Kamis, April 3, 2025
spot_img
BerandaAcehReuhab: Tradisi Doa Kematian yang Sakral di Nagan Raya

Reuhab: Tradisi Doa Kematian yang Sakral di Nagan Raya

Bagi masyarakat Nagan Raya, reuhab bukan hanya ritual kematian tetapi juga momen kebersamaan untuk memperkuat ikatan sosial.

Lima lelaki duduk bersila di sebuah ruangan yang penuh dengan hiasan kain kasab Aceh berwarna merah, kuning, dan hitam. Mereka mengenakan peci sambil melantunkan syair doa.

“Allahuallah Allahurabbun. Beuneu peumeah, beneu peu ampon. Dosa almarhum di dalam kubu.” (Allahuallah Allahurabbun, maafkan, dan berikan ampunan almarhum di dalam kubur).

Suara mereka menggema lembut memenuhi ruangan, mengiringi suasana haru di rumah duka.

Di atas kasur, sebuah payung berwarna kuning terbuka lebar, menaungi barang-barang peninggalan almarhum. Kitab suci Al-Qur’an tersandar di sisi bantal, bersebelahan dengan beberapa helai pakaian terakhir milik almarhum Teuku Raja Nabat, warga Desa Alue Ie Mameh, Kec, Kuala, Nagan Raya, Aceh.

Di sudut kamar, dua karung besar berisi gula dan papan bertumpuk telur tertata rapi. Hari ini adalah hari ketujuh kepergian almarhum, Rabu (2/4/2025).

Tradisi ini dikenal dengan reuhab, adat kematian yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Kabupaten Nagan Raya, Aceh. Tradisi ini digelar untuk mengenang dan mendoakan almarhum selama 40 hari pasca kematian.

Pada hari ketujuh, keluarga dan kerabat berkumpul untuk mendoakan almarhum. Mereka juga membawa aneka kue tradisional khas Aceh, seperti kue karah dan bolu, sebagai wujud kebersamaan dan sedekah bagi para tamu.

Saudara almarhum, Yuli, mengatakan bahwa tradisi ini tidak hanya memperkuat ikatan keluarga tetapi juga menjaga hubungan baik antarwarga.

“Tradisi reuhab ini bukan hanya untuk almarhum, tapi juga untuk mempererat silaturahmi warga,” tuturnya.

Salah satu Cucu dari Teuku Raja Nabat, Pocut Puteri Balqis yang datang dari Kabupaten Pidie pun turut hadir dan mendoakan almarhum.

“Terakhir pocut jumpa abusyik waktu masih kecil, 10 tahun yang lalu, insya Allah abusyik husnul khatimah, meninggal di 27 bulan Ramadhan,” katanya.

Ia mengatakan abusyik (kakek)nya itu merupakan salah satu tokoh masyarakat dan ulama di wilayah setempat.

Selama prosesi, para tamu dipersilakan duduk sambil menikmati hidangan khanduri. Doa-doa terus mengalir, diiringi lantunan syair.

Bagi masyarakat Nagan Raya, reuhab bukan hanya ritual kematian tetapi juga momen kebersamaan untuk memperkuat ikatan sosial.

Meski zaman terus berubah, tradisi reuhab tetap dipertahankan sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan pelestarian nilai adat.

Bagi warga setempat, ini adalah bukti bahwa kebersamaan dan doa tetap menjadi kekuatan utama dalam menghadapi kepergian orang tercinta. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER