BerandaEkonomiLentera di Atas Kapal Tsunami: Kisah Fauziah Menembus Tiga Era Bencana Aceh

Lentera di Atas Kapal Tsunami: Kisah Fauziah Menembus Tiga Era Bencana Aceh

Dari usaha rumahan ini, Fauziah tidak hanya berhasil memulihkan ekonomi keluarganya, tetapi juga menyekolahkan, menguliahkan, hingga menikahkan kelima anaknya sendirian sebagai orang tua tunggal.

Terik matahari menyengat kawasan Lampulo, Banda Aceh, siang itu. Fauziah (57) tampak sibuk merapikan letak celemeknya yang bertuliskan “UD Tuna Kapal Tsunami”.

Napasnya masih sedikit tersengal, ia baru saja menempuh perjalanan keliling dari sejumlah toko suvenir di sudut-sudut kota Banda Aceh untuk mengecek stok keumamah (ikan kayu) miliknya yang dititipkan di sana.

Tanpa membuang waktu, Fauziah segera beranjak ke gerai miliknya yang berdiri tepat di depan situs sejarah Kapal Tsunami di Atas Rumah di Desa Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh. Di tempat yang menjadi saksi bisu salah satu bencana terbesar abad ini, berjejer etalase berisi berbagai macam produk olahannya, mulai dari ikan kayu kering, abon ikan, hingga keumamah siap saji.

Tangan Fauziah yang cekatan mulai mengambil sebilah pisau. Di balik meja produksi, ia dengan telaten mengiris-iris dan membersihkan potongan ikan tuna segar yang telah ia rebus dan jemur sebentar sebelumnya.

Di sela-sela aktivitasnya yang ritmis itu, ingatan Fauziah perlahan melayang ke masa lalu, ke hari di mana takdir menempanya melalui berlapis-lapis badai kehidupan.

Ditempa Konflik, Dihantam Tsunami

Sebelum namanya dikenal sebagai pengusaha sukses, mental Fauziah telah lebih dulu diuji oleh kecemasan bertahun-tahun di masa konflik bersenjata Aceh. Hidup di era itu berarti berteman akrab dengan ketakutan dan maut.

Fauziah mengolah ikan tuna menjadi keumamah di ruang produksi UD Tuna Kapal Tsunami, Lampulo, Banda Aceh. (Foto/Cut Nauval D)

Saat itu, Fauziah belum memproduksi ikan kayu dalam skala besar, hanya menerima pesanan musiman seperti abon atau dendeng ikan sembari fokus mengurus anak-anak di rumah.

Tinggal di Aceh pada masa konflik adalah tentang bagaimana cara bertahan hidup di antara desingan peluru. Fauziah bahkan pernah menyaksikan peristiwa penembakan langsung di depan mata kepalanya sendiri.

Razia ketat dan penggeledahan mendadak memaksa ia dan keluarganya harus berulang kali berlarian mencari tempat persembunyian yang aman.

Namun, rentetan peristiwa ekstrem itulah yang tanpa disadari menempa keberaniannya. Mentalnya dibentuk menjadi sekeras baja.

Belum kering trauma konflik dari benaknya, bumi Serambi Mekkah diguncang hebat pada Minggu pagi, 26 Desember 2004. Gempa dahsyat meruntuhkan isi rumah satu lantainya.

Karena panik, Fauziah hanya terduduk di pinggir jalan bersama bayinya yang masih merah. Ia tidak bisa berlari cepat seperti warga lain yang sudah mulai berteriak histeris, “Air laut naik! Air laut naik!”

Di tengah kepanikan dan keputusasaan, anak laki-lakinya berlari dari arah Tempat Pelelangan Ikan (TPI). “Bunda, naik terus ke situ!” teriak sang anak menunjuk ke arah rumah tetangga bertingkat dua di samping mereka.

Fauziah sempat ragu. Namun, ketika ia menunduk dan melihat air di dalam selokan mulai menggelegak abu-abu seperti belerang mendidih, ia tahu maut sedang mendekat. Anak laki-lakinya langsung mendorong tubuh Fauziah agar segera naik ke lantai dua.

Hanya dalam hitungan detik setelah mereka menapakkan kaki di lantai dua, gelombang tsunami hitam pekat menerjang dan menenggelamkan lantai satu. Air terus merangkak naik, memaksa mereka mendongak menatap loteng atap seng.

“Anak saya yang tendang. Dia masih tendang atap seng itu dengan kaki… Dengan kaki dia tendang atap seng. Begitu dia keluar kepalanya, dia minta tolong sama orang yang udah duluan naik (ke atas kapal),” tutur Fauziah dengan tatapan menerawang.

Atap seng disongket menggunakan kayu. Satu per satu, Fauziah dan anak-anaknya ditarik dari lubang loteng sempit itu menuju ke atas kapal nelayan raksasa yang tersangkut di atas rumah tetangganya.

Di atas kapal itu, di tengah guncangan gempa susulan dan kepungan air bah, Fauziah bersama ibu-ibu lainnya hanya bisa mendekap anak-anak mereka erat-erat sembari melantunkan surah Yasin dan azan.

Sore harinya, saat air mulai surut, Fauziah turun dari kapal. Pemandangan di depannya seketika membuat kakinya lumpuh. Rumahnya telah rata dengan tanah. Segala harta benda lenyap tak bersisa. Lebih dari itu, tsunami merenggut orang-orang tercintanya tanpa sempat mengucapkan perpisahan.

“Tidak teringat. Mama hilang, suami hilang… Kita kan sedih, menangis terus, jalan-jalan terus. Semua orang sama seperti kita,” ucapnya pelan.

Jasad ibu, suami, adik-adik, dan abangnya hilang ditelan samudra dan tidak pernah ditemukan hingga detik ini.

Dari Tenda Pengungsian Menuju Puncak UMKM

Kehilangan suami berarti hilangnya tiang penopang ekonomi keluarga. Sebagai kepala keluarga dengan lima anak yang masih kecil, Fauziah dihadapkan pada realitas hidup yang kejam di kamp pengungsian.

Pada tahun 2005, bermodalkan uang Rp500.000 hasil tabungan seadanya, ia nekat memulai usaha olahan ikan kayu di dalam tenda darurat.

Salah seorang warga sedang membersihkan lumpur yang menimbun rumahnya setelah banjir bandang menerjang Desa Meunasah Raya, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, yang terjadi pada akhir November 2025 . (Foto/Cut Nauval D)

“Belajar awal dulu Rp500.000 dapat ikan lima keranjang. Sekarang Rp500.000 cuma dapat satu keranjang,” kenang Fauziah membandingkan inflasi waktu.

Dengan bantuan pelatihan pengolahan pangan dari Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh, Fauziah perlahan bangkit. Ia mengamati bahwa keumamah tradisional Aceh yang berbentuk batangan keras sangat menyulitkan konsumen.

Ia pun berinovasi membuat keumamah suwir siap masak, dan belakangan, varian matang siap saji yang praktis.

Perjuangan itu tidak mudah. Masalah kemasan yang seadanya membuat produknya sempat ditolak oleh toko-toko besar. Namun, Fauziah tak menyerah. Ia aktif mengikuti program pembinaan dari dinas terkait, mengurus izin P-IRT, sertifikasi Halal, hingga mendapatkan bantuan kemasan gratis di Klinik Kemasan Banda Aceh.

Kini, usaha bernama UD Tuna Kapal Tsunami tersebut telah bermitra dengan sekitar 10 ibu rumah tangga di sekitarnya. Dari usaha rumahan ini, Fauziah tidak hanya berhasil memulihkan ekonomi keluarganya, tetapi juga menyekolahkan, menguliahkan, hingga menikahkan kelima anaknya sendirian sebagai orang tua tunggal.

Secara finansial, UMKM mandiri ini kini mampu meraup omset kotor berkisar Rp35 juta hingga Rp40 juta per bulan di hari-hari biasa. Bahkan, saat musim bencana hidrometeorologi melanda dan permintaan paket bantuan sosial melonjak, omsetnya bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Namun, operasional bisnisnya bukan tanpa batu sandungan. Fauziah kerap berhadapan dengan kendala permodalan yang besar saat harus memborong bahan baku melimpah demi mengamankan stok di freezer raksasa ketika musim paceklik ikan tiba.

Hampir 21 tahun setelah tsunami, bencana kembali datang ke Aceh. Pada akhir November 2025, hujan deras yang mengguyur berhari-hari memicu banjir dan longsor di sejumlah wilayah. Fauziah kembali menyaksikan wajah bencana, tetapi kali ini ia berada di sisi yang berbeda. Ia bukan lagi perempuan yang berlari menyelamatkan anak-anaknya dari terjangan air, melainkan seorang penyintas yang datang menghampiri orang-orang yang sedang menghadapi kehilangan.

Bersama Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI), Fauziah turun langsung membawa bantuan bagi warga terdampak. Di tengah tumpukan kebutuhan pokok, ia menemukan ada kebutuhan perempuan yang kerap tidak terlihat. Pembalut, pakaian dalam bersih, perlengkapan mandi hingga bedak dan lipstik menjadi hal yang mereka tanyakan. Fauziah memahami kebutuhan itu bukan sebagai kemewahan, melainkan bagian dari upaya perempuan mempertahankan martabatnya setelah bencana merenggut rumah, harta benda, bahkan rasa aman.

“Saya rasa belum (pemerintah memahami kebutuhan dasar perempuan) memang ada cuma belum 100 persen. Karena kebutuhan perempuan itu mereka butuh juga pembalut, pakaian dalam yang bersih, peralatan dapur, bahkan bedak dan lipstik,” ungkap Fauziah.

Bagi sebagian orang, bedak atau lipstik mungkin dianggap kebutuhan sekunder yang sepele di tengah bencana. Namun bagi perempuan di pengungsian, hal itu berkaitan erat dengan martabat diri (dignity) dan kesehatan mental mereka agar tetap merasa manusiawi setelah kehilangan tempat tinggal.

Melalui jembatan emosional sesama penyintas, para korban wanita lebih berani terbuka dan berbisik menyuarakan kebutuhan mendesak ini langsung kepada Fauziah.

Kelemahan sistem ini juga terlihat pada aspek pemulihan ekonomi pasca-bencana. Kebijakan pemerintah sering kali hanya berhenti pada tataran formalitas pemberian bantuan alat kerja tanpa adanya pendampingan mental (trauma healing) dan pengawasan berkelanjutan. Akibatnya, bantuan tersebut sering kali dijual kembali oleh korban demi menyambung hidup jangka pendek.

Beragam produk olahan ikan hasil produksi UD Tuna Kapal Tsunami milik Fauziah, mulai dari keumamah hingga abon ikan. (Foto/Cut Nauval d)

Guna memutus rantai ketergantungan itu, Fauziah meminta ibu-ibu korban banjir untuk meluruskan niat usaha, menjaga persaingan sehat, melek teknologi dengan memanfaatkan media sosial (seperti TikTok dan Instagram) untuk jualan, serta terbuka menerima kritik pelanggan demi evaluasi mutu.

Menjadi Lentera yang Tak Boleh Padam

Bagi Fauziah, tantangan iklim dan bencana yang kian sering terjadi di Aceh menuntut perempuan untuk mengambil peran lebih besar. Ketangguhan itu diuji secara nyata ketika badai banjir menyulitkan transportasi kemasan, memutus jalur logistik dari Medan, hingga menghentikan pasokan gas elpiji beberapa waktu lalu.

Di sisi lain, pesanan keumamah dari para donatur justru melonjak tajam untuk dijadikan paket bantuan pangan instan darurat. Menolak menyerah pada keterbatasan, Fauziah memimpin pekerjanya untuk kembali ke cara tradisional: memasak ribuan pak pesanan menggunakan tumpukan kayu bakar di belakang rumah agar pasokan pangan darurat bagi korban banjir tetap bisa dikirimkan tepat waktu.

Saat ditanya mengenai filosofi hidupnya, Fauziah tersenyum tipis sembari memandang hamparan atap rumah di sekitar situs kapal tsunami.

“Peran perempuan ini seperti lentera. Seperti lentera yang membuat cahaya dalam keluarga, itulah perempuan. Karena dia tidak sanggup melihat anak-anaknya tidak memiliki apa yang dimiliki anak orang lain. Perempuan ini adalah tiang tempat bergantung.”

Fauziah adalah bukti nyata dari lentera itu. Di masa lalu, ia menyelamatkan keluarganya dari desingan peluru konflik dan gulungan tsunami.

Kini, di tengah bayang-bayang krisis ekologis Aceh masa kini, ia memilih untuk terus menyala. Menyalakan cahaya harapan bagi perempuan-perempuan penyintas lainnya agar mampu bangkit berdiri dan tidak karam dihantam badai kehidupan. (*)

  • Liputan ini merupakan bagian dari program Sustainability Journalism Fellowship (SJF) 2026 “Journalist as Changemakers: Driving Sustainability Through Stories and Action”, yang didukung oleh CIMB Niaga dan Institute of Indonesia Journalism (IIJ).
BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER