Jakarta (Waspada Aceh) – Empat hari setelah dua gempa dahsyat bermagnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang wilayah Venezuela, upaya pencarian dan penyelamatan terus digencarkan.
Tim SAR gabungan, warga setempat, serta keluarga korban masih berpacu dengan waktu untuk mengevakuasi orang-orang yang terjebak di antara tumpukan bangunan yang runtuh di berbagai wilayah terdampak bencana.
Pada Minggu (28/6/2026), tim penyelamat yang terdiri dari tenaga profesional dari Amerika Serikat, Prancis, dan Venezuela mencatat keberhasilan besar. Mereka berhasil mengeluarkan seorang pria beserta anaknya yang terperangkap di bawah reruntuhan selama empat hari penuh.
Keberhasilan ini menjadi secercah harapan di tengah situasi yang semakin sulit, meskipun para ahli menyatakan peluang menemukan korban yang masih hidup akan terus menyusut seiring berlalunya waktu.
Secara umum, jendela waktu paling krusial untuk penyelamatan adalah 72 jam pascabencana; setelah periode tersebut, kemampuan tubuh manusia bertahan tanpa makanan dan air bersih akan menurun drastis.
Hingga Minggu sore waktu setempat, otoritas resmi melaporkan jumlah korban jiwa telah meningkat menjadi sedikitnya 1.450 orang. Sementara itu, ribuan orang lainnya masih dinyatakan hilang dan belum diketahui keberadaannya.
Di tengah keterbatasan peralatan dan akses jalan yang terputus, warga sipil pun turun tangan secara mandiri, menggali tumpukan puing dengan peralatan seadanya demi mencari kerabat atau tetangga yang belum ditemukan. Namun, keterlibatan warga ini juga memunculkan kritik terhadap kinerja pemerintah, yang dinilai lambat dan kurang memadai dalam merespons kebutuhan mendesak pascabencana.
Pelaksana Tugas Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez, dalam keterangannya pada Minggu malam menegaskan bahwa upaya pencarian tidak akan dihentikan meskipun batas waktu kritis telah terlewati.
“Kami tidak akan berhenti sampai setiap orang yang terjebak ditemukan, baik dalam keadaan selamat maupun untuk dikembalikan kepada keluarganya,” ujarnya.
Sebanyak lebih dari 2.600 petugas penyelamat dari berbagai negara kini telah tiba di lokasi bencana, dilengkapi dengan peralatan pencarian canggih dan anjing pelacak terlatih untuk menjangkau area yang sulit diakses.
Menurut data dari Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA), gempa berkekuatan besar yang melanda wilayah pesisir Karibia ini menimpa negara yang tengah menghadapi tantangan ekonomi dan stabilitas politik yang belum pulih sepenuhnya.
Hal ini membuat proses penanganan darurat menjadi lebih rumit, mengingat infrastruktur umum yang sudah lemah sebelumnya semakin rusak parah akibat guncangan. Kerusakan jalan, jembatan, dan jaringan listrik serta komunikasi menjadi hambatan utama dalam mendistribusikan bantuan dan menggerakkan tim penyelamat secara efektif.
PBB memperkirakan jutaan warga saat ini membutuhkan tempat penampungan, air bersih, layanan kesehatan, serta kebutuhan pokok lainnya guna mencegah munculnya krisis kesehatan yang lebih luas pascabencana.
Meskipun tantangan di lapangan sangat berat, semangat gotong royong antara tim internasional dan warga lokal terus dipertahankan. Setiap korban selamat yang berhasil dikeluarkan dari bawah reruntuhan menjadi pengingat bahwa harapan masih ada, sekaligus mendorong seluruh pihak untuk terus bekerja tanpa kenal lelah. (*)



