BerandaBeritaPenenun Muda Merawat Warisan Wastra Aceh

Penenun Muda Merawat Warisan Wastra Aceh

Bagi Mukti, tenun bukan sekadar kain bermotif tradisional. Ia melihat peluang untuk membawa warisan Aceh itu lebih dekat dengan gaya berpakaian anak muda masa kini.

Kaki Mukti Rahmah menginjak pedal alat tenun, sementara kedua tangannya mengatur benang yang terentang. Sesekali, ia harus memastikan susunan benang tetap rapi agar motif yang dikerjakan tidak berubah. Jika benang putus atau pola tak terbentuk sebagaimana mestinya, ia harus mencoba lagi.

Di tengah riuh pengunjung Meuseuraya Festival 2026, Mukti, 20 tahun, tak hanya menenun kain. Ia juga memperkenalkan motif-motif tenun Aceh kepada pengunjung yang singgah di stan Tenun Kutaraja, tempatnya belajar sejak November 2025.

Kepada pengunjung, Mukti menunjukkan kain bermotif peluru dan pucuk rebung, corak yang menyerupai tunas bambu muda. Ia menjelaskan makna dan bentuk motif tersebut sembari memperlihatkan bagaimana benang-benang yang semula terpisah disusun dengan teliti hingga membentuk selembar kain.

Namun, ada hal lain yang ingin diperkenalkannya selain motif dan proses menenun: tenun Aceh tidak harus selalu menunggu acara adat untuk dikenakan. Mukti membayangkan kain tradisional itu hadir dalam busana yang lebih dekat dengan keseharian anak muda, mulai dari vest, crop top, hingga outer dengan aksen tenun.

“Anak muda sekarang kan suka vest begitu. Jadi, bisa dipadukan dengan vest, crop top, atau outer yang ada aksen tenunnya,” kata Mukti saat ditemui di stan Tenun Kutaraja, Balai Meuseuraya Aceh, Banda Aceh, Kamis (22/10/2026).

Bagi Mukti, tenun bukan sekadar kain bermotif tradisional. Ia melihat peluang untuk membawa warisan Aceh itu lebih dekat dengan gaya berpakaian anak muda masa kini.

Ketertarikan tersebut tumbuh ketika ia mulai mengenal Tenun Kutaraja. Lulusan SMK Negeri 3 Banda Aceh jurusan tata busana ini bergabung setelah diajak seorang teman. Dari sana, ia belajar menenun langsung melalui praktik.

Mukti harus membiasakan diri mengoordinasikan gerakan tangan dan kaki, memahami cara kerja alat tenun, serta menjaga susunan benang agar motif terbentuk sesuai pola. Sekitar tiga bulan dibutuhkannya untuk mulai lebih terampil.

Proses itu tidak selalu berjalan mulus. Benang yang putus atau motif yang tidak terbentuk sempurna membuatnya harus memeriksa kembali pekerjaan, memperbaiki susunan benang, bahkan mengulang proses menenun.

“Sekali-sekali kalau misalnya benangnya putus, kadang hilang motif, kita coba lagi,” ujarnya.

Dari proses tersebut, Mukti belajar bahwa selembar kain tenun tidak lahir dalam waktu singkat. Ada ketelitian, kesabaran, dan keterampilan yang harus terus diasah. Sejak bergabung dengan Tenun Kutaraja, ia mengaku telah menghasilkan puluhan karya dan mengenal beragam motif, di antaranya Lawang Pintu Aceh, Lawang Utok, zig-zag, dan panyot.

Namun, bagi Mukti, mempelajari tenun bukan semata-mata soal menghasilkan kain. Ia juga ingin melihat kain tradisional Aceh hadir dalam gaya berpakaian yang lebih sederhana dan dekat dengan keseharian anak muda.

Menurutnya, tenun memiliki keunikan yang dapat dipadukan dengan busana bergaya simpel tanpa kehilangan ciri khasnya. Dengan begitu, kain tradisional tidak hanya digunakan pada kesempatan tertentu, tetapi juga berpeluang menjadi bagian dari gaya berpakaian sehari-hari.

“Generasi seusia saya kadang suka fashion yang simpel. Dari melihat tenun, saya merasa kain ini punya keunikan tersendiri. Kenapa tidak dipadukan dengan sesuatu yang simpel, tetapi tetap bisa dipakai sehari-hari dan tidak membosankan?” katanya.

Mukti menyadari, menenun merupakan keterampilan yang telah diwariskan oleh generasi terdahulu. Baginya, warisan tersebut perlu dijaga dengan cara yang relevan dengan perkembangan zaman, termasuk melalui kreativitas dalam memadukannya dengan tren busana modern.

Di tengah kemudahan dan kecepatan hidup saat ini, ia justru memilih mempelajari keterampilan yang menuntut waktu dan kesabaran. Baginya, melestarikan tenun bukan berarti harus terpaku pada cara lama, melainkan mencari jalan agar warisan itu tetap dikenal, digunakan, dan diminati generasi berikutnya.

Mukti memperlihatkan kain bermotif tenun Aceh kepada pengunjung di stan Tenun Kutaraja pada Meuseuraya Festival 2026, Jumat (22/10/2026). (Foto/Cut Nauval D)

Ketika Warisan Membutuhkan Penerus

Persoalan regenerasi menjadi salah satu latar belakang terbentuknya Tenun Kutaraja pada 2023 dengan dukungan Bank Indonesia Provinsi Aceh.

Pemilik Tenun Kutaraja, Zulhelmi, mengatakan inisiatif tersebut berangkat dari kekhawatiran terhadap berkurangnya jumlah perajin tenun dan terbatasnya regenerasi.

“Bank Indonesia Provinsi Aceh melihat pengrajin tenun di Aceh yang sudah mulai berkurang dan tidak adanya regenerasi. Mereka takut kerajinan ini akan hilang,” kata Zulhelmi.

Tenun Kutaraja kemudian dikembangkan sebagai ruang produksi sekaligus tempat anak muda mempelajari keterampilan menenun. Dalam transkrip wawancara, Zulhelmi menyebut kelompok tersebut memiliki tujuh pengrajin dan dua penjahit untuk produk busana siap pakai. Jumlah dan status aktif tenaga kerja tersebut masih perlu dipastikan melalui konfirmasi terbaru.
Kehadiran penenun muda seperti Mukti menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kembali keterampilan tersebut kepada generasi berikutnya.

Namun, mengajak anak muda mencintai tenun tidak cukup hanya dengan mengingatkan mereka akan nilai tradisi. Mereka juga perlu melihat bagaimana keterampilan itu dapat dikembangkan menjadi pekerjaan dan produk yang memiliki tempat di pasar.

Di sinilah inovasi menjadi penting. Tenun tidak hanya perlu dipertahankan proses pembuatannya, tetapi juga dikembangkan agar bisa menjangkau konsumen dengan kebutuhan dan selera yang beragam.

Dari Kain Tradisional Menjadi Produk Sehari-hari

Tenun Kutaraja mengembangkan produk berupa kain dan songket, serta busana siap pakai seperti kemeja dan vest. Kelompok ini juga melakukan riset motif untuk membangun karakter yang membedakan produknya dari tenun lainnya.

“Kita juga menggunakan motif-motif yang kita riset sendiri sehingga beda dengan motif-motif yang lain. Dengan kita melihat motif aja, kita sudah tahu itu motif dari Tenun Kutaraja,” ujar Zulhelmi.

Mukti menjelaskan motif tenun Aceh kepada pengunjung yang singgah di stan Tenun Kutaraja, Meuseuraya Festival 2026, Jumat (22/10/2026). (Foto/Cut Nauval D)

Bahan yang digunakan antara lain benang katun dan sutra. Untuk pewarnaan, Tenun Kutaraja memanfaatkan bahan alami dari tumbuhan lokal, seperti mangrove, ketapang, dan kopi.

Upaya pengembangan juga dilakukan terhadap sisa potongan kain. Zulhelmi menjelaskan bahwa potongan tersebut direncanakan untuk diolah menjadi suvenir dan aksesori sehingga dapat memiliki nilai jual tambahan.

Dengan demikian, pelestarian budaya dan pengembangan usaha tidak harus berjalan sendiri-sendiri. Keduanya dapat saling mendukung ketika keterampilan tradisional dipertahankan sekaligus diberi ruang untuk beradaptasi.

Upaya memperkenalkan dan mengembangkan wastra Aceh juga dilakukan melalui pembinaan Bank Indonesia Provinsi Aceh.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Agus Chusaini, mengatakan wastra merupakan bagian dari kebudayaan yang perlu terus diperkenalkan agar tidak hilang.

“Wastra ini kan salah satu budaya yang ada di Aceh dan ini perlu kita gaungkan agar warisan ini tidak hilang,” kata Agus.

Menurut dia, pembinaan dilakukan antara lain melalui pelatihan menenun, menyulam, dan pengembangan motif. Bank Indonesia juga menghadirkan desainer dari tingkat nasional untuk berbagi pengetahuan dengan pelaku kreatif di Aceh serta membuka kesempatan bagi wastra Aceh tampil dalam peragaan busana nasional melalui kolaborasi dengan desainer.

Meuseuraya Festival 2026, yang berlangsung pada 22–25 Oktober dengan tema “Meukarya Wastra Indatu”, menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan produk tersebut kepada masyarakat.

Sekitar 150 UMKM dari berbagai sektor berpartisipasi dalam festival itu. Penyelenggara menargetkan transaksi sekitar Rp5 miliar dan kunjungan 1.200 orang per hari. Angka tersebut merupakan target, bukan realisasi transaksi maupun jumlah pengunjung.

Pameran memberi kesempatan bagi pengunjung untuk melihat produk secara langsung, mengenal pembuatnya, dan mengetahui proses produksinya. Namun, keberhasilan promosi tidak dapat dinilai hanya dari ramainya stan atau banyaknya orang yang melihat produk.

Bagi usaha seperti Tenun Kutaraja, pertanyaan berikutnya adalah apakah pengenalan tersebut berlanjut menjadi pembelian, apakah permintaan konsumen dapat dipertahankan, dan apakah usaha mampu memberikan pendapatan yang layak bagi para perajin.

Data penjualan, perkembangan pelanggan, harga produk, dan pendapatan perajin menjadi penting untuk melihat sejauh mana inovasi dan pembinaan menghasilkan manfaat ekonomi yang nyata.

Sebab, keberlanjutan tenun tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan motif yang indah. Ada pekerjaan yang harus terus tersedia, keterampilan yang harus diwariskan, serta konsumen yang perlu menemukan alasan untuk membeli dan menggunakan produk tersebut.

Menenun Masa Depan

Bagi Mukti, proses itu masih berlangsung dari hari ke hari. Ia terus belajar mengoperasikan alat tenun, memperbaiki benang yang putus, dan memahami motif yang ingin dibentuk.

Kini, ia juga memikirkan bagaimana kain yang dikerjakannya dapat hadir dalam pakaian yang dikenakan anak muda. Ia ingin tenun tidak hanya dikenal karena sejarahnya, tetapi juga karena bisa menjadi bagian dari gaya berpakaian masa kini.

“Kalau bisa kita bangkitkan lagi, kita kembangkan lagi,” ujar Mukti.

Keinginannya bertemu dengan tantangan yang lebih luas. Warisan budaya membutuhkan orang yang bersedia meneruskan keterampilan, tetapi keberlanjutan usaha juga membutuhkan inovasi, akses pasar, dan kesempatan ekonomi yang nyata bagi para pelakunya.

Vest atau outer dengan aksen tenun mungkin menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan motif Aceh kepada pemakai baru. Akan tetapi, di balik setiap produk, tetap ada tangan yang harus menguasai keterampilan menenun dan usaha yang perlu bertahan agar proses produksi berlanjut.

Di depan alat tenun, Mukti masih menghadapi benang yang sesekali putus. Ia mencoba lagi sampai susunan benang membentuk motif yang diinginkan.

Dari proses itulah masa depan tenun Aceh sedang diupayakan: bukan hanya dengan menjaga kain yang diwariskan, tetapi juga dengan memberi generasi muda kesempatan untuk mempelajari, mengembangkan, dan menemukan tempat baru bagi wastra dalam kehidupan mereka. (*)

 

#MeuseurayaFestival2026

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER