Beranda Life Style Teman Tuli Kopi Hadir Layani Konsumen dengan Bahasa Isyarat

Teman Tuli Kopi Hadir Layani Konsumen dengan Bahasa Isyarat

BERBAGI
Reza Fahlevi dan Tari Tiaralita sedang mempersiapkan sajian kopi pesanan konsumennya, Minggu (28/2/2021). (Foto/cut nauval dafistri)

“Tak ada suara yang terdengar. Mereka berkomunikasi dengan gerakan tangan atau isyarat, seperti menggerakkan jari-jari mereka dan berekspresi untuk menyiapkan sajian kopi”

—————

Memiliki keterbatasan bukan menjadi halangan untuk berjuang dalam meraih kesuksesan, khususnya dalam bidang kewirausahaan.

Hal itu pula yang menjadi alasan komunitas Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Aceh membuka sebuah coffee shop tidak biasa dengan memperkenalkan pelayanan menggunakan bahasa isyarat bagi konsumen yang ingin menikmati secangkir kopi.

Kopi memang dikenal menjadi salah satu komoditas unggulan Aceh dalam menggerakkan perekonomian di provinsi berjuluk Serambi Mekah ini. Kenikmatan kopi Aceh memiliki daya tarik tersendiri yang dikenal hingga ke mancanegara.

Saat Waspadaaceh.com mengunjungi beberapa stan pada Festival Kopi Kutaraja di Amel Convention Hall Banda Aceh, Minggu (28/2/21), terlihat nama stan Teman Tuli Kopi. Nama kafe yang unik.

Tampak dua orang yang sedang sibuk mempersiapkan sajian kopi. Tak ada suara yang terdengar. Mereka berkomunikasi dengan gerakan tangan atau isyarat, seperti menggerakkan jari-jari mereka dan berekspresi.

Mereka adalah Reza Fahlevi, 20 dan Tari Tiaralita, 23, yang tampak lihai meracik kopi arabika di stan yang berukuran kira-kira 3 x 3 meter itu. Jurnalis Waspadaaceh.com memesan kopi sanger dibantu juru bahasa isyarat untuk menerjemahkan pesanan jurnalis.

Sang Juru Bahasa Isyarat (JBI), Febby, mengatakan kepada Waspadaaceh.com, mereka tergabung dalam komunitas Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Aceh. Mereka juga mendapat kesempatan belajar menjadi barista di Balai Latihan Kerja (BLK) Aceh, dilatih agar memiliki keahlian baru.

Sambil mencicipi kopi dan duduk di depan stan tersebut, jurnalis menanyakan lebih lanjut mengenai penamaan Teman Tuli Kopi. Menjawab pertanyaan, Febby mengatakan, teman-temannya tersebut lebih nyaman disebut tuli daripada tunarungu.

“Selama ini kan masyarakat pada umumnya belum tau teman-teman tuli itu nyamannya dipanggil apa. Selama ini kita menyebutnya tunarungu, karena bagi kita sebutan tunarungu lebih halus dari pada sebutan tuli. Tapi ternyata tidak, teman-teman tuli justru lebih nyaman dipanggil tuli,” tutur Febby.

Panggilan itulah katanya yang mereka jadikan nama coffee shop menjadi Teman Tuli Kopi. Selain menyediakan varian kopi khas Aceh, di stan tersebut mereka ingin mengajak pengunjung belajar bahasa isyarat.

Dalam ajang Festival Kopi Kutaraja ini, kata Febby, menjadi ajang promosi, dan menjadi stan pertama kali bagi Teman Tuli Kopi. Mereka juga merencanakan akan membuka sebuah coffee shop di Jl. T. Panglima Nyak Makam, Lambhuk, Kecamatan. Ulee Kareng, Kota Banda Aceh.

“Dalam waktu dekat mereka akan membuka coffee shop tepatnya di depan Hotel Hermes, dan itu di bawah binaan Dinas Sosial Banda Aceh,” ungkap Febby.

Sementara itu Muzakir, 26, pendamping barista Teman Tuli Kopi, mengatakan saat sama-sama belajar di Balai Latihan Kerja (BLK) Aceh, mereka sangat serius dan bersemangat dalam membuat menu-menu kopi. Itu merupakan pengalaman pertama mereka menjadi barista.

“Harapan saya semoga mereka selalu kompak, dan mendapatkan suatu usaha sesuai yang mereka minati, seperti barista kopi. Potensi mereka sangat luarbiasa,” tutur Muzakir.

Teman Tuli Kopi ini memberikan nuansa berbeda dalam menikmati kopi. Teman Tuli Kopi ini juga menjadi media untuk menjembatani teman dengar dengan teman tuli melalui komunikasi bahasa isyarat.

Bagaimana tidak, kapan lagi bisa minum kopi sambil belajar bahasa isyarat dengan teman tuli? Ini akan menjadi pengalaman baru bagi anda. (Cut Nauval Dafistri)

BERBAGI