Banda Aceh (Waspada Aceh) – Akademisi Universitas Syiah Kuala (USK), Yunita Idris, menilai integrasi data kebencanaan menjadi salah satu kebutuhan penting untuk memperkuat penanganan dan pemulihan pascabencana di Aceh. Data yang terintegrasi diperlukan agar pemerintah memiliki gambaran menyeluruh mengenai dampak bencana, kebutuhan warga terdampak, serta kelompok masyarakat yang membutuhkan penanganan khusus.
Hal tersebut disampaikan Yunita dalam diskusi bertajuk Menuju Satu Tahun Bencana Ekologis Sumatra: Pemulihan atau Pengalihan? di Warkop Sirnagalih, Banda Aceh, Minggu (18/10/2026).
Menurutnya, penanganan bencana tidak cukup hanya mengandalkan data jumlah korban dan kerusakan. Informasi mengenai kondisi warga terdampak juga perlu tersedia secara terperinci agar kebijakan penanganan darurat dan pemulihan dapat disusun sesuai kebutuhan di lapangan.
Dalam konteks ini, data terpilah berdasarkan jenis kelamin, usia, dan disabilitas penting untuk memastikan kelompok rentan tidak terabaikan dalam proses evakuasi, distribusi bantuan, penyediaan layanan dasar, hingga pemulihan mata pencaharian.
Integrasi data juga diperlukan untuk menghubungkan informasi dari berbagai sektor dan tingkatan pemerintahan. Dengan demikian, data yang digunakan dalam penanganan darurat dapat menjadi dasar perencanaan rehabilitasi dan rekonstruksi.
Selain persoalan data, Yunita menyoroti pentingnya pembenahan tata ruang yang mempertimbangkan risiko bencana. Ia menilai pembangunan permukiman dan infrastruktur perlu mengacu pada karakteristik wilayah serta peta kerawanan bencana.
Yunita juga mengingatkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap risiko bencana perlu dijaga secara berkelanjutan, bukan hanya meningkat ketika bencana terjadi.
“Masyarakat kita sering kali aware saat kejadian, tetapi kemudian kembali ke nol lagi. Kita seperti melupakan pelajaran dari bencana-bencana sebelumnya,” ujarnya.
Ia mendorong penguatan kapasitas masyarakat melalui jejaring sosial, persiapan rencana darurat keluarga, serta edukasi kebencanaan yang berkelanjutan.
Penguatan sistem data, menurut pendekatan tersebut, perlu berjalan bersama perencanaan tata ruang dan kesiapsiagaan masyarakat agar penanganan bencana di Aceh lebih terarah dan kebutuhan warga terdampak dapat teridentifikasi dengan baik. (*)



