Beranda Pariwara Batik Aceh, Antara Kearifan Lokal dan Kreativitas

Batik Aceh, Antara Kearifan Lokal dan Kreativitas

BERBAGI
Ketua Dekranasda Aceh, Dyah Erti Idawati, saat melakukan rapat dengan Ketua Harian YBI, Coreta Louise (kanan), di kantor YBI, Rumah Kriya Asri, Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan, Senin 31 Mei 2021. (Foto/BPPA)

“Para desainer mode dan pengrajin batik pun diharapkan terus mencoba berinovasi untuk menghadirkan batik dengan desain motif kekinian, agar batik Aceh terus update”

— Kadisperindag Aceh, Mohd Tanwier —

Batik Aceh akhir-akhir ini memang semakin dikenal luas. Seperti juga di daerah lain, motif batik Aceh memiliki makna dan filosifinya sendiri yang merupakan bagian dari kearifan budaya lokal.

Motif batik Aceh, terutama untuk batik tulis, dikenal dengan motif pintu Aceh, bunga jeumpa, tolak angin, awan meucanek, rencong, awan berarak, pucok reubong dan motif Gayo. Batik Aceh yang kaya dengan motif etnik ini lah yang menarik perhatian para peminat, baik dari Aceh sendiri mau pun dari luar Aceh, bahkan dari manca negara.

Motif batik Aceh memang terlihat unik dan khas karena menggunakan unsur alam dan budaya Aceh dalam motif mau pun paduan  warnanya. Warna yang digunakan pada batik Aceh lebih dominan pada warna yang cerah seperti merah, hijau, kuning, merah muda, dan warna cerah lainnya.

Tidak heran batik Aceh menjadi begitu cepat di kenal di Indonesia bahkan di negara lain, seperti di Korea Selatan.

Harus Kreatif dan Inovatif

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh, Mohd Tanwier, meminta para IKM Aceh terutama kerajinan batik untuk terus meningkatkan kreativitas dan berinovasi.

Mohd Tanwier mengatakan Industri Kecil Menengah (IKM) Aceh memiliki sederet produk unggulan potensial karena produk Aceh mempunyai karakteristik khas.

Ia menyebutkan salah satunya seperti kerajinan batik Aceh, di mana desain kerajinan tersebut memiliki filosofi sendiri dengan kearifan lokalnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh Ir Mohd Tanwier. (foto/Cut Nauval D).

Untuk bersaing di pasar, kata Mohd Tanwier, batik-batik yang dihasilkan para pengrajin di Aceh harus mampu mengikuti perkembangan. Misalnya, kata dia, tampil lebih modern tapi tetap mempertahankan identitas keacehan yang menjunjung tinggi nilai-nilai syariat Islam.

“Para desainer mode dan pengrajin batik pun diharapkan terus mencoba berinovasi untuk menghadirkan batik dengan desain motif kekinian, agar batik Aceh terus update,” tuturnya saat ditemui Waspadaaceh.com, Kamis (16/9/2021).

Kepala Disperindag juga mengatakan, Pemerintah Aceh memberikan perhatian yang cukup besar terhadap peningkatan usaha kerajinan di Aceh dan mengarahkan masyarakat untuk menghasilkan produk-produk yang berkualitas.

Dia menambahkan, dalam pengembangan batik Aceh, Pemerintah Aceh melalui Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) Aceh terus berupaya melakukan pelatihan dan pendampingan bagi pengrajin batik Aceh.

Pelatihan tersebut dilakukan melalui Rumoh Batik Aceh yang berlokasi di kawasan Pagar Air, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar.

Ia juga mengatakan, batik sebagai warisan budaya yang amat berharga, maka batik harus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat. Dia mengimbau kepada masyarakat Aceh terutama generasi milenial untuk bangga dalam menggunakan produk lokal tersebut.

“Batik adalah seni, kita imbau masyarakat untuk menggu­nakan batik Aceh yang merupakan produk lokal Aneuk Nanggroe,” ujarnya.

Selain itu ia juga mengimbau para IKM sektor kerajinan batik untuk memanfaatkan digital marketing dalam mempromosikan batik Aceh, baik luar Aceh hingga mancanegara.

“Selama pandemi ini, kita juga mengimbau kepada pengrajin untuk memanfaatkan digital marketing dalam mempromosikan produknya. Dengan mempromosikan berbagai jenis batik Aceh, kita berharap batik Aceh mampu bersaing di pasar nasional dan internasional,” tutur Kadisperindag Aceh tersebut.

Kerjasama dengan Yayasan Batik Indonesia

Sementara itu, sebelumnya Ketua Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) Aceh, Dr. Ir. Hj. Dyah Erti Idawati, MT, mengatakan, pihaknya optimis dengan pengembangan dan penjualan batik khas Aceh, baik di tingkat nasional mau pun pasar intenasional, akan lebih baik.

Dyah Erti menyampaikan hal itu saat bertemu dengan Ketua Harian Yayasan Batik Indonesia (YBI), Coreta Louise, di kantor YBI, Rumah Kriya Asri, Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan, pada 31 Mei 2021.

Dyah Erti Idawati, saat mengunjungi pelatihan keterampilan membatik dan ikat celup di Sentra Batik Seulanga di Mireuk Taman, Darussalam, Aceh Besar, yang didukung Bank Aceh Syariah KPO. (Foto/Ist)

“Dalam meeting, yang dibicarakan antara lain tentang; pengembangan batik Aceh untuk bisa dipasarkan di tingkat nasional dan internasional, mengingat batik kita banyak permintaan,” kata Dyah didampingi Kepala Bidang Pengembangan Industri Menengah dan Aneka Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh, Dra. Nila Kanti, M.Si.

Dyah mengungkapkan, meski banyak permintaan, dia berharap akan ada kerjasama antara Dekranasda Aceh dengan YBI. Terutama kerjasama dalam bidang pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM), terkhusus bagi pengrajin batik Aceh.

“Adapun kriteria pemberdayaan, yaitu meliputi design, motif dan pewarnaan, sehingga dapat disesuaikan dengan selera pasar. Selain itu, pengrajin Aceh juga memerlukan motivasi agar dapat melebarkan pemasaran produk kerajinannya,” kata Dyah.

Dyah berharap dengan adanya pertemuan tersebut maka nantinya batik-batik Aceh juga dapat ditampilkan ke ruang publik yang dimiliki oleh YBI dengan membuka stan.

Pelatihan dan Pendampingan

Ketua Harian YBI, Coreta Louise, mengatakan dia mendukung apa yang disampaikan oleh Ketua Dekranasda Aceh, Dyah Erti. Dukungan tersebut nantinya akan diimplementasikan melalui kerjasama pengembangan batik Aceh, terutama terkait dengan pengembangan motif-motif batik Aceh dan peningkatan program kerja.

“Karena banyak sekali motif-motif batik Aceh yang ternyata sudah dikembangkan, tetapi belum terlalu maksimal sehingga dengan  bantuan YBI batik Aceh makin pesat,” kata Coreta.

Coreta juga menyampaikan kedepan dua pihak ini dapat bekerjasama terkait berbagai pelatihan, mulai dari pewarnaan, peletakan aturan motif yang akan dibimbing oleh berbagai kalangan dan profesi termasuk desainer-desainer yang dimiliki YBI.

“Kita juga berkomitmen untuk mengangkat batik Aceh melalui cerita sejarah tentang motif Aceh. Seperti beberapa waktu lalu ketika Indonesia mengadakan pameran lewat IG Live, ternyata banyak sekali peminatnya,” jelas dia.

Dia berharap, kerjasama ini nantinya dapat mengangkat citra dan kemewahan batik Aceh, baik ditingkat nasional dan internasional, seperti yang telah dilakukan sebelumnya saat melakukan kerjasama dengan KBRI Seoul, Korea Selatan.

“Saat itu kita membuat batik Aceh dengan baju hanbok, yakni baju Korea dengan motif Aceh dan sangat laku sehingga beberapa perusahaan Korea yang ada di Indonesia tertarik untuk membeli batik, khususnya batik Aceh,” tutup dia. (Cut Nauval Dafistri)