BerandaAcehJembatan Garuda Bangkitkan Harapan Petani di Rambong Payong

Jembatan Garuda Bangkitkan Harapan Petani di Rambong Payong

Setelah selesai, jembatan akan dilalui sepeda motor, cukup untuk mengantar anak sekolah, membawa pasien ke puskesmas, dan mengangkut hasil kebun tanpa harus berjalan berkilo-kilometer.

Aceh Utara (Waspada Aceh) – Tampak di tepian sungai deretan rangka besi mulai terbentuk. Personel Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) bersama delapan pekerja, mengelas, memasang, dan menyusun bagian demi bagian Jembatan Perintis Garuda yang kini berdiri di antara Desa Rambong Payong, Gampong Lhok Bayu, Krueng Baro dan Lhok Gajah Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara. Mereka bekerja sejak pagi hingga sore untuk mengejar target penyelesaian dua pekan berikutnya.

Progres pembangunan jembatan sepanjang 97 meter, lebar 2,4 meter ini mencapai 61–70 persen. Bagi warga setempat, ini bukan sekadar struktur besi yang melintasi aliran air, tapi kembalinya napas kehidupan yang sempat terhenti sejak banjir bandang akhir November 2025 merenggut jembatan lama mereka.

Pembangunan Jembatan Perintis Garuda menjadi bagian dari upaya TNI dalam membantu meningkatkan konektivitas antarwilayah dan mendukung kelancaran aktivitas masyarakat, termasuk akses menuju pusat kegiatan ekonomi, pendidikan, serta pelayanan publik.

Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satuan Tugas Nasional Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan, pemulihan infrastruktur penghubung tidak boleh tertunda atau dikurangi cakupannya. Pemulihan infrastruktur pascabencana merupakan bagian penting dari Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP), yang menempatkan pemulihan akses jalan dan jembatan sebagai prioritas utama untuk membangkitkan kembali kehidupan masyarakat di daerah terdampak.

“Yang dibutuhkan masyarakat saat ini di sana itu jelas, nomor satu adalah masalah jalan. Jalan-jalan yang rusak, jembatan rusak,” kata Tito. “Kegiatannya nggak boleh dikurangi karena akan berdampak ke masyarakat,” lanjut Tito pada 21 Oktober 2026 di Jakarta.

Pernyataan Tito itu mendorong semangat warga Desa Rambong Payong. Keberadaan Jembatan Perintis Garuda nantinya tak hanya menyambung dua tepian sungai, tetapi juga menyambungkan warga dengan sekolah, puskesmas, pasar, dan harapan masa depan.

Para pekerja kini tengah melakukan pemasangan jari-jari jembatan sebagai bagian dari tahapan konstruksi sebelum pekerjaan dilanjutkan ke tahap selanjutnya.

Pesonel TNI AD bersama para pekerja, masih terus bekerja membangun Jembatan Perintis Garuda di Desa Rambong Payong Kecamatan Sawang Kabupaten Aceh Utara. (Foto: Tim Media Satgas PRR)

Sembilan bulan lebih, Lhok Bayu dan dua kampung tetangganya, Krueng Baro dan Lhok Gajah, hidup terisolasi. Jembatan putus, jalan terputus, dan sungai yang dulu bersahabat berubah menjadi tembok pemisah yang keras. Mursalim, Keuchik Lhok Bayu yang baru menjabat satu tahun, mengenang masa-masa sulit itu dengan suara yang masih menyiratkan beban berat.

“Kami tiga kampung benar-benar terisolasi. Tidak ada jalan lain,” katanya kepada tim media, Sabtu (24/10/2026). Perjalanan yang dulu cukup 15–20 menit menuju pusat Kecamatan Sawang, tapi akibat bencana banjir bandang yang menerjang, mereka harus memutar hingga satu jam setengah dengan sepeda motor. Hampir dua setengah jam jika naik mobil.

Anak-anak sekolah terpaksa banyak yang berhenti belajar. Harga bensin melonjak, dan hanya segelintir yang mampu menempuh jalan memutar itu. Sebagian besar anak-anak hanya tinggal di rumah, menunggu jembatan kembali.

Lebih memilukan adalah urusan kesehatan. Puskesmas terdekat di Sawang tak bisa dijangkau. Pasien yang membutuhkan pertolongan medis terpaksa berobat secara tradisional atau menempuh perjalanan jauh melalui wilayah Bireuen. “Kalau ada yang sakit parah, harus lewat Geurugok dulu. Ambulans harus memutar jauh sekali,” ungkap Saifulbahri, warga Rambong Payong.

Pesonel TNI AD bersama para pekerja, masih terus bekerja membangun Jembatan Perintis Garuda di Desa Rambong Payong Kecamatan Sawang Kabupaten Aceh Utara. (Foto: Tim Media Satgas PRR)

Lhok Bayu dikenal sebagai kampung yang kaya hasil bumi: pisang, pinang, kelapa, sawit, rambutan, langsat, dan durian. Namun ketika jembatan putus, kekayaan alam itu terasa seperti terkunci di balik tembok. Warga harus memikul atau mendorong gerobak sejauh beberapa kilometer sebelum menemui jalan yang bisa dilalui kendaraan. Sebagian besar tanaman tua mati tersapu banjir, sehingga pendapatan anjlok drastis.

“Kadang-kadang menggunakan gerobak ataupun mengangkut dengan badan sendiri hampir beberapa kilometer supaya bisa dimuat di kendaraan,” cerita Mursalim.

Jembatan Membangkitkan Semangat

Kini, setiap suara las dan deru mesin di lokasi pembangunan Jembatan Garuda, warga menyaksikan dengan harapan. Personel TNI AD bergotong-royong dari pagi hingga sore, menyambung ruas yang hilang. Setelah selesai, jembatan akan dilalui sepeda motor, cukup untuk mengantar anak sekolah, membawa pasien ke puskesmas, dan mengangkut hasil kebun tanpa harus berjalan berkilo-kilometer.

Saifulbahri tersenyum melihat kemajuan itu: “Alhamdulillah, nanti ekonomi masyarakat mungkin akan pulih. Kalau ada panen, mesti lewat sini. Karena kalau lewat tempat lain, jauh lagi.” Anak-anak akan kembali bersekolah dengan 10–15 menit perjalanan, bukan setengah jam lebih memutar. Warga bisa kembali ke ladang, menanam bibit baru, dan bermimpi tentang panen berikutnya.

Meskipun jembatan sedang dibangun, perjuangan belum sepenuhnya selesai. Saat bencana terjadi, sembilan rumah warga dilaporkan hanyut tak berbekas, 15 rusak ringan, delapan rusak sedang. Bibit tanaman yang mati belum tergantikan sepenuhnya. Bantuan Jaminan Hidup dan stimulan ekonomi sudah diterima, namun hunian tetap dan bibit pertanian masih menjadi kebutuhan mendesak yang mereka harapkan segera menyusul.

“Kami mohon agar kebun kami yang rusak bisa diganti bibitnya. Biar lambat, kami sabar menunggu panen berikutnya. Asal jalan dan jembatan sudah ada, kami akan mulai menanam lagi,” pinta Mursalim. . Ia berharap kebun kembali memberikan hasil, meskipun pendapatan tersebut belum dapat diperoleh dalam waktu dekat.

Sementara itu, di lokasi pembangunan, besi demi besi dipasang dengan teliti. Setiap bagian yang terpasang adalah sepotong harapan yang kembali utuh. Jembatan Perintis Garuda mungkin tak lebar dan megah, namun bagi warga Lhok Bayu dan Rambong Payong, ia adalah jalan pulang menuju kehidupan yang lebih baik. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER