Banda Aceh (Waspada Aceh) – Selama Januari – Juli 2021, Badan SAR Nasional (Basarnas) Aceh mencatat sebanyak 24 korban meninggal dunia akibat tengelam atau terseret arus.
Hal itu disampaikan Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Banda Aceh, Budiono, saat diwawancarai Waspadaaceh.com, Jumat (30/7/2021), terkait jumlah korban tenggelam yang dilaporkan/ditangani oleh Basarnas Aceh.
Budiono menyebutkan, usia korban yang tenggelam di tahun 2021 sangat bervariasi, mulai dari anak-anak hingga orang tua, dengan kronologis kejadian juga sangat beragam.
“Kita tidak bisa menyebutkan korban yang tengelam didominasi oleh kalangan mana saja. Karena korban dan kronologi kejadianpun sangat bervariasi mulai dari tenggelam saat berwisata di pantai/sungai hingga tenggelam saat menyeberangi sungai ketika hendak ke kebun,” beber Budiono.
Budiono melanjutkan, berbeda pada 2 tahun yang lalu, di mana kronologi korban tenggelam itu didominasi oleh masyarakat yang berwisata di pantai. Namun untuk kasus serupa tahun 2021 ini tidak terlalu mendominasi karena masa pandemi COVID-19, banyak tempat wisata yang tutup sehingga jumlah wisatawan menjadi menurun.
Banyaknya korban tengelam di Aceh, Basarnas sebagai perpanjangan tangan pemerintah, melaksanakan tugas di bidang pencarian dan pertolongan. Sejauh ini, tutur Budiono, beberapa tindakan pencegahan sudah dilakukan dengan membuat rapat koordinasi dengan para stakeholder terkait masalah keselamatan.
“Seperti beberapa tahun lalu, kita juga berusaha mendorong pengelola pantai Lhoknga untuk membentuk organisasi penjaga pantai dan setiap tahun kita rutin memberikan pelatihan SAR kepada masyarakat/organisasi masyarakat,” ucapnya.
Namun hal itu menurutnya belum cukup. Pemerintah daerah melalui dinas pariwisata harus memastikan di setiap tempat wisata terdapat penjaga pantai. Karena hal itu amat penting dalam mencegah jatuhnya korban tenggelam.
“Dari sisi Basarnas sendiri khususnya Basarnas Aceh, Kami siap memberikan bantuan berupa pelatihan teknik pertolongan di air bagi calon penjaga pantai tersebut,” tutupnya. (Kia Rukiah)