“Di tengah popularitas Iboih dan Pulau Rubiah, masih ada satu surga tersembunyi yang belum banyak dijamah wisatawan, yaitu Pulau Klah dengan pesona alam yang masih perawan”
Ketika berbicara tentang wisata Sabang, nama Iboih dan Pulau Rubiah hampir selalu menjadi destinasi yang pertama kali terlintas di benak wisatawan. Keindahan bawah lautnya yang mendunia menjadikan kawasan tersebut sebagai ikon wisata bahari di ujung barat Indonesia.
Namun di balik popularitas Iboih, Sabang masih menyimpan banyak surga tersembunyi yang belum banyak dikenal wisatawan. Salah satunya adalah Pulau Klah, sebuah pulau kecil di kawasan Gampong Krueng Raya yang kini mulai dilirik sebagai destinasi alternatif untuk melengkapi pengalaman berwisata di Pulau Weh.
Pulau yang berada di Teluk Sabang ini dapat dijangkau dengan perjalanan laut sekitar 15 menit menggunakan perahu dari kawasan Krueng Raya. Dari jalur Balohan menuju pusat Kota Sabang, siluet Pulau Klah tampak berdiri anggun di tengah laut biru, seolah menjadi gerbang alami yang menyambut setiap wisatawan yang datang ke Pulau Weh.
Melihat potensi besar yang dimiliki kawasan tersebut, Dinas Pariwisata Kota Sabang mulai mendorong pengembangan Pulau Klah sebagai destinasi wisata unggulan baru.
Kepala Bidang Destinasi dan Industri Pariwisata Dinas Pariwisata Kota Sabang, Zulfikar, mengatakan pengembangan Pulau Klah merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memperluas sebaran kunjungan wisatawan agar tidak hanya terpusat di Iboih dan Pulau Rubiah.
“Ke depan kita ingin mengembangkan Pulau Klah. Jadi wisatawan tidak hanya terfokus ke Pulau Rubiah atau Iboih saja, tetapi juga bisa menikmati destinasi lain yang punya daya tarik berbeda,” ujarnya saat diwawancarai Waspadaaceh.com, Minggu (7/6/2026).
Surga Bahari yang Masih Alami
Pulau Klah menawarkan panorama alam yang masih sangat asri. Air lautnya yang jernih memungkinkan wisatawan melihat keindahan bawah laut bahkan dari atas permukaan.

Hamparan terumbu karang yang masih terjaga menjadi rumah bagi berbagai jenis ikan tropis berwarna-warni. Salah satu daya tarik yang mulai dikenal wisatawan adalah keberadaan spot ikan nemo atau ikan badut yang hidup di antara anemon laut.
Bagi pecinta snorkeling dan diving, kawasan ini menghadirkan pengalaman berbeda. Tidak seramai lokasi wisata populer lainnya, suasana bawah laut Pulau Klah masih terasa tenang dan alami.
“Sekarang yang mulai berkembang itu juga kawasan Krueng Raya. Di Pulau Klah ada spot ikan nemo yang cukup bagus dan mulai diminati wisatawan,” kata Zulfikar.
Selain snorkeling dan menyelam, perairan sekitar Pulau Klah juga menjadi lokasi favorit bagi wisatawan yang gemar memancing. Laut yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia menyimpan berbagai jenis ikan yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para penghobi memancing.
Menyimpan Jejak Sejarah
Tidak hanya menawarkan wisata bahari, Pulau Klah juga menyimpan nilai sejarah yang menarik untuk ditelusuri. Di pulau tersebut berdiri sebuah mercusuar peninggalan masa kolonial Belanda yang hingga kini masih berdiri kokoh. Bangunan itu menjadi saksi perjalanan panjang pelayaran di wilayah barat Indonesia sekaligus penanda penting bagi kapal-kapal yang melintas di perairan Sabang.
Menurut Zulfikar, keberadaan mercusuar tersebut membuka peluang pengembangan wisata edukasi yang menggabungkan unsur sejarah, budaya, dan alam.
“Di sana ada mercusuar peninggalan zaman Belanda. Ini bisa menjadi wisata edukasi juga. Wisatawan bisa mengetahui sejarahnya, fungsi mercusuar itu dan bagaimana perannya pada masa lalu,” jelasnya.
Keberadaan situs bersejarah tersebut menjadikan Pulau Klah tidak sekadar menawarkan keindahan alam, tetapi juga pengalaman belajar yang memperkaya wawasan wisatawan.Trekking dengan Panorama Laut Sabang. Potensi lain yang sedang disiapkan adalah pengembangan jalur trekking menuju sejumlah titik menarik di Pulau Klah.
Rencana ini diharapkan mampu menghadirkan pilihan aktivitas baru bagi wisatawan yang menyukai petualangan alam. Dengan jalur trekking yang memanfaatkan kontur alami pulau, pengunjung nantinya dapat menikmati panorama laut Sabang dari ketinggian sekaligus menjelajahi kawasan mercusuar bersejarah.
“Kita punya rencana membuat jalur trekking di sana. Jaraknya juga tidak terlalu jauh dari pusat kota, sehingga cukup mudah dijangkau wisatawan,” ujar Zulfikar.
Konsep wisata yang memadukan aktivitas laut dan daratan ini dinilai mampu memperpanjang lama tinggal wisatawan di Sabang sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.
Wisata Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan
Di tengah meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Sabang dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah Kota Sabang juga menaruh perhatian besar terhadap aspek keberlanjutan lingkungan.
Menurut Zulfikar, konsentrasi wisatawan yang terlalu tinggi di satu kawasan berpotensi memberikan tekanan terhadap ekosistem, terutama pada kawasan wisata bahari.

Karena itu, pengembangan Pulau Klah menjadi bagian dari upaya menyebarkan kunjungan wisatawan ke berbagai destinasi agar dampak lingkungan dapat diminimalkan.
“Wisata massal memiliki risiko terhadap lingkungan. Karena itu kita perlu mengembangkan destinasi-destinasi lain agar kunjungan wisatawan tidak hanya bertumpu di satu tempat,” katanya.
Konsep wisata ramah lingkungan menjadi prioritas dalam pengelolaan Pulau Klah. Edukasi kepada wisatawan untuk menjaga kebersihan laut, tidak merusak terumbu karang, serta menghormati ekosistem pesisir terus didorong sebagai bagian dari pembangunan pariwisata berkelanjutan.
Menggerakkan Ekonomi Masyarakat
Pengembangan Pulau Klah juga diharapkan memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Krueng Raya, Irwansyah, mengatakan keberadaan Pulau Klah telah memberikan peluang usaha bagi warga, mulai dari jasa transportasi laut hingga sektor kuliner.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama dalam menjaga kelestarian kawasan wisata. Warga setempat secara rutin mengingatkan pengunjung agar tidak merusak terumbu karang maupun membuang sampah sembarangan.
Pulau Klah menawarkan suasana yang tenang. Tidak ada bangunan besar ataupun aktivitas komersial yang berlebihan. Keaslian alamnya justru menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang ingin menikmati ketenangan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.
Dengan kombinasi wisata bahari, sejarah, edukasi, dan petualangan alam, Pulau Klah memiliki semua unsur untuk berkembang menjadi destinasi unggulan baru di Sabang.
Di ujung barat Nusantara, pulau kecil ini menyimpan pesona yang belum banyak terungkap. Keindahan bawah laut yang masih terjaga, mercusuar bersejarah yang berdiri kokoh, serta komitmen masyarakat menjaga alam menjadikan Pulau Klah sebagai simbol harmoni antara pariwisata dan pelestarian lingkungan.
Pulau Klah bukan sekadar destinasi wisata baru. Ia adalah wajah masa depan pariwisata Sabang yang berkelanjutan, inklusif, dan tumbuh bersama masyarakat. (*)



