Banda Aceh (Waspada Aceh) – Lebih dari dua dekade pascatsunami 2004, ingatan kolektif masyarakat Aceh dinilai mulai memudar. Untuk menjaga memori tersebut, kolaborasi internasional akan meluncurkan buku MemoryGraph: Menjaga Kenangan Aceh Lewat Foto di Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh.
Peluncuran buku itu dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 26 Maret 2026, di Auditorium Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) USK.
Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama Center for Southeast Asian Studies (CSEAS) Kyoto University, Jepang, dengan Universitas Syiah Kuala melalui TDMRC, Pusat Riset Ilmu Sosial dan Budaya (PRISB), Program Magister Ilmu Kebencanaan, serta Balai Arsip Statis Tsunami Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
Buku MemoryGraph menawarkan cara sederhana untuk menjaga ingatan, yakni dengan membandingkan foto masa lalu dan kondisi terkini dari lokasi yang sama. Cara ini diharapkan dapat membantu masyarakat melihat kembali perubahan yang terjadi di Aceh, khususnya setelah bencana tsunami.
Salah satu penggagas MemoryGraph, Yoshimi Nishi, mengatakan lanskap bukan hanya sekadar pemandangan, tetapi juga menyimpan jejak kehidupan masyarakat.
“Ketika bencana terjadi, kita tidak hanya kehilangan ruang, tetapi juga kenangan yang ada di dalamnya. Foto menjadi cara sederhana untuk menjaga ingatan itu tetap hidup,” ujarnya. Rabu (25/3/2026)
Sementara itu, peneliti Universitas Syiah Kuala, Alfi Rahman, menyebut pemulihan pascabencana tidak hanya soal pembangunan fisik.
“Ingatan kolektif penting untuk memahami risiko dan membangun ketahanan masyarakat. MemoryGraph menjadi jembatan antara arsip dan pengalaman masyarakat,” katanya.
Rektor Universitas Syiah Kuala, Mirza Tabrani, menilai pendekatan ini penting sebagai pembelajaran bagi generasi mendatang.
“Ini bagian dari upaya membangun ketangguhan masyarakat Aceh ke depan,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan Kepala ANRI, Mego Pinandito. Ia mengatakan MemoryGraph mampu menghidupkan kembali arsip agar lebih dekat dengan masyarakat.
Peluncuran buku ini juga akan dirangkaikan dengan diskusi publik yang menghadirkan akademisi, arsiparis, dan praktisi kebencanaan.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan dapat ikut berperan dalam mendokumentasikan dan menjaga ingatan tentang lingkungan dan sejarah di Aceh. (*)



