Sabtu, Maret 2, 2024
Google search engine
BerandaTulisan FeatureTelur Asin BIMA Primadona Pasar di Aceh

Telur Asin BIMA Primadona Pasar di Aceh

“Saya belajar bagaimana merawat ayam dan bebek agar bisa produksi telur lebih baik”

Tumpukan baki telur tersusun di pekarangan dan memenuhi ruangan rumah Ginting, 55, pemilik usaha Boh Itek Masen Aceh (BIMA), di Jalan Tanggul Kuta Alam, Banda Aceh.

Terik mentari menyengat, di teras rumah, seorang lelaki paruh baya itu menyambut kami dengan ramah. Ia sedang merapikan baki-baki telur asin. Tangannya terlihat sigap memindahkan baki telur. Sesekali dia menyeka keringat di dahinya.

Lelaki itu adalah Ginting, pemilik usaha Boh Itek Masen Aceh yang sudah lama terjun ke dunia usaha telur asin. “Di sinilah ribuan telur bebek diproses menjadi telur asin,” kata Ginting ketika disambangi Waspadaaceh.com, Rabu (25/10/2023).

Di rumah beton berukuran kecil dan berlantai dua itu, telah menjadi rumah kediaman bagi Ginting bersama keluarganya. Rumah ini pula yang selama ini dijadikan sebagai tempat produksi Boh Itek Masen oleh lelaki yang belakangan akrab disapa dengan Ayahcek itu.

Pria asal Sumatera Utara ini sudah menetap di Aceh dan membangun usaha BIMA sejak 2008 silam. Dia sangat terampil dalam menangkap potensi pasar dan menghadapi berbagai rintangan bisnis dalam mengembangkan usahanya.

Ayahcek mengaku, sebelumnya dia bekerja di salah satu Perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) di Sumatera Utara bidang peternakan, setelah dia selesai kuliah tahun 1987. “Awalnya saya sebagai technical service. Saya belajar bagaimana merawat ayam dan bebek agar bisa produksi telur lebih baik,” tuturnya

Selama lebih kurang 10 tahun bekerja di sana, Ayahcek belajar manajemen pemasaran. Hingga di perusahaan itu dia mampu menguasai pasar Sumatera termasuk Aceh. Ia kemudian membulatkan tekad untuk bisa membuka usahanya sendiri dan mandiri, hingga dia memutuskan untuk keluar dari perusahaan itu.

Kemudian ia memulai bisnisnya sebagai distributor telur yang diberi nama Margin.
“Nama margin itu berarti keuntungan bersih yang kita dapat, atau bisa juga berarti marga Ginting,” kenangnya.

Ia mengalami pasang surut dalan bisnisnya. Sampai usahanya mengalami keterpurukan. Dia pun berutang dan harus menjual semua asetnya.

“Saat itu usaha saya terpuruk, sampai minus. Jadi berutang,”jelasnya.

Bangkit dengan Boh Itek Masen Aceh

Ayahcek tidak menyerah, sebagai pembisnis, ia berani mengambil resiko. Ayahcek tidak putus asa kemudian ia pindah ke Aceh merintis usaha BIMA pada tahun 2008.

Usaha ini bermula dari ajakan sahabatnya yang mengajaknya untuk bersama-sama mengembangkan usaha tersebut.

“Sahabat ini panggilannya Ayahcek. Dia bantu saya bangun usaha ini. Dan selama membuka usaha inilah saya pun dipanggil Ayahcek ” ceritanya.

Produk Boh Itek Masen Aceh (BIMA). (Foto/Cut Nauval).

BIMA sendiri didistribusikan di pasar Lambaro, Aceh Besar. Selama lima tahun, Ayahcek mulai mempromosikan produknya. Kemudian dilegalkan nama Boh Itek Masen Aceh (BIMA). Kini Produk BIMA didistribusikan ke pasar-pasar melalui 25 reseller di Aceh.

“Pangsa pasar telur asin sangat menjanjikan, karena permintaannya tinggi. Apalagi telur bebek asin ini sangat dibutuhkan di banyak acara seperti acara pesta, maulid, dan lain-lain,” kata Ayahcek.

Menurut Ayahcek, telur asin sebagai hidangan pilihan bagi masyarakat Aceh dalam memuliakan tamu. Masyarakat Aceh biasa menyebutnya dengan “Boh Itek Jruek” berarti telur bebek yang telah diasinkan.

Ayahcek memperlihatkan bagaimana cara pembuatan BIMA. Telur-telur bebek segar dicuci bersih, dibaluri tanah liat kemudian dibalut dengan abu sekam hitam bercampur garam. Kemudian dikeringkan dan disusun dalam baki-baki. Proses pengasinan ini membutuhkan waktu antara satu sampai 10 hari, tergantung dari tingkat kematangan yang diinginkan.

“Untuk menghilangkan aroma amis, kita taruh cairan asam sunti dan asam jawa. Ini untuk memperbesar pori-pori dari kulit telur sehingga cepat proses pengasinannya,” katanya.

Setelah telur asin siap, Ayahcek kemudian memasukkannya dalam kemasan plastik yang sudah diberi label BIMA. Dia menata telur-telur tersebut pada baki masing-masing sebanyak 30 butir telur.

Kini usahanya telah berkembang, Ayahcek bisa memproduksi sekitar 3.000 butir telur asin per hari. Dia menjual satu butir telur asin seharga Rp3.000.

Ayahcek pun meminta penulis mencicipi produknya yang telah direbus. Warna kuning telurnya orange cerah. Rasanya sangat khas. Rasa asinnya tidak terlalu kuat. Cocok bisa dijadikan cemilan. Kombinasi antara rasa gurih dan asin menciptakan sensasi lezat di lidah.

“Telur asin tidak hanya sebagai pendamping nasi, namun juga bisa dijadikan sebagai cemilan. Khasiat dari telur asin sangat bagus. dapat mencegah stunting, kemudian daya cerna dari telur ini tidak terbuang. Telur asin semua diserap oleh tubuh,” tutur Ayahcek.

BIMA tidak hanya memproduksi telur asin berkualitas, namun juga telah memproduksi turunan dari produknya. Seperti keripik kentang bumbu telur asin, diberi nama Potato Chips Salted Egg dan bubuk kuning telur asin diberi nama Salted Egg Yolk Powder.

Ayahcek mengatakan, BIMA membutuhkan pasokan telur bebek sebanyak 3.000 butir per hari. Namun, saat ini yang menjadi kendala adalah ketersediaan bahan baku telur.

“Telur bebek yang kami dapatkan hanya 20 persen saja yang berasal dari Aceh, 80 persennya dikirim dari luar Aceh,” ujarnya.

Mengajak Anak Muda 

Menurut Ayahcek, potensi peternakan di Aceh masih sangat besar dan belum tergarap secara optimal. Ia berharap ada anak muda yang mau mengembangkan sektor peternakan di Aceh.

“Sebenarnya banyak lahan di sini yang bisa dikembangkan menjadi peternakan untuk memproduksi telur bebek. Peluang menjadi peternak besar sekali. Saya mengajak anak muda membangun sektor peternakan,” ucapnya.

Selain menjalankan usaha BIMA, Ayahcek juga aktif berbagi ilmu dan pengalaman kepada para peternak atau calon peternak. Ia sering diundang menjadi narasumber di kampus-kampus. Ia juga melatih peternak bagaimana manajemen produksi telur yang baik dan siap menampung produk mereka.

“Kalau ada yang mau belajar, saya siap bantu. Saya juga siap kerjasama dengan pemerintah atau swasta untuk mengembangkan usaha ini,” ucapnya.

Dengan omzet per bulan ratusan juta ini, ia berencana meningkatkan kapasitas produksi, memperluas pasar sehingga dapat menambah lapangan kerja serta melestarikan kuliner Aceh.

“Saya masih belajar. Saya ingin usaha ini bisa berkembang dan bermanfaat bagi banyak orang. Saya siap menampung jika ada yang ingin mendistribusikan telur bebek kepada BIMA,” Jelasnya. (*)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments