Jumat, April 4, 2025
spot_img
BerandaAcehMeski Kepatuhan KTR Meningkat, Perokok Anak dan Perempuan di Banda Aceh Masih...

Meski Kepatuhan KTR Meningkat, Perokok Anak dan Perempuan di Banda Aceh Masih Jadi PR

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Isu perokok anak dan perempuan di Banda Aceh semakin memprihatinkan, meskipun tingkat kepatuhan terhadap Kawasan Tanpa Rokok (KTR) terus meningkat.

Direktur Aceh Institute, Muazzinah Yacob, dalam konferensi pers pada Selasa (17/12/2024), menyebut pentingnya edukasi dimulai dari lingkungan keluarga untuk mengatasi masalah ini.

“Sering kali kami menemukan anak-anak membeli rokok atas suruhan orang tua atau keluarganya. Tanpa disadari, ini menjadi proses pembelajaran negatif,” ujar Muazzinah.

Ia menambahkan, anak-anak belajar harga, tempat membeli, hingga merek rokok, yang memperburuk masalah tersebut.

Muazzinah juga menyebut pengaruh besar lingkungan sebaya dan iklan rokok yang semakin inovatif, yang semakin sulit dibendung. “Industri iklan rokok sangat inovatif, dan ini menjadi tantangan besar, terutama karena edukasi kita belum maksimal,” katanya.

Selain itu, fenomena perokok perempuan yang kini lebih sering menggunakan vape juga menjadi perhatian. Meskipun vape dianggap alternatif, Muazzinah tetap khawatir akan dampaknya terhadap kesehatan.

Di sisi lain, kepatuhan terhadap KTR di Banda Aceh mengalami kemajuan signifikan. Angka kepatuhan meningkat dari 21 persen pada 2019 menjadi 40 persen pada 2023, berkat edukasi masif melalui dayah, puskesmas, dan tim Satgas KTR. “Kami juga rutin melakukan monitoring dan evaluasi di berbagai tempat,” ungkapnya.

Namun, tantangan baru muncul di kalangan pesantren. Beberapa pesantren yang menerapkan aturan ketat dengan mengeluarkan siswa yang kedapatan merokok, malah menciptakan masalah baru.

“Ironisnya, ketika dikeluarkan, anak-anak ini justru semakin parah merokok di luar,” kata Muazzinah.

Muazzinah berharap, pada 2025 dengan kepemimpinan yang baru, Banda Aceh bisa menjadi model kota yang tegas dalam mengimplementasikan kebijakan anti-rokok. Ia juga mengapresiasi perhatian Calon Wali Kota Banda Aceh terpilih, Illiza Sa’aduddin Djamal, terhadap isu ini.

“Implementasi yang baik diperlukan untuk menekan angka perokok anak dan perempuan. Edukasi harus terus ditingkatkan, terutama di lingkungan keluarga dan masyarakat,” tutupnya.

Isu perokok anak dan perempuan di Banda Aceh kini memerlukan sinergi antara keluarga, lembaga pendidikan, dan pemerintah untuk menciptakan generasi bebas rokok di masa depan. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER