Beranda Pariwara Wujudkan Aceh Carong, Ini Upaya Tingkatkan Kualitas Pendidikan di Tengah Pandemi COVID-19

Wujudkan Aceh Carong, Ini Upaya Tingkatkan Kualitas Pendidikan di Tengah Pandemi COVID-19

BERBAGI
Gubernur Aceh, Ir.H.Nova Iriansyah, MT, didampingi Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Drs.H.Alhudri, MM, ketika meninjau salah satu sekolah SMA untuk melihat proses belajar mengajar di masa pandemi COVID-19. (Foto/Ist)

“Perubahan dunia kini tengah memasuki era revolusi industri 4.0, di mana teknologi informasi telah menjadi basis dalam kehidupan manusia”

— Kadis Pendidikan Aceh, Alhudri —

Pendidikan merupakan satu fondasi terpenting pada suatu bangsa. Untuk itu, pemerintahan di hampir semua negara, termasuk Indonesia, menjadikan sektor pendidikan sebagai ujung tombak pembangunan bangsa untuk meraih masa depan.

Di Indonesia, Provinsi Aceh termasuk yang menjadi perhatian untuk sektor pendidikannya. Tahun 2020 Provinsi Aceh tercatat sebagai salah satu provinsi dengan skor Tes Potensi Skolastik (TPS) terendah secara nasional.

Hal itu terungkap dari Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) yang merilis hasil evaluasi Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UTBK SBMPTN) 2020.

Sementara itu visi dan misi Pemerintah Aceh, tertuang program unggulan Aceh Carong. Tujuan program Aceh Carong, yaitu menjadikan anak-anak Aceh yang cerdas, mampu bersaing, dan siap menghadapi dunia kerja serta mampu mengukir prestasi. Baik di tingkat regional, nasional, maupun internasional melalui pendidikan yang bermutu.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Alhudri, baru-baru ini menuturkan, perubahan dunia kini tengah memasuki era revolusi industri 4.0, di mana teknologi informasi telah menjadi basis dalam kehidupan manusia.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Drs.H.Alhudri,MM. (Foto/Ist)

Kondisi itu, menurut Alhudri, mengakibatkan terjadinya perubahan paradigma pendidikan yang berfokus pada produksi pengetahuan dan inovasi pengetahuan.

“Karena salah satu elemen penting yang harus menjadi perhatian untuk mendorong daya saing di era revolusi industri 4.0 adalah mempersiapkan sistem pembelajaran yang lebih inovatif, dan meningkatkan kompetensi lulusan yang memiliki keterampilan abad-ke 21,” kata Alhudri.

Perlunya Tim Teaching

Jurnalis Waspadaaceh.com, Jumat (30/4/2021), mengunjungi salah satu sekolah, yaitu SMA Negeri 5 Banda Aceh di Jalan Hamzah Fansuri, Kopelma Darussalam, Banda Aceh, terkait Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dan upaya peningkatan mutu pendidikan dalam mewujudkan Aceh Carong.

Kepala Sekolah SMA Negeri 5 Banda Aceh, Khairurrazi, kepada Waspadaaceh.com mengatakan, kondisi pendidikan Aceh saat ini tidaklah buruk dan perlu dilihat secara komprehensif atau menyeluruh. Ia menjelaskan mutu pendidikan perlu dilihat pada setiap jenjang, mulai dari SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi.

“Tanggungjawab pendidikan Aceh tidak hanya pada sekolah, atau kepala dinas, tapi juga perlunya tanggung jawab perguruan tinggi. Ini semua perlu bersinergi, yakni perlu mengukur output lulusan dari perguruan tinggi tersebut yang diterima di dunia kerja,” tutur Khairurrazi.

Kepala Sekolah SMA 5 Banda Aceh, Khairurrazi, S.Pd, M.Pd (foto/Cut Nauval Dafistri)

Terkait untuk meningkatkan mutu pendidikan di Aceh, Khairurrazi mengatakan, adanya program Aceh Carong maupun BEREH merupakan suatu terobosan yang luar biasa. Namun katanya, ada beberapa hal yang perlu dibenahi. Karena itu mutu pendidikan di Aceh harus menjadi perhatian semua pihak.

Saat ini, kata Khairurrazi, perlu mengupayakan pelayanan proses pembelajaran yang maksimal. Menurutnya keberadaan guru tunggal di kelas masih belum mampu memberikan pelayanan maksimal. Ia menyarankan perlunya dibentuk tim teaching untuk pelayanan proses pembelajaran siswa.

Tim teaching merupakan proses pembelajaran yang diampu lebih dari seorang guru, yakni satu pelajaran bisa diampu oleh dua orang atau lebih untuk mendapatkan hasil pembelajaran yang memuaskan. Baik bagi pendidik, peserta didik, dan institusi pendidikan secara umum.

“Menurut hemat kami bahwa pendidikan kita di Indonesia terutama di Aceh belum mampu memberikan pelayanan pendidikan yang maksimal untuk anak didik. Artinya selama ini dengan keberadaan guru tunggal di kelas belum mampu memberikan pelayanan pendidikan yang maksimal dalam menghadapi berbagai karakteristik siswa. Maka perlu adanya tim teaching,” tutur Kepala Sekolah SMA 5 Banda Aceh tersebut.

Ia melanjutkan bahwa sebelumnya tim teaching pernah diterapkan, namun tidak berjalan dengan semestinya. Kata Khairurrazi, tim teaching harus diterapkan untuk memberikan pelayanan pendidikan kepada peserta didik. Namun jika tetap tidak berjalan dengan baik, maka kepala sekolah perlu dievaluasi, kata Khairurrazi.

Kata Khairurrazi, teknologi kini mengambil peran yang sangat penting dalam berbagai sektor kehidupan, terutama pada sektor pendidikan. “Apalagi, sebelumnya pembelajaran tidak dapat dilaksanakan dengan maksimal secara tatap muka selama masa pandemi COVID-19. Maka pemanfaatan teknologi menjadi begitu penting untuk diterapkan,” tuturnya.

Belajar Daring Vs Game Online

Sementara itu Mustafa, salah seorang guru matematika di SMA Negeri 5 Banda Aceh, punya pendapat lain terkait dunia pendidikan di Aceh.

Mustafa mengatakan, selama pandemi COVID-19, kegiatan belajar mengajar yang memanfaatkan metode daring membawa kesulitan tersendiri bagi semua pihak. Baik guru sebagai pihak pendidik maupun orangtua dan peserta didik.

Di antara kesulitan tersebut, kata Mustafa, bahwa tidak adanya keseriusan atau minat belajar dari siswa. Siswa telah diberikan alat teknologi, namun tidak digunakan dengan makasimal untuk pembelajaran.

Kata Mustafa, selama ini kecanduan game online menjadi tantangan dalam pendidikan anak. Siswa menjadi tidak fokus untuk mendengarkan pembelajaran secara daring, karena siswa melakukannya sambil bermain game.

“Bahwasanya ini merupakan ancaman bagi generasi muda, yakni game online. Bahkan game ini berbau judi, kegiatan yang dapat memberikan dampak negatif atau kegiatan yang bisa merusak moral generasi muda,” jelasnya.

Mustafa, salah seorang guru matematika di SMA Negeri 5 Banda Aceh. (Foto/Cut Nauval Dafistri)

Karena itu, kata Mustafa, perlu peran orangtua dalam mengontrol atau mengawasi anak dalam penggunaan teknologi tersebut agar tetap digunakan untuk hal-hal meningkatkan kualitas pendidikannya.

Ia juga mengatakan, para guru selama ini terus berupaya dalam memberikan pelayanan terbaik untuk siswa. Selama ini pembelajaran tatap muka telah dilaksanakan sesuai protokol kesehatan, namun pembelajaran secara digital atau daring juga tetap dilaksanakan.

“Pesan kepada siswa, dengan adanya kecanggihan teknologi saat ini agar digunakan untuk hal positif, untuk belajar. Diharapkan siswa tidak lalai dengan media handphone yang sudah dimilikinya, jangan sampai mengabaikan pendidikannya. Kepada orang tua juga harus selalu mengontrol anak-anaknya selama di rumah dan mendorong minat belajar,” harapnya.

Setiap orang tua memang menginginkan pendidikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Setiap orang tua tentu tidak ingin anaknya tertinggal untuk mendapatkan pendidikan hingga di perguruan tinggi.

Cut Liza, yang dijumpai Waspadaaceh.com, ketika sedang mendaftarkan anaknya pada penerimaan siswa baru SMA Negeri 5 Banda Aceh, mengatakan, dia memutuskan untuk menyekolahkan anak ke sekolah tersebut yang merupakan pilihan terbaik baginya.

Cut Liza juga merupakan alumni SMA Negeri 5 Banda Aceh. Menurutnya, kualitas pembelajaran, fasilitas serta guru-guru di sekolah tersebut sangat bagus.

Apapun pilihan sekolahnya, menurut Cut Liza, keinginan orang tua adalah, anak-anaknya dapat mengikuti pendidikan yang berkualitas demi meraih masa depan. Apalgi di masa pandemi COVID-19 ini, di mana banyak pembatasan dalam proses belajar mengajar, dia menaruh harapan agar anaknnya bisa tetap mengikuti pendidikan secara berkualitas. Cut Liza yakin para guru memiliki cara untuk membuat siswanya tetap produktif dan berprestasi, meski dalam kondisi serba terbatas di masa pandemi COVID-19 ini. (Adv)