Banda Aceh (Waspada Aceh) – Ketua Umum DPP Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) meminta seluruh kader Demokrat ikut mengawal proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pascabencana yang terjadi pada akhir 2025.
AHY mengatakan, pemulihan Aceh tidak hanya berkaitan dengan pembangunan kembali infrastruktur yang rusak, tetapi juga harus mampu membangkitkan perekonomian masyarakat yang terdampak bencana.
Hal itu disampaikan AHY secara virtual saat membuka Musyawarah Daerah (Musda) VI Partai Demokrat Aceh yang berlangsung di Ballroom Anggun, Muraya Hotel, Banda Aceh, Rabu (19/8/2026).
Menurut AHY, bencana yang melanda Aceh menyebabkan kerusakan pada berbagai fasilitas publik dan permukiman warga. Kerusakan tersebut antara lain terjadi pada jalan, jembatan, irigasi, rumah warga, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan hingga rumah ibadah.
“Semua itu harus bisa kita kawal agar rehabilitasi dan rekonstruksi benar-benar kembali membangkitkan semangat masyarakat dan tentunya memulihkan roda perekonomian di Aceh,” kata AHY dalam sambutannya.
AHY juga menyoroti dampak bencana terhadap sektor ekonomi riil dan ekonomi lokal. Menurut dia, pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) turut merasakan dampak dari lumpuhnya aktivitas ekonomi akibat bencana.
“Kita tahu bencana yang dahsyat itu juga telah melumpuhkan sektor-sektor ekonomi riil, ekonomi lokal, para pelaku UMKM, dan tentunya kita berharap ini bisa segera kita pulihkan dan normalisasi menjadi semakin baik ke depan,” ujarnya.
AHY meminta kader Demokrat, termasuk para wakil rakyat, tidak hanya hadir ketika momentum pemilu atau pilkada berlangsung. Ia menekankan pentingnya kehadiran kader di tengah masyarakat, khususnya warga yang membutuhkan perhatian dan bantuan.
“Pemerintah tidak mungkin sendirian. Maka seluruh jajaran Demokrat, baik itu struktur, terlebih para wakil rakyat, mari sekali lagi kita tunjukkan bahwa Demokrat hadir setiap saat untuk membantu masyarakat yang membutuhkan kita, bukan hanya hadir pada saat pemilu atau pilkada saja,” kata AHY.
AHY menilai kepedulian terhadap masyarakat juga harus menjadi bagian dari upaya membangun kembali kepercayaan publik terhadap Partai Demokrat di Aceh. Ia menyebut Aceh memiliki sejarah panjang sebagai salah satu basis kuat Demokrat.
“Demokrat sejarahnya kuat di Aceh. Aceh itu dulu sangat membiru, dan mari kita punya tekad untuk kembali membirukan Aceh dengan cara-cara politik yang juga simpatik, yang bisa diterima dengan baik oleh masyarakat,” ujarnya.
Menurut AHY, konsolidasi organisasi melalui Musda VI menjadi momentum bagi Demokrat untuk membangun kembali kekuatan politik di Aceh. Ia berharap Demokrat kembali memiliki peran kuat, baik di lembaga eksekutif maupun legislatif di tingkat pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota.
“Ini menjadi momentum bagi kita untuk bangkit dari kondisi hari ini menuju Demokrat yang kembali kuat, memiliki peran di eksekutif maupun di parlemen pada tingkat pusat, provinsi, maupun kabupaten/kota, terutama dalam kontestasi Pemilu 2029 mendatang maupun pemilihan kepala daerah setelahnya,” kata AHY.
Musda VI Partai Demokrat Aceh mengusung tema “Konsolidasi Demokrat Rapatkan Barisan, Bangun Kekuatan, Rebut Kemenangan.” Kegiatan tersebut dihadiri Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat Herman Khaeron, Plt Ketua DPD Partai Demokrat Aceh Rian Firmansyah Syafruddin atau Rian Syaf, serta para ketua dan sekretaris DPC Partai Demokrat kabupaten/kota se-Aceh.
Berdasarkan laporan Ketua Panitia Miswar Ibrahim Njong, Musda VI diikuti perwakilan dari 23 DPC Partai Demokrat kabupaten/kota se-Aceh sebagai peserta resmi. Pembukaan kegiatan turut dihadiri sekitar 250 tamu undangan yang terdiri dari anggota DPRA, anggota DPRK se-Aceh dan jajaran pengurus DPD Partai Demokrat Aceh. (*)



