Makkah (Waspada Aceh) – Malam belum benar-benar pergi ketika gema doa masih menggantung di langit Masjidil Haram. Selasa malam, (17/3/ 2026), jutaan jamaah yang memadati pelataran hingga ruas-ruas jalan di sekitar masjid itu larut dalam satu suasana yang sama: tangis yang tak tertahan.
Malam itu adalah salah satu puncak qiyamul lail di penghujung Ramadhan 1447 Hijriah. Tiga imam memimpin shalat malam.
Namun, suasana berubah drastis ketika imam terakhir, Syekh Abdurrahman As-Sudais, mengangkat tangan dan melantunkan doa qunut.
Doa itu tidak singkat. Hampir setengah jam jamaah berdiri. Suaranya naik turun, seperti mengayun perasaan ribuan, bahkan jutaan orang yang mengikuti dari dalam hingga luar Masjidil Haram.
“Semua menangis. Tidak ada yang tidak tersentuh,” ujar Aldin NL Penanggungjawab Waspada Aceh melaporkan langsung dari Makkah, Rabu (18/3/2026).
Isi doa yang dibacakan tidak hanya tentang pengampunan, tetapi juga tentang kehidupan, kematian, harapan akan surga, serta ajakan memperbanyak ibadah. Kalimat demi kalimat dilafalkan dengan tekanan emosional yang kuat, membuat suasana berubah menjadi sangat haru.
Di sela-sela doa, terdengar sahutan “Amin, ya Rabb” dari berbagai arah. Jamaah dari berbagai negara, dengan bahasa dan latar belakang berbeda, melebur dalam satu ekspresi spiritual yang sama.

Kepadatan jamaah pada malam-malam terakhir Ramadhan tahun ini disebut melampaui tahun-tahun sebelumnya. Diperkirakan total jamaah umrah selama Ramadhan mencapai lebih dari 11 juta orang.
Dalam satu malam saja, jumlah jamaah di Masjidil Haram disebut mendekati satu juta orang. Tidak hanya di dalam masjid, jamaah meluber hingga ke lorong, pelataran, bahkan badan jalan.
Sebagian menggelar sajadah di trotoar, median jalan, hingga celah-celah ruang yang tersisa. Mereka menunggu waktu shalat malam sejak sore hari, demi mendapatkan tempat.
Puncak keramaian terjadi pada malam 27 Ramadhan. Namun, malam ke-29 tetap dipenuhi lautan manusia.
“Orang datang dari berbagai kota seperti Thaif dan Jeddah. Semua mencari keberkahan malam terakhir,” kata jamaah tersebut.
Pelaksanaan tarawih dan qiyamul lail di Masjidil Haram juga berlangsung dengan durasi panjang. Setiap rakaat dapat memakan waktu hingga 10 menit, dengan total 23 rakaat dalam satu rangkaian ibadah malam.
Pada malam itu, tiga imam memimpin secara bergantian: Syekh Badr At-Turki, Syekh Yasser Al-Dosari, dan Syekh Abdurrahman As-Sudais.
Namun, momen paling membekas tetap pada doa qunut terakhir yang oleh sebagian jamaah disebut sebagai “qunut perpisahan”.
“Tadi malam seperti perpisahan,” Aldin yang sudah 15 hari melaksanakan ibadah umrah di tanah suci.
Menjelang akhir Ramadhan, tanda-tanda perpisahan semakin terasa. Qunut panjang pada malam ke-29 dianggap sebagai isyarat bahwa bulan suci segera berakhir. Meski penetapan Idul Fitri masih menunggu sidang isbat, sebagian jamaah telah merasakan atmosfer hari raya yang kian dekat.
Di Masjidil Haram, malam itu bukan hanya tentang ibadah. Ia adalah perjumpaan antara harapan, penyesalan, dan kerinduan yang dilepas dalam satu bahasa yang sama air mata. (*)



