BerandaAcehJejak Karantina Haji di Pulau Rubiah, Tergerus Zaman

Jejak Karantina Haji di Pulau Rubiah, Tergerus Zaman

Kini, waktu terlihat pada hampir setiap bagiannya. Cat dinding memudar. Lantai pecah. Sejumlah bagian atap rusak.

Pulau Rubiah, Sabang, menyambut wisatawan dengan laut jernih dan gugusan pepohonan. Namun perjalanan menuju salah satu situs bersejarah di pulau itu menghadirkan pemandangan berbeda.

Dari dermaga, sekitar 100 meter menuju kompleks eks Karantina Haji, pengunjung berjalan melalui jalan semen dan sejumlah anak tangga. Di beberapa titik, tumpukan sampah terlihat di sepanjang jalur.

Semak tumbuh di sisi jalan. Setelah beberapa menit berjalan, sebuah prasasti menjadi penanda kawasan bersejarah itu.

Di balik pepohonan berdiri bangunan bercat putih dengan gaya arsitektur kolonial Belanda. Bangunan tersebut pernah menjadi bagian dari kompleks karantina jemaah haji yang dibangun sekitar 1920.

Kini, waktu terlihat pada hampir setiap bagiannya. Cat dinding memudar. Lantai pecah. Sejumlah bagian atap rusak. Tumbuhan merambat tumbuh di sekitar dinding dan halaman bangunan.

Sekitar 20 meter dari bangunan pertama, terdapat bangunan lain dengan delapan ruangan. Ilalang setinggi pinggang orang dewasa tumbuh di antara kedua bangunan.

Tak banyak yang tersisa di dalamnya. Ruangan-ruangan kosong. Debu menempel di lantai. Beberapa bagian atap mengalami kerusakan.

Di kawasan yang dikenal sebagai salah satu tujuan wisata bahari di Sabang itu, situs sejarah tersebut seolah berada di jalur yang berbeda dari geliat wisata Pulau Rubiah.

Resa Rianda, warga Sabang, kembali mendatangi kawasan tersebut setelah beberapa tahun sebelumnya pernah berkunjung. Ia mendapati kondisi situs masih tidak banyak berubah.

“Sudah pernah datang ke sini sebelumnya. Sedih juga melihat kondisinya masih seperti ini,” kata Resa.

Menurut dia, Pulau Rubiah memiliki cerita yang lebih panjang daripada sekadar wisata laut. Situs Karantina Haji, kata dia, dapat dikembangkan menjadi bagian dari wisata sejarah dan religi.

Kondisi bagian dalam bangunan situs Karantina Haji Pulau Rubiah yang tampak rusak dan dipenuhi tumbuhan liar. (Foto/Cut Nauval D)

Ia berharap pemeliharaan tidak hanya dilakukan terhadap bangunan, tetapi juga kawasan secara keseluruhan.

“Harapannya dirawat dan dibenahi. Sayang kalau situs sejarah seperti ini dibiarkan. Padahal bisa menjadi wisata religi dan sejarah di Sabang,” ujarnya.

Gapura bertuliskan “Rubiah” juga menjadi perhatian Resa. Bagian fasilitas penanda destinasi itu terlihat mengalami kerusakan.

Bagi Resa, pembenahan tidak berarti mengubah wajah lama kawasan. Yang diperlukan adalah perawatan agar situs dan lingkungan di sekitarnya tetap layak dikunjungi.

40 Hari Menunggu Pulang

Kompleks Karantina Haji Pulau Rubiah dibangun pemerintah kolonial Belanda sekitar 1920. Kompleks itu dilengkapi sejumlah fasilitas, di antaranya klinik, tempat penginapan, ruang air, dan fasilitas listrik.

Wisatawan melihat prasasti penanda situs Karantina Haji Pulau Rubiah di Sabang. (Foto/Cut Nauval D)

Para jemaah haji yang pulang dari Tanah Suci menggunakan kapal laut tidak langsung diperbolehkan kembali ke kampung halaman.

Mereka harus menjalani karantina sekitar 40 hari. “Dulu belum ada vaksin seperti sekarang. Jadi orang yang pulang antarnegara itu membawa penyakit sehingga harus dikarantina dan itu wajib,” ujar Tgk Zulkufli, salah satu warga setempat.

Setelah dinyatakan sehat dan bebas dari penyakit, jemaah diperbolehkan melanjutkan perjalanan ke daerah asal.

Jemaah yang menjalani karantina di Pulau Rubiah bukan hanya berasal dari Aceh. Sejumlah jemaah dari wilayah lain di Sumatera juga pernah ditempatkan di sana.

Belanda memilih Pulau Rubiah karena lokasinya memiliki pelabuhan yang dapat disinggahi kapal-kapal besar. Menurutnya, pembangunan kompleks tersebut juga berkaitan dengan kepentingan politik dan ekonomi pemerintah kolonial di Aceh.

Setelah Jepang masuk pada 1942, fungsi kompleks tersebut berakhir. Bangunan-bangunan karantina kemudian digunakan sebagai barak dan markas tentara.

Seabad kemudian, sebagian bangunan itu masih bertahan. Namun, keberadaannya kini berhadapan dengan persoalan yang sederhana sekaligus mendasar, perawatan.

Sampah yang ditemui sepanjang jalan menuju situs, ilalang yang menutup sebagian kawasan, gapura yang rusak, serta bangunan dengan lantai dan atap yang mulai lapuk menunjukkan bahwa cerita sejarah tersebut belum sepenuhnya mendapatkan tempat dalam pengelolaan destinasi Pulau Rubiah.

Padahal, bagi wisatawan seperti Resa, perjalanan ke Pulau Rubiah tidak harus berhenti pada laut dan terumbu karang.

Ada sejarah yang menunggu untuk diceritakan. Dan bangunan tua itu masih berdiri, menunggu dirawat. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER