Medan (Waspada Aceh) – Ikatan Pelajar Mahasiswa Aceh Tenggara (IPMAT) Cabang Medan menggelar acara penuh makna berupa prosesi adat TAMASA AGARA serta seminar motivasi pendidikan, bertempat di Hotel Ibis Styles Medan Pattimura, pada Minggu (3/5/2026).
Acara ini dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Aceh Tenggara, dr. Heri Al Hilal, dan dihadiri oleh sejumlah tokoh masyarakat serta pemangku kepentingan.
Kegiatan yang mengusung tema “Membangun Semangat Mahasiswa Baru Melalui Pendidikan dan Motivasi untuk Masa Depan Gemilang” ini berlangsung dengan suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan. Prosesi adat tepung tawar menjadi simbol penyambutan sekaligus penguatan jati diri budaya bagi para mahasiswa yang menuntut ilmu di tanah perantauan.
Turut hadir mendampingi antara lain Anggota DPR RI H. Muslim Ayub, Wakil Ketua DPRA H. Ali Basrah selaku Penasihat IPMAT, Ustaz H. Rasyidin, Datuk Pantan, perwakilan SKKAT, serta puluhan mahasiswa baru periode 2025–2027.
Dalam sambutannya, dr. Heri Al Hilal memberikan pesan mendalam kepada generasi muda Agara. Ia menekankan bahwa masa depan daerah sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia yang sedang dibentuk saat ini.
Oleh sebab itu, ia mengajak para mahasiswa untuk tidak hanya fokus pada kesuksesan akademik semata, tetapi juga mempersiapkan diri menjadi aktor utama dalam kemajuan tanah kelahiran.
“Belajarlah dengan sungguh-sungguh di rantau. Jaga nama baik orang tua yang telah berjuang menguliahkan kalian, dan jaga juga nama baik daerah,” ujar Heri Al Hilal, putra dari Bupati Aceh Tenggara dua periode, Almarhum H. Hasanuddin Beruh.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa peran mahasiswa sangat strategis dalam mendorong laju pembangunan. Pemerintah daerah, lanjutnya, senantiasa membuka ruang seluas-luasnya dan siap mendukung berbagai inisiatif positif yang lahir dari pemikiran kritis dan kreatif anak daerah demi kesejahteraan bersama.
Acara yang juga dimeriahkan dengan pertunjukan tarian khas Aceh Tenggara ini kemudian dilanjutkan dengan sesi pemaparan materi oleh narasumber utama, H. Ali Basrah.
Dalam orasinya, Ali Basrah menegaskan bahwa mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton pasif dalam dinamika pembangunan.
“Mahasiswa harus tampil sebagai agent of change, social control, sekaligus inovator. Ini bukan pilihan, melainkan tanggung jawab intelektual,” tegasnya.
Ia memaparkan, Aceh Tenggara memiliki kekayaan alam yang luar biasa, mulai dari sektor pertanian, perkebunan, hingga potensi ekowisata yang terhubung dengan kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Namun, potensi tersebut masih dihadapkan pada berbagai tantangan, seperti keterbatasan infrastruktur, akses pendidikan, dan isu pelestarian lingkungan.
“Di sinilah peran mahasiswa dibutuhkan—mulai dari mengedukasi masyarakat, mengawal kebijakan, hingga menciptakan inovasi berbasis potensi lokal,” pungkas Ali Basrah.
Kegiatan ini diharapkan menjadi awal yang baik bagi mahasiswa baru untuk mengukir prestasi dan kelak kembali membawa perubahan nyata bagi Aceh Tenggara. (*)



