BerandaAcehBGN Targetkan 5.000 Dapur MBG Terapkan Prasmanan hingga Akhir 2026

BGN Targetkan 5.000 Dapur MBG Terapkan Prasmanan hingga Akhir 2026

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menargetkan 1.000 hingga 5.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menerapkan sistem prasmanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga akhir 2026. Saat ini, sekitar 62 SPPG di berbagai daerah mengikuti uji coba sistem tersebut.

“Kami sedang melakukan uji coba selama dua minggu untuk melihat manfaat serta persoalan yang mungkin muncul dalam pelaksanaannya,” kata Sudaryono saat kunjungan kerja ke SD Negeri Cot Meuraja, Kecamatan Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar, Selasa, (13/10/2026).

Sudaryono mengatakan, jika uji coba tidak menemukan masalah signifikan, BGN menargetkan perluasan sistem prasmanan hingga 5.000 dapur pada akhir tahun ini.

Menurut dia, sistem prasmanan memungkinkan siswa mengambil tambahan makanan jika masih tersedia. Makanan juga dapat disajikan dalam keadaan hangat sehingga lebih segar saat dikonsumsi.

Selain itu, Sudaryono menilai sistem tersebut dapat menjadi sarana pendidikan bagi siswa untuk belajar mengantre, bersabar, dan melayani teman.

Meski demikian, penerapannya akan dimulai dari dapur dan sekolah yang memiliki kemampuan serta bersedia menjalankan sistem tersebut.

Kepala SD Negeri Cot Meuraja, Elliyana, mengatakan penerapan prasmanan perlu mempertimbangkan kondisi infrastruktur sekolah, terutama ketersediaan ruang makan.

“Prasmanan memang lebih memudahkan, tetapi untuk anak-anak SD, apalagi kelas 1, mungkin agak sulit. Kalau prasmanan, harus ada ruangan besar untuk tempat makan,” kata Elliyana.

Ia mengatakan sekolahnya tidak lagi memiliki lahan yang cukup untuk membangun ruang makan besar. Karena itu, ia belum dapat memastikan apakah sistem prasmanan lebih efektif dibandingkan pembagian makanan menggunakan ompreng yang selama ini diterapkan.

Elliyana mengatakan makanan MBG di sekolahnya biasanya tiba sekitar pukul 06.10 WIB agar dapat dibagikan kepada siswa sekitar pukul 07.00 WIB. Pembagian makanan dibantu guru dan petugas yang mengantarkan makanan ke kelas, terutama untuk siswa kelas 1, 2, dan 3.

Ia mengaku belum bisa membandingkan efektivitas kedua sistem tersebut karena sekolahnya belum pernah menerapkan prasmanan.

“Saya belum tahu juga karena belum pernah mencoba sistem prasmanan. Jadi, belum bisa membandingkan bagaimana efektivitasnya,” ujarnya. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER