Minggu, Juli 21, 2024
Google search engine
BerandaProfilSosok Iskandar Ali: Tinggalkan PNS ke Dunia Entrepreneur, Kini Jadi Politisi

Sosok Iskandar Ali: Tinggalkan PNS ke Dunia Entrepreneur, Kini Jadi Politisi

“Dengan menjadi anggota DPRK, kami bisa mengawal pemerintahan berjalan sesuai rel, serta mengawal visi dan misi pemerintahan”

— Iskandar Ali, Ketua DPRK Aceh Besar —

“Saya dahulu sempat bertugas sebagai pegawai negeri rentang tahun 2004 hingga 2007. Saat itu saya ditugaskan di kantor urusan agama (KUA). Saya belum sempat menjadi penghulu karena saya keluar dari pegawai negeri sipil,” kata Iskandar Ali dalam obrolannya dengan Waspadaaceh.com, Kamis (4/11/2021).

Iskandar Ali adalah Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Besar. Dia mengaku, sebelumnya sempat sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Namun menurutnya, PNS bukan menjadi zona nyaman baginya.

Politisi berbadan atletis ini melepas statusnya sebagai pegawai negeri sipil tahun 2007. Kemudian dia terjun di dunia entrepreneur dan membangun usaha kecil menengah. Sejak saat itu hingga sekarang, Iskandar Ali tetap berbisnis, bahkan kini dia dipercaya menjabat Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Aceh Besar.

Di era tahun 1999, Iskandar Ali mulai terjun di dunia politik praktis. Dia bergabung dengan Partai Amanat Nasional (PAN) besutan tokoh reformasi, Amien Rais. Meskipun sudah menjadi pengurus di PAN Aceh Besar, dia tidak lantas mencalon untuk maju sebagai anggota dewan. Dia baru mencalonkan diri setelah dua dekade menjadi kader partai.

“Saat itu, saya belum tertarik mencalonkan diri menjadi anggota dewan. Padahal, saya sempat menjabat wakil ketua PAN Aceh. Barulah pada pemilu 2019, saya ikut kontestasi,” kata Iskandar Ali yang kini menjabat Ketua PAN Aceh Besar.

Iskandar Ali, putra Asli Aceh Besar ini lahir di Gampong Siem, 12 April 1981. Saat ini dia tinggal di Gampong Klieng Cot Aron, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar, bersama sang istri, Ratna Mutia dan tiga orang anaknya.

Iskandar Ali bersama istri, Ratna Mutia dan tiga orang anaknya. (Foto/Ist)

Iskadar Ali merupakan putra almarhum Muhammad Ali Ibrahim dan Almarhumah Alawiyah. Ayahnya yang dikenal dengan panggilan ustadz Ali, pernah mengabdi sebagai seorang guru di MTsN Tungkop. Sebagai putra asli Aceh Besar yang dibesarkan dari keluarga sederhana yang mementingkan pendidikan, Iskandar Ali tumbuh sebagai sosok yang peduli kepada masyarakat sekitar.

Dia mengaku sejak dahulu ayahnya ingin Iskandar Ali menjadi pengajar, sehingga ia kuliah di STAI Teungku Chik Pante Kulum mengambil bidang pendidikan. Selama terjun ke dunia politik praktis, dia kemudian menyempatkan diri melanjutkan pendidikan program S2 Pascasarjana di Univesitas Iskandar Muda bidang politik. Sekarang dia sedang melanjutkan pendidikan S3 di Universitas Merdeka Malang, juga untuk bidang ilmu sosial dan politik.

Iskandar Ali mengatakan, setelah lulus S3, dia akan mengikuti keinginan ayahnya sebagai tenaga pengajar seusai menamatkan program doktornya.

Mengapa Iskandar Ali terjun di politik praktis? Saat pencalonan anggota legislatif, Iskandar Ali berpikir, jika terpilih menjadi anggota dewan, maka dia bisa terlibat langsung menjadi pengambil kebijakan jalannya pemerintahan.

”Dengan menjadi anggota dewan, saya bisa mengawasi pemerintahan. Seperti disiplin aparatur, kalau dulu kedisiplinannya kurang, kini sudah meningkat,” kata Iskandar Ali.

Begitu juga dengan hal lainnya, seperti mengawasi pembangunan, kata Iskandar Ali. Dengan menjadi anggota dewan, pengawasan bisa langsung dilakukan tanpa harus melalui pihak lainnya.

“Dengan menjadi anggota DPRK, kami bisa mengawal pemerintahan berjalan sesuai rel, serta mengawal visi dan misi pemerintahan. Visi dan misi merupakan kontrak politik kepala daerah dengan masyarakat. Ini yang harus dikawal,” tutur Iskandar Ali.

Menjadi wakil rakyat bukanlah pekerjaan mudah bagi Iskandar Ali. Apalagi dia diamanahkan memimpin puluhan anggota dewan dari berbagai latar belakang yang berbeda partai politiknya.

Namun, Iskandar Ali mampu merangkul semuanya dengan satu tujuan, mengawasi pemerintahan serta terlaksananya program-program pembangunan yang tujuan utamanya meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Aceh Besar.

“Sekarang ini, kami di DPRK satu frekuensi membangun Aceh Besar. Kami terus membangun kekompakan, sehingga keberadaan kami di lembaga legislatif ini memberi manfaat bagi masyarakat,” kata Iskandar Ali. (Cut Nauval d)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER