Minggu, April 14, 2024
Google search engine
BerandaAbu Doto: Jangan Berhenti Berjuang!

Abu Doto: Jangan Berhenti Berjuang!

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Mantan Gubernur Aceh, Zaini Abdullah, mengimbau janganlah berhenti berjuang. Karena menurutnya, masyarakat sudah banyak menderita dan berkorban demi kemajuan dan kesejahetaraan yang kini seakan belum dinikmati oleh sebagian besar rakyat Aceh.

Tokoh kunci pejuang sekaligus petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang akrab disapa Abu Doto ini, mengungkapkan kerisauannya saat me-launching buku biografi: Abu Doto, Perjuangan Tanpa Akhir di Kryard Muraya Hotel Banda Aceh, Senin (31/8/2020).

Dalam buku setebal 325 halaman yang ditulis wartawan senior Mohsa El Ramadan duet bersama Mujahid Ar Razi, Abu Doto mengungkapkan kerisauan tentang cita citanya menjadikan Aceh mandiri di bidang migas dan tambang untuk kesejahteraan rakyat. Ironisnya, cita-citanya itu terhalang ketika di ujung masa jabatannya, posisinya diisi Sudarmo sebagai Pj Gubernur Aceh, karena Abu Doto ikut Pilkada.

Pada saat itu, Abu Doto merasa ditelikung. Rencana besarnya untuk menjadikan KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) Arun, bisa dikelola dan saham mayoritasnya menjadi milik Pemerintah Aceh, tidak kesampaian. Pasalnya, pusat ketika itu mengeluarkan PP No 5 tahun 2017, yang intinya pengusul KEK Arun adalah konsorsium perusahaan plat merah (BUMN), bukan Pemerintah Aceh. Terkait masalah KEK Arun juga tercantum dalam buku ini.

Abu Doto ketika menjawab pertanyaan Waspada, mengaku miris melihat perkembangan belakangan antara pejuang dan tokoh GAM yang saling berjauhan alias tidak kompak. Padahal masih banyak pekerjaan rumah (PR) besar yang belum selesai, seperti butir-butir MoU Helsinki, soal bendera dan masih banyak lagi yang hingga kini seperti jalan di tempat. Kata dia, tanpa kekompakan, perjuangan mewujudkan butir-butir MoU Helsinki itu sulit tercapai.

“Saya bersedia kapan saja berdiskusi dan berkontribusi pemikiran untuk kemajuan Aceh,” ujar Abu Doto, yang kini berusia 80 tahun, tapi tampak masih cukup energik.

Launching buku; Abu Doto, Perjuangan Tanpa Akhir, yang dimoderatori Akhiruddin Mahjuddin, dari GeRak Indonesia, Abu Doto juga sedikit curhat bahwa dirinya seakan-akan sudah disingkirkan karena dianggap berkhianat.

“Saya sudah tersingkir,” ungkap Abu Doto di acara yang dihadiri banyak pembantunya di masa menjadi Gubernur Aceh itu. Tampak hadir, Prof Dr. Sahrizal Abubakar (mantan Kadis Syariat Islam Aceh), Prof Dr Abubakar Karim Abubakar (mantan Kepala Bappeda Aceh/Kadis Pertanian Aceh), Edrian, SH (mantan Kabiro Humas dan Hukum Setda Aceh) dan Nasir Jalba (mantan Kesbangpol Aceh).

Hadir pula Abu Yahya Muaz, mantan petinggi GAM satu-satunya yang hadir. Ada juga ustadz Muzakir, mantan Adc Abu Doto, dan putri bungsu Abu Doto. Mantan Ketua DPRA, Hasbi Abdullah, yang tidak lain adik kandung Abu Doto,

Dari kalangan wartawan, tampak Ketua PWI Aceh, Tarmilin Usman, Sekretaris PWI Aldin NL, Wakil Ketua Iranda Novandi, Bendahara, Azhari, pengurus PWI Pusat H Anwar, Kepala Biro LKBN Antara Aceh, Azhari, Ketua JMSI Aceh, Hendro Saky, para penulis dan jurnalis muda lainnya.

Sebagai penulis, Mohsa El Ramadhan mengungkapkan, mengapa buku Abu Doto itu ditulis dan kini sudah bisa dicari di rak-rak buku Gramedia.

Mohsa El Ramadan mengatakan, “Abu Doto: Perjuangan Tanpa Akhir,” adalah sebuah buku biografi tentang perjalanan hidup dr. Zaini Abdullah, mantan Menteri Kesehatan dan Menteri Luar Negeri Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang kemudian menjadi Gubernur Aceh periode 2012 – 2017.

Buku ini disusun dan ditulis oleh Mohsa El Ramadan dan Mujahid Ar Razi, dibantu editor Maskur Abdullah dan tim lain. Lahirnya buku ini sebagai bentuk penghormatan terhadap sepak-terjang Abu Doto, sapaan akrab Zaini Abdullah, atas jasa-jasanya dalam memperjuangkan keadilan bagi rakyat Aceh kepada Pemerintah Pusat (Jakarta).

“Di mata kami penulis, Abu Doto adalah sosok yang rendah hati, tapi berpendirian teguh,” ujar Mohsa El Ramadan.

Zaini Abdullah alias Abu Doto didampingi penulis, Mohsa El Ramadan, menyerahkan buku Abu Doto, Perjuangan Tanpa Akhir, kepada Ketua PWI Aceh, Tarmilin Usman. (Foto/Ist)

Memang, setelah perdamaian Aceh, ada beberapa tokoh Gerakan Aceh Merdeka atau GAM yang kisah hidupnya ditulis dalam bentuk biografi dan otobiografi. Mulai dari patron tertinggi GAM, almarhum Wali Negara Aceh Muhammad Hasan Ditiro, hingga bekas menteri kabinet Aceh Merdeka seperti Zaini Abdullah.

Cerita yang dibangun lewat setiap biografi dan otobiografi tersebut sedikit banyak menyingkap bagaimana peran para tokohnya di dalam organisasi besar tersebut. Selama rentang 40 tahun ke belakang sejak kehadirannya, Aceh Merdeka menjadi perbincangan. Tak hanya secara nasional dan regional, dunia ikut membicarakan kelompok perlawanan tersebut.

Seiring dengan itu, satu demi satu tokoh-tokoh GAM muncul ke publik, tapi kisah hidup dan kiprahnya masih terbatas untuk diketahui. Kisah itu hanya bisa dibaca sepenggal-sepenggal lewat artikel di media massa. Karenanya, kehadiran biografi atau otobiografi tentang tokoh-tokoh tersebut sangatlah berguna. Apalagi kisah setiap tokoh tersebut berpilin dalam sehelai benang merah kronologi sejarah Aceh.

Buku Abu Doto, Perjuangan Tanpa Akhir, ini salah satu dari beberapa biografi tentang Zaini Abdullah. Buku ini dibagi dalam tiga bagian, terdiri dari 15 BAB. Bagian pertama bercerita tentang masa kecil Abu Doto yang mungkin tidak banyak, atau bahkan tidak terungkap dalam buku-buku lain. Kemudian bagian kedua mengupas pertautan dan perjuangan Abu Doto bersama GAM; dan bagian ketiga memaparkan prestasi Abu Doto sebagai seorang birokrat.

Buku ini memang kurang detail merekam jejak langkah Abu Doto sebagai anak Rapana, sebuah gampong dalam Kemukiman Tiba, Kecamatan Mutiara, Pidie. Atau sebagian khalayak menyebutnya Rapana Teureubue; gampong serupa akademi politik yang kerap menciptakan kader-kader militan.

Beberapa sudut pandang dalam buku ini memang belum tergali secara mumpuni. Terutama di bagian pertama tentang masa kecil Abu Doto hingga menempuh pendidikan di Kutaraja. Bagian ini lebih berfungsi sebagai “snapshot” untuk melihat seperti apa masa kecil mantan Gubernur Aceh ini.

Sebenarnya, banyak cerita menarik yang masih bisa diungkap dari kebersahajaan seorang Zaini Abdullah. Seiring dia tumbuh dan berkembang, begitu banyak peristiwa besar Aceh di masa lalu yang bergesekan langsung dengannya. Mulai dari pergolakan DI/TII Daud Beureueh, Prang Cumbok, hingga Aceh Merdeka.

Pada fase awal kehadiran Darul Islam di Aceh, Abu Doto masih belia. Dia tidak paham apa yang dilakukan Darul Islam kala itu. Namun dia sedang tumbuh di tengah keluarga besar yang tidak hanya bersimpati tapi terlibat langsung dengan Darul Islam. Ayahnya, Teungku Abdullah Hanafiah, yang akrab disapa Abu Teureubue, adalah salah seorang tokoh Darul Islam Aceh pimpinan Teungku Daud Beureueh.

Selepas DI, Abu Doto juga merasakan pahitnya konflik yang disebabkan Prang Cumbok. Belum reda itu semua, jiwa mudanya melihat Soekarno dengan cara berbeda saat founding father bangsa itu datang ke Kutaraja. Walau pun dielu-elukan khalayak, Bung Karno kala itu juga punya cacat di mata seorang Abu Doto.

Tak dapat dipungkiri, peristiwa-peristiwa itu ikut andil dalam membentuk karakter seorang Abu Doto sebagai “aneuk geumaseh”: anak penurut dan terdidik dalam keluarga yang islami. Namun, di kemudian hari cerita hidup Abu Doto bergeser. Zaini seperti bertukar-tukar peran. Dari seorang anak ulama menjadi dokter muda yang humble, kemudian menjadi menteri di kabinet Aceh Merdeka, diplomat santun, hingga Gubernur Aceh.

Buku Abu Doto, Perjuangan Tanpa Akhir ini ditulis berdasarkan bahan dokumentasi dan wawancara langsung dengan Abu Doto. Beberapa bagian cerita memang “agak” terputus karena hanya mengandalkan ingatan Abu Doto, terutama di bagian masa kecil hingga pra Aceh Merdeka. Kami kesulitan menemukan teman kecil sepermainan Abu Doto yang kebanyakan telah tiada.

Penggalian bahan juga dilakukan dengan membongkar dokumen lama tentang liputan jurnalistik di masa lalu yang dilakukan tim penulis dan editor, misalnya tentang DOM.

Kini, buku Abu Doto, Perjuangan Tanpa Akhir sudah memasuki proses labeling harga di tangan distributor. Insya Allah, pada September-Oktober 2020, buku Abu Doto sudah beredar di Toko Buku Gramedia di seluruh Indonesia, tak terkecuali di Aceh.

“Semoga saja kehadiran buku ini bermanfaat bagi generasi kini dan mendatang,” kata Mohsa El Ramadan mengakhiri. (Aldin NL)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER