Beranda Opini Vaksinasi Sebuah Ikhtiar

Vaksinasi Sebuah Ikhtiar

BERBAGI
Penulis saat menjalani vaksinasi di KKP Kelas III Banda Aceh.

Dari rangkaian cerita itu, saya hanya berikhtiar sedapat mungkin menghindari kemungkinan terpapar corona, dengan mengikuti anjuran pemerintah

—-‐——————-

Catatan: Aldin NL

Ketika akhirnya saya memilih disuntik vaksin,
tidak terlintas bakal ada musibah besar di sekitar kami. Yang ada adalah, mengambil tanggung jawab sebagai Wali Atlet PON Papua 2021, wajib ikuti program vaksin Sinovac.

Saya dan sejumlah pengurus serta staf sekretariat KONI Aceh memilih menjalani vaksinasi pada kelompok terakhir di Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas III Ulee Lheue Banda Aceh.

Alhamdulillah, pelaksanaan vaksinasi tahap pertama berjalan lancar bertempat di posko klinik KKP Kelas III Banda Aceh di Ulee Lheue, Senin (24/5/2021).

Usai disuntik, saya diminta menunggu 15 menit tidak boleh beranjak dari kantor KKP itu. Aman tidak ada efek negatif setelah disuntik. Lalu diberi sertifikat tanda sudah menjalani vaksin tahap pertama. Saya melanjutkan tahap kedua 14 hari kemudian, atau 21 Juni 2021 di tempat yang sama.

Koordinator Wilayah Kerja KKP Kelas III Ulee Lheue Banda Aceh, Ferry Irawan, kepada kami menjelaskan ihwal kerjasama dengan pihak KONI Provinsi Aceh.

Ferry mendukung dunia olahraga, biar tetap sehat dan mencegah virus corona, dianjurkan selain vaksin juga memaksimalkan protokol kesehatan (Prokes) yang merupakan program pemerintah dalam hal penanganan pencegahan COVID-19

“Karena itulah KKP Kelas III Banda Aceh menyetujui permohonan dari pihak KONI Aceh melakukan vaksinasi COVID-19 kepada petugas, pegawai dan pengurus KONI Aceh,” ujar Ferry menceritakan latar belakangya.

Lalu, dua hari paska vaksin, saya mendapat kabar bahwa satu keluarga dekat; ada 13 org terpapar corona, dua masuk RSU, yang lain memilih isolasi mandiir di rumah.

Kemudian terdengar kabar besan sohib ini meninggal dunia, terpapar COVID-19. Sohib tadi menduga ia dan keluarga besarnya terpapar saat cipika-cipiki pada lebaran barusan.

Selanjutnya terdengar lagi berita satu keluarga salah satu bos di kantor istri, terpapar virus yang dikabarkan dari Wuhan, China itu. Meski setelah diteliti, tidak ada satu pun hewan di sana terpapar virus COVID-19.

Saya dapat kabar lagi, satu keluarga teman dekat anak (bapak/ibu, anak-anak dan nenek) terpapar virus corona.

Satgas COVID-19 mengumumkan bahwa Koetaradja (Banda Aceh), kota tempat tinggal kami, sudah masuk Zona Merah, karena banyaknya penderita baru dan yang wafat setelah terpapar virus mematikan ini.

Dari rangkaian cerita itu, saya hanya berikhtiar sedapat mungkin menghindari kemungkinan terpapar corona, dengan mengikuti anjuran pemerintah. Selain menerapkan protokol kesehatan, saya hanya bisa berikhtiar menjalani vaksinasi untuk meningkatkan imunitas tubuh saya terhadap COVID-19.

Tak dipungkiri, meski banyak orang di sekitar kami yang masih tetap dengan prasangka negatif dan pro kontra terkait keberadaan vaksin Sinovac tersebut. Tapi inilah pilihan saya dan teman-teman untuk menjalani vaksinasi. (**)