Senin, Januari 5, 2026
spot_img
BerandaAcehSosok Pahlawan di Tengah Tragedi Banjir Aceh Utara

Sosok Pahlawan di Tengah Tragedi Banjir Aceh Utara

Ia bukan anggota TNI, bukan bagian dari tim SAR, hanya seorang pemuda desa dengan baju kerja yang sudah lusuh. Tapi dia penyelamat warga.

Di penghujung November 2025, langit di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, tampak menghitam lebih awal. Awan gelap memancarkan hujan lebat yang tak kunjung reda selama tiga hari berturut-turut.

Sungai yang biasanya tenang mulai menggelembung, menguap batasnya, hingga akhirnya meluap dan berubah menjadi arus banjir bandang yang mengamuk. Derasnya air membawa serta balok-balok kayu dan lumpur, menerjang segala yang dilintasi.

“Air! Air naik!” teriakan seorang warga memecah ketenangan malam. Segera, suara tangis anak-anak, teriakan minta tolong, dan deru air yang memakan rumah-rumah menyatu menjadi kekacauan. Orang-orang berusaha menyelamatkan diri dan keluarga, membawa barang-barang berharga sesedikit mungkin sambil berlari menjauh dari derasnya arus.

Di tengah kepanikan itu, Muhammad Jafar berdiri gugup, menatap air yang semakin tinggi. Ia bukan anggota TNI, bukan bagian dari tim SAR, hanya seorang pemuda desa dengan baju kerja yang sudah lusuh. Tapi dia penyelamat warga.

Tanpa peralatan keselamatan, tanpa pelampung, bahkan tanpa pikir panjang, ia melangkah ke dalam arus yang keruh dan mematikan. Arus deras coba menahan kuat langkahnya, tapi pemuda ini tetap bergerak.

Bolak-Balik di Tengah Arus

Ketika air mencapai dada Jafar, menyeret tubuhnya setiap kali ia bergerak. Ia harus berjuang melawan arus yang ingin menariknya ke bawah. Pertama, ia menemukan seorang nenek yang terjebak di pojok rumah yang hampir terhanyut. Dengan tenaga seadanya, Jafar menuntun nenek itu menuju tanah tinggi yang lebih aman.

“Jangan takut, Bu. Aku akan bawa ibu keluar,” ujarnya dengan suara tegas, meskipun hati sendiri berdebar kencang.

Setelah menempatkan nenek di tempat aman, Jafar tidak berhenti. Ia kembali ke dalam arus, mencari korban lain. Kali ini, ia menemukan dua anak kecil yang menangis terpisah dari orang tua mereka. Ia menggendong satu di pundak dan memegang tangan yang lain, berusaha menjaga keseimbangan di tengah air yang deras.

“Kita akan bertemu dengan Mama dan Papa ya,” gumamnya untuk menenangkan anak-anak.

Berjam-jam lamanya, Jafar berulang kali menerobos arus. Ia menyelamatkan perempuan hamil, orang lanjut usia, hingga anak-anak yang tersesat. Setiap langkah adalah risiko, setiap kedatangan adalah harapan. Ia tak menghiraukan lelah yang menyergap tubuhnya, hanya memikirkan nyawa-nyawa yang masih terjebak.

Hingga fajar mulai menyingsing, banjir mulai surut. Tercatat lebih 100 orang berhasil ia selamatkan berkat aksi heroik Jafar. Banyak warga yang menangis saat melihat keluarga mereka kembali utuh, mengaku tidak akan selamat jika bukan karena pertolongan pemuda itu.

“Ada yang saya selamatkan pakai tangga, ada pakai tali, ada juga pakai kain sarung,” kata Jafar.

Atas kehendak Maha Kuasa, pemuda Jafar membantu warga desa pada malam hari, mulai pukul 22.00 WIB, ketika air naik tinggi. Di desa ini menurut Jafar ada yang tewas 7 orang dan 1 belum ketemu.

“Anak jatuh ke bawah, lalu beliau ini menyelamatkan, menjadi pahlawan. Satu kampung ditolong. Nah, inilah yang menolong kami,” ucap seorang ibu menujuk ke Jafar, seperti dalam tayangan sebuah video yang viral.

Wanita ini menyebut, mereka banyak yang diselamatkan oleh Jafar. Pemuda lain juga ada yang membantu mencarikan barang-barang yang bisa dimakan. Memasak beras yang sudah terendam banjir, kemudian mereka bisa memakan nasi putih untuk mengisi perut.

“Kami tetap bersyukur, walaupun tanpa lauk. Lima hari terisolasi, belum ada bantuan. Baru setelah itu bantuan datang.
Di kampung ini sebenarnya sering tergenang,. Tapi yang ini memang bukan banjir biasa. Sudah seperti tsunami,” lanjutnya.

Warga mengatakan, ada beberapa hari lebih mereka bertahan dalam kondisi kelaparan karena kesulitan makanan. “Untuk minum kami menampung air hujan, bahkan memeras kain jilbab yang basah, menampung airnya untuk minum,” ujar warga tersebut.

Tapi warga sangat berterima kasih kepada Jafar. Namun, di tengah kegembiraan dan rasa syukur warga, Jafar menghilang. Ia pulang dengan tubuh lelah, baju basah, dan tanpa menginginkan pujian apa pun.

Ia tidak ingin dikenal, tidak ingin dokumentasi, hanya menjalani semua itu dalam sunyi. “Kalau bukan aku, siapa lagi?” bisiknya dalam hati, seolah itu adalah hal yang paling wajar untuk dilakukan.

Pahlawan dari Hati

Kisah Muhammad Jafar menyebar cepat di desa dan sekitarnya. Warga mulai menyebutnya sebagai pahlawan sejati, orang yang dengan keberanian dan kepedulian menyelamatkan banyak nyawa. Ia bukan pejabat, bukan aparat, bukan orang yang mencari nama—hanya seorang pemuda dengan hati yang terlalu berani.

Di Aceh, tanah yang dikenal sebagai rahim para pejuang, nilai keberanian dan solidaritas masih hidup dan mengakar kuat. Sosok Jafar menjadi bukti bahwa semangat itu tidak pernah padam, bahkan di tengah bencana dan keterbatasan.

Aksi heroik Jafar menjadi inspirasi bagi banyak orang, menunjukkan bahwa kemanusiaan tidak membutuhkan pangkat atau jabatan. Dalam situasi paling genting sekalipun, atas kehendak Allah SWT, keberanian satu orang dapat menyelamatkan ratusan nyawa dan menyalakan harapan di tengah kepungan bencana.

Beberapa hari kemudian, warga desa datang ke rumah Jafar untuk mengucapkan terima kasih. Ia hanya tersenyum sederhana. “Saya hanya melakukan apa yang harus dilakukan,” katanya dengan suara rendah. Di mata Jafar, tidak terlihat kesombongan, hanya kedamaian yang datang dari hati yang telah berkorban.

Pada malam itu, ketika bulan terbit di atas Desa Geudumbak, warga berdoa: “Ya Allah, jaga orang-orang baik seperti Jafar. Karena dunia terlalu sering lupa, bahwa merekalah yang diam-diam menopang kemanusiaan.” (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER