“Kalau bisa ada tempat jualan yang lebih kuat, seperti kontainer atau kios permanen. Jadi tidak rusak lagi setiap ada angin”
Menjelang siang, aroma ayam goreng mulai memenuhi lapak sederhana di Gampong Masjid Tuha, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Di balik wajan panas itu, Ussisa Masjidah (40) sigap membungkus pesanan ayam geprek sambil sesekali melayani pembeli yang datang.
Warung kecil bernama Ayam Geprek Ula itu menjadi tempat singgah bagi pengendara yang melintas. Tak hanya menyajikan ayam geprek dan ayam penyet, Usisa juga menawarkan aneka minuman dingin untuk melepas dahaga para pelanggan.
Di balik kesibukan itu, tersimpan kisah tentang seorang perempuan yang membangun kembali usahanya setelah hampir seluruh modalnya hanyut diterjang banjir.
“Semua hilang dibawa banjir. Tinggal rangkanya saja,” kata ibu empat anak ini kepada Waspadaaceh.com, Sabtu (18/7/2026).
Banjir yang melanda Pidie Jaya bukan hanya merendam rumah warga, tetapi juga menghapus modal usaha yang selama bertahun-tahun menjadi sumber penghidupan keluarganya. Peralatan memasak, perlengkapan jualan, hingga lapak tempat berdagang rusak. Kerugian yang ia taksir mencapai sekitar Rp15 juta.
Usisa bukan hanya seorang pelaku UMKM. Sejak suaminya, Umar, meninggal pada 2018 saat perjalanan pulang bekerja dari Malaysia, ia menjadi tulang punggung keluarga. Dari warung kecil itulah ia membesarkan empat anaknya. Baginya, ukuran bertahan hidup bukanlah berapa banyak uang yang tersisa di akhir hari.
“Kalau makanan jualan tidak habis, ya kami makan itu. Yang penting kami tidak lapar,” ujarnya sambil tersenyum tipis.
Selama sekitar 15 tahun, Usisa menekuni usaha kuliner. Awalnya ia berjualan kue basah sebelum kemudian beralih menjual ayam geprek, ayam penyet, dan minuman. Sebelum banjir, usahanya memang belum berkembang pesat. Daya beli masyarakat yang rendah membuat omzet hariannya berkisar Rp150 ribu.
Keadaan mulai berubah setelah bencana. Kehadiran relawan, pekerja kemanusiaan, dan berbagai kegiatan pemulihan membuat kawasan itu kembali ramai. Pesanan makanan berdatangan dan omzetnya perlahan meningkat hingga sekitar Rp300 ribu sampai Rp400 ribu per hari saat ramai.

Namun, bangkit bukan berarti semua persoalan selesai. Harga cabai, ayam, dan bahan baku lain terus naik sehingga keuntungan yang diperoleh semakin tipis. Usisa juga belum memiliki pembukuan usaha yang memadai maupun izin usaha. Promosi masih dilakukan secara sederhana melalui Facebook.
“Satu porsi dijual Rp15 ribu, untungnya sedikit. Yang penting usaha tetap jalan,” katanya.
Di luar persoalan ekonomi, ada kekhawatiran lain yang terus menghantui. Lapaknya masih berupa tenda sederhana yang mudah rusak ketika angin kencang datang. Menurut Usisa, kawasan tempatnya berjualan tak hanya rawan banjir, tetapi juga sering diterpa angin.
Ia berharap suatu hari ada tempat usaha yang lebih kokoh bagi pedagang kecil seperti dirinya.
“Kalau bisa ada tempat jualan yang lebih kuat, seperti kontainer atau kios permanen. Jadi tidak rusak lagi setiap ada angin,” ujarnya.
Bagi Usisa, bantuan modal memang penting, tetapi belum cukup. Ia ingin belajar mengembangkan usaha, membuat produk yang lebih menarik, memahami pembukuan, hingga mengurus legalitas agar usahanya bisa berkembang.
“Kalau sudah punya ilmu, kami bisa jalan sendiri,” katanya.
Di tengah berbagai keterbatasan, Usisa tetap membuka warungnya setiap hari. Ia percaya, selama masih ada pembeli yang datang dan kompor masih menyala, selalu ada harapan untuk membawa keluarganya melangkah sedikit lebih jauh dari bencana yang pernah merenggut hampir seluruh usahanya.
Sebab bagi perempuan kepala keluarga seperti Usisa, bangkit setelah bencana bukan hanya tentang membuka kembali lapak yang sempat tutup. Bangkit adalah memastikan anak-anaknya tetap bisa makan, tetap bersekolah, dan tetap memiliki harapan untuk masa depan yang lebih baik. (*)



