BerandaAcehWarga Tepian Krueng Sawang Merasa Aman Setelah Pemerintah Bangun Bronjong dengan Anggaran...

Warga Tepian Krueng Sawang Merasa Aman Setelah Pemerintah Bangun Bronjong dengan Anggaran Rp11,2 Miliar

Pekerjaan memang belum selesai sepenuhnya, namun satu hal yang kini dimiliki warga Sawang: harapan. Bahwa sungai yang dulu membawa malapetaka, kini tak lagi harus ditakuti.

Aceh Utara (Waspada Aceh) – Kini warga yang bermukim di pinggiran Krueng Sawang sudah merasa lebih tenang. Di tepian Krueng Sawang, Aceh Utara, deretan bronjong batu sudah berdiri kokoh. Ia menahan arus yang setahun silam sempat menyapu bersih permukiman di tepiannya. 

Pembangunan pengaman tebing sepanjang 168 meter dengan anggaran lebih dari Rp11,2 miliar ini bukan sekadar tumpukan batu dan kawat baja, tapi juga benteng aman bagi ribuan jiwa yang sempat kehilangan nyawa dan harta benda. Banjir bandang yang melanda pada akhir November 2025 itu mengubah wajah Krueng Sawang secara drastis. Sungai yang dulunya hanya selebar sekitar 10–40 meter, setelahnya melebar hingga mencapai 100 meter. Material kayu raksasa dan batu besar dihanyutkan arus, menghantam rumah, merobohkan jembatan, dan memisahkan warga antarkampung. 

Sebelas gampong di Kecamatan Sawang terkena dampak: Gunci, Kubu, Lhok Cut, Blang Cut, Sawang, Babah Krueng, Teungoh, Riseh Baroh, Riseh Tengah, Riseh Tunong, dan Riseh Teugoh. Rumah-rumah di tepian sungai lenyap, puluhan hektare sawah tertimbun lumpur, dan sepuluh unit dayah ikut hanyut terbawa arus.

“Saat itu air datang tiba-tiba. Semua orang kocar-kacir, berlarian menyelamatkan diri. Rumah, harta benda, semuanya dibawa banjir. Tidak ada yang sempat diselamatkan,” kenang Ibrahim, warga yang tinggal tak jauh dari bantaran sungai. “Kondisi banjir waktu itu memang semua orang kocar-kacir karena banjir terlalu lama dan terlalu besar. Tiba-tiba rumah roboh semua, harta benda. Terus, pokoknya enggak karuan,” lanjut Ibrahim.

Selama berbulan-bulan pascabencana, setiap kali langit mulai mendung, warga kembali gelisah. Tanpa tanggul yang memadai, setiap kenaikan permukaan air sungai menjadi ancaman nyata. Kekhawatiran itu kini mulai terjawab. Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, mencatat bahwa pembangunan bronjong sepanjang 168 meter itu menelan anggaran sebesar Rp11.268.553.547. Keberadaan bronjong ini telah memberi rasa aman warga yang bermukim di sekitarnya. 

“Alhamdulillah, kami dari masyarakat, syukur alhamdulillah kami ucapkan kepada pemerintah. Kami sangat bersyukur dengan adanya semacam bronjong kayak gini. Terus, selanjutnya, pemerintah pusat perhatikanlah kami-kami di Aceh ini. Karena masyarakat di Aceh ini sangat prihatin kondisinya setelah banjir bandang,” kata Ibrahim bersemangat.

Ibrahim juga berharap kepada pemerintah agar membangun jembatan karena beberapa kampung di seberang tidak ada jembatan. Terutama untuk memudahkan ibu-ibu dan anak-anak sekolah yang pergi-pulang sekolah. Saat ini belum ada jembatan sama sekali setelah banjir bandang sampai sekarang. Hanya jembatan darurat yang tersedia.

Muslem Mustafa, warga lainnya, menyebutkan bahwa pembangunan bronjong belum sampai ke sekitar rumahnya. “Kalau sudah sampai bangun ini, Alhamdulillah. Kita ucapkan terima kasih. Tapi dia bersyukur dengan adanya pembangunan bronjong di Krueng Sawang.

“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur. Dengan adanya bronjong ini, kami tidak lagi takut setiap kali hujan turun,” kata Muslem. “Dulu setiap malam kami cemas, sekarang bisa tidur lebih tenang,” tuturnya.

Sedangkan Amiruddin, Anggota DPRK Aceh Utara dari Dapil IV yang mencakup Sawang, Muara Batu, dan Dewantara, mengakui sebelum dibangun bronjong, warga sempat khawatir. “Selama belum ada dibuat bronjong, masyarakat waswas, Bang,” ujar Amiruddin. “Setiap kali air naik, tanah di pinggir sungai terus terkikis. Permukiman makin lama makin sempit. Sungai yang melebar itu seakan terus mendekat ke rumah-rumah warga.”

Pembangunan bronjong yang telah mencapai panjang
168 meter, di sekitar Krueng Sawang, Aceh Utara, memberi rasa aman warga setempat. (Tim Media Satgas PRR)

Atas pembangunan bronjong saat ini, Amiruddin menyampaikan apresiasinya kepada Presiden Prabowo Subianto, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, serta seluruh pihak yang telah memperhatikan Sawang. “Terima kasih sebesar-besarnya kepada pemerintah pusat. Bantuan bronjong, jembatan Bailey di Lhok Kuyun dan Lhok Bayu, serta huntap-huntara sudah mulai terlihat hasilnya. Ini bukti bahwa pemerintah hadir di tengah kami,” ungkapnya.

Meski demikian, kebutuhan masih panjang. Bronjong yang berdiri saat ini baru sebagian dari yang dibutuhkan. Ratusan meter lagi bantaran masih membutuhkan penguatan. “Sangat berfungsi, tapi belum selesai sepenuhnya. Di seberang sana masih ada rumah-rama warga yang tepiannya terus terkikis. Semoga kelanjutan pekerjaan segera menyusul,” harap Amiruddin.

Pemerintah telah menyiapkan rencana lanjutan melalui APBN 2027: pembangunan jembatan permanen, normalisasi sungai, dan penataan aliran sungai secara menyeluruh. Wakil Bupati Aceh Utara Tarmizi juga mengingatkan bahwa pemulihan tak berhenti di sungai saja. Sawah yang terputus dari irigasi membutuhkan perhatian berjenjang, dari pembersihan saluran yang masih bisa diselamatkan hingga revitalisasi lahan yang rusak berat tertimbun lumpur.

Pembangunan tanggul dan pengaman tebing Krueng Sawang mendapat perhatian Pemerintah Aceh. Pada 5 Oktober 2026, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah bersama Wakil Bupati Aceh Utara Tarmizi dan jajaran teknis meninjau pekerjaan tersebut. Mereka memeriksa kondisi tebing sekaligus membahas kebutuhan penanganan di kawasan sungai. Dalam laporan Media Center Pemerintah Aceh yang dipublikasikan InfoPublik (portal Kemkomdigi) pada 6 Oktober 2026, Fadhlullah menekankan pentingnya pemeriksaan langsung agar tindak lanjut pemerintah sesuai dengan persoalan yang dihadapi masyarakat.

Penanganan itu membutuhkan koordinasi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dan pihak balai yang memiliki kewenangan atas infrastruktur sungai. Laporan warga menjadi salah satu pijakan untuk menentukan kebutuhan, kemudian disandingkan dengan pemeriksaan teknis di lapangan. Melalui langkah tersebut, pembangunan pengaman tebing diharapkan dapat menjawab ancaman yang masih dihadapi permukiman di sekitar Krueng Sawang.

Kepala Satgas PRR Aceh, Safrizal ZA, Senin (19/10/2026), mengatakan, di sektor pemulihan lingkungan, program normalisasi sungai dan muara terus berjalan. Dari total 31 sungai sasaran, sebanyak 10 sungai telah selesai dinormalisasi dan 21 sungai masih dalam proses pengerjaan. 

Menurutnya, Satgas PRR Aceh akan terus mengawal penyelesaian seluruh program rehabilitasi dan rekonstruksi yang masih berjalan, sekaligus memastikan manfaat pemulihan dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

“Fokus kami saat ini adalah menuntaskan seluruh pekerjaan yang masih berproses, memperkuat koordinasi lintas sektor, dan memastikan setiap intervensi benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat. Pemulihan tidak hanya diukur dari selesainya pembangunan fisik, tetapi juga dari dipulihkannya aktivitas sosial, ekonomi, dan kualitas hidup warga secara berkelanjutan,” ujar Safrizal.

Sejak pembangunan bronjong, kini di tepian Krueng Sawang, susunan batu-batu dalam jaring kawat menjadi benteng warga. Pekerjaan memang belum selesai sepenuhnya, namun satu hal yang kini dimiliki warga Sawang: harapan. Bahwa sungai yang dulu membawa malapetaka, kini tak lagi harus ditakuti. Bahwa rumah mereka tetap berdiri di tanah yang aman. Dan bahwa tak lama lagi, jembatan akan kembali menyambungkan mereka ke sekolah, ke pasar, ke sanak saudara, tanpa rasa takut. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER