Selasa, Februari 24, 2026
spot_img
BerandaAcehSuluk Ramadhan di Dayah Darul Aman: Ruang Pemulihan Batin di Tengah Sunyi...

Suluk Ramadhan di Dayah Darul Aman: Ruang Pemulihan Batin di Tengah Sunyi Pascabencana

“Bagi Khadijah, suluk adalah cara mengambil jarak dari beban dunia—serupa orang yang pergi umrah atau haji untuk membersihkan diri”

Di dalam ruang suluk yang teduh di Kompleks Dayah Darul Aman, Gampong Lampuuk, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, suasana hening nan khusyuk menyelimuti setiap sudut.

Para jamaah duduk bersila dengan kepala tertunduk, sebagian menutup wajah dengan kain, seolah menyembunyikan diri dari hiruk-pikuk dunia luar. Di sana, setiap detik diisi dengan zikir Ismu Zat—zikir yang mengalir lembut dari dalam hati, bukan sekadar lisan.

Setiap selesai shalat fardu, mereka melafalkan zikir sedikitnya 10.000 kali, dan dalam sehari semalam, jumlahnya bisa melesat hingga 50.000 kali. Angka yang besar, namun terasa ringan bagi mereka yang hatinya telah terlatih untuk senantiasa mengingat Allah.

Tahun ini, suluk Ramadhan 1447 Hijriah di dayah ini tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya diikuti 80 hingga 100 orang, kini jumlahnya menyusut menjadi 68 jamaah—hanya empat laki-laki dan 64 perempuan. Sebagian besar adalah ibu-ibu lanjut usia.

Penurunan ini tak lepas dari bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh menjelang Ramadhan, yang membuat sebagian jamaah atau keluarga mereka masih sibuk memulihkan kondisi. Namun, di balik jumlah yang berkurang, suluk tahun ini justru menemukan makna yang lebih dalam: menjadi ruang pemulihan batin bagi mereka yang hatinya masih bergelut dengan ketakutan dan kesedihan pascabencana.

Sejak 2002, Dayah Darul Aman rutin menggelar suluk, sebuah praktik dalam Tarekat Naqsyabandiyah yang dimaknai sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah, membersihkan jiwa dari keburukan dan dosa. Suluk digelar tiga kali setahun: masing-masing 10 hari pada bulan Maulid, Rabiul Awal, dan Zulhijjah, serta 30 hari penuh selama Ramadhan.

Saat ini, pelaksanaannya telah memasuki hari kedua. Peserta datang dari berbagai daerah di Aceh, dengan dominasi perempuan yang tampak lebih setia menjaga rutinitas spiritual ini.

Pimpinan Yayasan Dayah Darul Aman, Teungku Saifullah, menegaskan bahwa meski jumlah peserta berkurang, pelaksanaan suluk tetap berjalan sebagaimana mestinya. “Meski berkurang, suluk tetap berjalan sebagaimana biasa,” ujarnya saat ditemui pada Jumat (20/2/2025).

Amalan utama dalam suluk ini adalah zikir Ismu Zat atau zikir fi al-qalbi, yang dibimbing langsung oleh mursyid Abon Teungku Tajuddin dari Dayah Abu Lueng Ie. Tawajuh—zikir dengan menutup wajah—dilaksanakan lima kali sehari, tepat setelah salat fardu.

“Aktivitas berzikir dengan menutup wajah ini disebut tawajjuh atau zikir Ismu Zat fi qalbi. Ini puncak pendekatan diri kepada Allah dalam suluk. Menutup wajah agar jamaah benar-benar khusyuk, fokus mengingat Allah tanpa terganggu pandangan dari luar,” jelas Saifullah.

Disiplin juga menjadi kunci selama pelaksanaan suluk. Kebutuhan jamaah ditanggung oleh dayah, di mana mereka cukup membayar infak dan membawa beras. Namun, ada aturan ketat terkait makanan: jamaah dilarang mengonsumsi makanan berdarah dan berlemak seperti daging, ikan, dan telur.

Tujuannya agar terhindar dari dorongan nafsu duniawi serta tidak mudah mengantuk akibat makanan berat, sehingga bisa lebih fokus beribadah. Menu yang disediakan lebih banyak berbasis nabati, dan salah satu yang menjadi favorit adalah sambal daun pegagan (oen peugaga).

Selain sederhana, pegagan dipercaya membantu menjaga stamina dan daya tahan tubuh. “Kita ingin jamaah tetap sehat, tapi tidak bergantung pada makanan berat. Sederhana, tetapi cukup. Tidak berlebihan, namun menguatkan,” tambah Saifullah.

Bagi Khadijah (61), warga Pidie Jaya yang sudah tiga tahun rutin mengikuti suluk penuh 30 hari, tempat ini adalah pelarian yang menenangkan. Rumahnya sempat kemasukan air dan lumpur saat banjir menjelang Ramadhan, dan ia mengaku sempat merasa cemas setiap kali hujan turun. Kehilangan suami yang wafat hampir empat tahun lalu karena stroke membuatnya semakin menjadikan suluk sebagai rutinitas spiritual yang tak tergantikan.

“Perasaan lebih enak, lebih senang. Pikiran jadi tenang, tidak terlalu teringat lagi kejadian itu,” katanya dengan suara lembut.

Bagi Khadijah, suluk adalah cara mengambil jarak dari beban dunia—serupa orang yang pergi umrah atau haji untuk membersihkan diri. Ia berharap doa-doa selama 30 hari membuat pikirannya sehat dan tubuhnya kuat. Di usia yang tak lagi muda, ia memilih sunyi sebagai jalan pulih.

Hal serupa dirasakan oleh Adriyah (73), warga Meureudu, Pidie Jaya, yang telah mengikuti suluk sejak pascatsunami Aceh. Di usia senjanya, ia tetap rutin datang setiap Ramadhan. “Saya sudah tua, semakin dekat dengan kematian. Saya harus bersiap menghadap Allah dengan memperbanyak ibadah. Di sini ada kawan, bisa fokus,” ujarnya.

Rumahnya juga sempat terdampak banjir, dan ia tinggal sendiri—suaminya telah meninggal, dan anaknya satu-satunya kini bekerja jauh. “Meski rumah masih berlumpur, saya pilih suluk. Di sini lebih tenang, ada teman,” tambahnya dengan senyum tulus.

Sore itu, suasana di dayah semakin terasa hangat namun tetap hening. Sejumlah ibu-ibu duduk melingkar, memotong daun pegagan untuk penganan berbuka. Gerakan mereka pelan dan teratur, tanpa percakapan keras. Hanya suara pisau yang beradu dengan talenan dan bisik zikir yang nyaris tak terdengar, menyatu dengan angin sore yang berhembus lembut.

Suluk tahun ini memang tidak seramai sebelumnya. Namun bagi sebagian jamaah, terutama mereka yang baru saja melewati badai banjir, ia menjadi ruang jeda yang sangat berharga. Di tengah lumpur yang sempat menggenangi rumah dan kecemasan yang masih tersisa, suluk di Dayah Darul Aman menghadirkan ketenangan yang tak ternilai.

Di sini, hati yang luka diobati dengan zikir, jiwa yang lelah dipulihkan dengan khusyuk, dan harapan baru tumbuh di bawah naungan kasih sayang Allah. Sebuah bukti bahwa di setiap kesulitan, selalu ada jalan untuk kembali pulih—melalui ibadah, kebersamaan, dan keikhlasan. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER