BerandaAcehKisah Tuan Rumah: H-1 Pesta Pernikahan, Banjir Rendam Pelaminan di Desa Badak...

Kisah Tuan Rumah: H-1 Pesta Pernikahan, Banjir Rendam Pelaminan di Desa Badak Gayo Lues

Blangkejeren (Waspada Aceh) – Persiapan pesta pernikahan yang telah dilakukan selama sepekan, berakhir duka setelah banjir menerjang Desa Badak, Kecamatan Dabun Gelang, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, Rabu sore (28/10/2026).

Rumah, tenda, pelaminan hingga sejumlah perlengkapan pesta yang telah disiapkan untuk menyambut hari bahagia tersebut ikut terendam air dan lumpur.

Tuan rumah, Inen Sarbi, mengatakan pesta pernikahan itu sedianya digelar Kamis (29/10/2026). Berbagai persiapan bahkan telah dilakukan secara matang. Sebagian prosesi adat pernikahan setempat sudah dilaksanakan, undangan telah disebarkan, sementara lauk-pauk untuk menjamu para tamu juga sudah disiapkan.

Pengantin perempuan berasal dari Desa Badak, Kecamatan Dabun Gelang, Kabupaten Gayo Lues, sedangkan calon mempelai laki-laki berasal dari Takengon, Aceh Tengah. Sesuai rencana, keluarga pihak laki-laki akan mengantar pengantin ke rumah mempelai perempuan melalui prosesi adat mah bai dalam bahasa Gayo.

Namun, rencana tersebut berubah ketika banjir datang secara tiba-tiba sekitar pukul 16.30 WIB, saat hujan deras mengguyur kawasan itu.

Saat kejadian, sejumlah warga dan keluarga sedang bergotong royong membantu persiapan pesta, termasuk menyiapkan lauk-pauk dan berbagai kebutuhan lainnya. Kedatangan air yang begitu cepat membuat mereka panik dan berlarian menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman.

Inen Sarbi bersama keluarga dan warga lainnya terpaksa mengungsi semalaman. Mereka baru kembali ke rumah pada Kamis pagi setelah kondisi memungkinkan.

Sebagian lauk-pauk yang telah disiapkan untuk pesta ikut terendam. Hanya beberapa yang berhasil diselamatkan dengan memindahkannya ke tempat lebih tinggi. Sementara itu, rumah dipenuhi lumpur, sedangkan tenda dan pelaminan juga tidak luput dari genangan banjir.

Kondisi tersebut membuat keluarga tidak lagi mampu menjamu tamu sebagaimana rencana semula. Bahkan, mereka memperkirakan orang-orang yang datang bukan lagi untuk menghadiri pesta, melainkan melihat kondisi keluarga setelah dilanda musibah.

Di tengah musibah tersebut, beban keluarga semakin bertambah karena sejumlah kebutuhan pesta masih menyisakan pembayaran. Biaya pelaminan baru dibayarkan melalui uang muka atau down payment (DP). Begitu juga ikan dan air mineral yang telah dipesan untuk kebutuhan pesta belum dilunasi.

Banjir tersebut akhirnya mengubah seluruh rencana keluarga yang telah dipersiapkan selama sepekan. Hari yang seharusnya menjadi momen bahagia untuk menyambut kedua mempelai justru berubah menjadi suasana kepanikan dan keprihatinan.

Alih-alih menyambut tamu dengan hidangan dan pesta pernikahan, keluarga kini harus membersihkan rumah dari lumpur. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER