Harapan baru tiba melalui program revitalisasi sekolah pascabencana yang digagas pemerintah pusat, dikoordinasikan Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera yang dipimpin Muhammad Tito Karnavian, dengan dukungan Kemendikdasmen.
Pertengahan Oktober 2026. Di sudut halaman SDN 4 Dewantara, beberapa anak duduk berjejer di teras. Sebuah papan tulis pintar memancarkan gambar burung yang terbang lengkap dengan suaranya, menarik mata mereka yang biasanya menatap papan tulis biasa. Di belakang mereka, para pekerja sedang memasang rangka baja baru di atap ruang kelas yang terbuka. Di tengah bising suara palu dan gergaji, semangat belajar tak pernah padam.
Sekolah yang terletak di Jalan Seulanga, Dusun 3, Tambon Tunong, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, berdiri di atas lahan seluas 2.114 meter persegi. Tujuh ruang kelas, perpustakaan, rumah dinas guru, dan kantor guru tersusun membentuk huruf U, dihiasi pepohonan dan bunga yang tumbuh rapi. Sebanyak 93 murid (51 laki-laki dan 42 perempuan) dibimbing oleh 16 guru.
Pada tahun-tahun sebelumnya, sekolah ini cukup aktif menyelenggarakan proses belajar mengajar, meski dengan kesederhanaan. Semua aktivitas di sekolah dan aktivitas masyarakat sekitar tampak normal, hingga kemudian tiba-tiba banjir menerjang daerah itu pada akhir November 2025.
Asmawati, kepala sekolah yang akrab disapa Asma, masih teringat jelas hari itu. Tanggal 25 November, Hari Guru, ia sedang mengikuti upacara di kantor Bupati Aceh Utara. Sore harinya saat tiba di sekolah, air sudah setinggi lutut di pintu pagar. Ia segera meminta guru-guru menyelamatkan barang penting. Namun sekitar pukul 20.00 WIB, kabar datang: air sudah setinggi leher. Genangan terus naik hingga mencapai 2,5 meter. Semua yang telah dipindahkan ke tempat tinggi ikut terendam.

“Semua berantakan, hancur semua. Mobiler sekolah semua tenggelam, tidak bisa diselamatkan satu pun. Tidak bisa dipakai lagi,” kenang Asma dengan suara perlahan. Bukan hanya sekolah yang terdampak; rumah para guru dan penjaga sekolah di Tambon Tunong juga terendam.

Tiga minggu setelah air surut, seorang siswanya, Muhammad Syakir kembali ke sekolah. Lumpur masih menempel di lantai. Bukunya hilang, mejanya patah. Hari-hari pertama belajar, ia dan teman-temannya harus duduk di lantai.
“Sekolah masih kotor. Bukunya hilang. Waktu pergi ke sekolah, kursinya masih ada. Meja udah patah. Orang kami belajar di lantai,” cerita Syakir, matanya berbinar saat mengenang masa sulit itu. Meski sedih, ia tetap semangat.
“Senang karena bisa belajar dengan nyaman, damai, dan tenang,” ucapnya sambil tersenyum. Cita-citanya menjadi seorang Ustaz.

Mu’Izah juga mendapati buku-bukunya berserakan hingga ke belakang sekolah. Perasaan siswa ini terbelah: senang bisa kembali bertemu teman, namun sedih melihat ruang kelas yang rusak.
“Kita bersihin dulu, bersihin kelas dulu. Bangkunya sempat kotor. Jadi kita duduknya di lantai,” ceritanya.
Sementara bagi Habib, ketidakhadiran di sekolah berarti kehilangan kebersamaan dengan sahabat.

“Lama nggak ketemu teman-teman. Lama nggak belajar sama teman-teman,” akuinya. Meski tetap belajar di rumah, ia rindu suasana kelas.
Habib Akif Rabbani, siswa kelas V di sekolah ini, mengaku sempat merasa sedih karena tidak bisa ke sekolah, beberapa hari setelah bencana banjir. “Lama nggak ketemu teman-teman. Lama nggak belajar sama teman-teman,” tutur Habib.
Di tengah keterbatasan, para guru tak berhenti. Deddy Mansuria, guru sekaligus bendahara program revitalisasi, menjelaskan pembelajaran tetap dijalankan, termasuk secara daring saat sekolah belum bisa digunakan.
“Kalau terjadi hujan, biasanya siswa agak terganggu dalam belajar. Tapi kami tetap profesional dalam melakukan tugas,” tegasnya.

Harapan Baru dari Satgas PRR
Harapan baru tiba melalui program revitalisasi sekolah pascabencana yang digagas pemerintah pusat, dikoordinasikan Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) pascabencana Sumatera yang dipimpin Muhammad Tito Karnavian, dengan dukungan Kemendikdasmen. Bantuan cair ke rekening sekolah pada 12 Agustus 2026. Pekerjaan mencakup tujuh ruang, lima direhabilitasi berat, dua ringan, serta perbaikan kamar mandi dan perpustakaan. Saat ini progres pekerjaan mencapai 12 persen.
Asma menyampaikan rasa syukurnya: “Terima kasih kepada Bapak Presiden Republik Indonesia atas bantuan revitalisasi yang sudah dikucurkan. Walaupun baru 12 persen, ke depannya gedung sekolah kami menjadi layak dipakai anak-anak, lebih nyaman, dan membuat mereka lebih bersemangat belajar.”
Program ini bagian dari upaya besar pemulihan pendidikan di tiga provinsi terdampak bencana. Hingga September 2026, Kemendikdasmen mencatat total dukungan mencapai Rp5,6 triliun, dengan Rp3,03 triliun berupa bantuan revitalisasi bagi 3.132 sekolah dan Rp2,63 triliun telah tersalurkan ke rekening sekolah. Secara keseluruhan, 4.922 satuan pendidikan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mendapat dukungan.
Aceh menjadi wilayah dengan jumlah sekolah terdampak terbesar, yakni 3.120 sekolah, diikuti Sumatera Utara 1.149 sekolah, dan Sumatera Barat 653 sekolah. Untuk Aceh, rekap kondisi prasarana per 31 Mei 2026 mencatat 750 sekolah rusak ringan, 1.382 rusak sedang, 188 rusak berat, dan 65 masuk kategori relokasi. Sebanyak 735 sekolah lainnya tercatat tidak mengalami kerusakan prasarana. Dalam rekap pembelajaran pada laporan Oktober, 3.049 sekolah sudah menggunakan lokasi semula, sedangkan 71 sekolah masih memanfaatkan ruang kelas darurat. Kegiatan belajar telah berjalan kembali, sementara perbaikan fasilitas terus berlangsung.
Khusus Aceh Utara sendiri, dokumen pembaruan pemerintah daerah tanggal 14 Oktober 2026 masih mencatat 47 satuan pendidikan dalam kategori rusak berat dan 67 SMA/SMK dalam kategori rusak sedang. Rincian rusak berat meliputi satu PAUD, dua TK, 13 SD, 27 SMP, serta empat madrasah dan pondok pesantren.
Kepala Posko Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Aceh, Syafrizal ZA, sebelumnya mengatakan, proses pembelajaran di seluruh fasilitas pendidikan terdampak bencana di Aceh telah pulih 100 persen. “Pemulihan infrastruktur sekolah memang belum sepenuhnya tuntas, ditandai dengan masih adanya sekolah darurat yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar,” ujar Safrizal ZA.
Kini, di antara bunyi palu dan debu pembangunan, anak-anak SDN 4 Dewantara terus belajar. Di teras, di halaman, di mana saja mereka bisa berkumpul. Mereka tahu, dinding baru sedang tumbuh di belakang punggung mereka. Bukan sekadar bangunan, melainkan rumah kedua yang lebih kuat, lebih aman, dan penuh harapan.
Seperti kata Syakir, “Terima kasih sudah membangun sekolah kami, memberi buku agar kami bisa belajar, menjadi anak baik, dan menjadi anak yang sukses.” (*)



