) dan Kemenparekraf selalu melibatkan Pertamina dalam pengembangan Danau Toba menuju “Super Destinasi Prioritas Wisata Dunia”. Hal itu menunjukan komitmen Pertamina untuk maju bersama masyarakat. (**)

  • Penulis adalah wartawan waspadaaceh.com
  • Tulisan ini diikutsertakan dalam Anugerah Jurnalistik Pertamina (AJP) Nasional 2021.
BERBAGI