Rabu, Januari 14, 2026
spot_img
BerandaAcehKisah Relawan dan Si "Kapten" Perahu

Kisah Relawan dan Si “Kapten” Perahu

“Ia bukan hanya kapten perahu—ia adalah relawan dalam arti yang sesungguhnya, penjaga hubungan antara dunia luar dengan sebuah dusun yang tak boleh terlupakan”

Suatu hari, Senin (12/1/2026), di lembah sungai yang melintasi hamparan (kaki perbukitan Leuser) dengan tanah merah kecoklatan, irama aliran air seperti nyanyian misterius yang menyambut setiap kedatangan tamu dari luar.

Tempat di mana ujung hamparan Sumatera Utara bersandar hampir menyentuh batas Aceh, ada sebuah dusun tersembunyi bernama Aras Nepal Kiri, Desa Bukit Mas, Besitang, Kabupaten Langkat.

Jauh dari hiruk-pikuk jalan raya, satu-satunya jalur penghubung adalah sungai yang karakternya hanya dikenal oleh mereka yang telah menjalin hubungan erat dengan ombak dan batu dasar yang tersembunyi. Sebelah kiri sungai -Selatan– bernama Aras Napal Kiri, sebelah kanan sungai –utara—bernama Aras Napal Kanan, dengan nama desa sama Bukit Mas.

Di sana berdiri sosok lelaki yang tubuhnya membekas garis-garis kerja keras—otot yang menggundul seperti punggungan bukit. Gurat wajahnya seperti lembaran kayu tua yang mengingat setiap musim hujan dan kemarau.

Anak-anak lokal selalu menjulukinya dengan nada hangat: “Om!” Namun bagi kami para relawan Yayasan Tangan Kanan yang datang membawa bantuan, dia adalah Bolang—nama yang kami (dengar pertama dari kontal lokal ketika menyebutkan nama operator perahu yang akan membawa kami). Hingga di kemudian hari kami menyadari bahwa “Bulang”—kata dalam bahasa Karo yang bermakna “Kakek”.

“Itu sebuah gelar hormat yang pantas untuk sosok yang dituakan karena telah menyatu dengan jalur sungai ini selama puluhan tahun,” kata Cahyo Pramono

Relawan Yayasan Tangan Kanan ini mengatakan, Bulang adalah operator perahu kecil kayu yang menjadi jembatan hidup para relawan. Selama dua jam perjalanan pulang-pergi, tangannya yang kasar namun terampil memegang kemudi dengan ketepatan yang luar biasa.

“Ia tahu setiap lekukan sungai seperti tahu lekukan telapak tangannya sendiri—mana bagian yang dangkal yang bisa membuat kapal tersandung, mana aliran dalam yang membawa kita dengan cepat, dan mana jeram yang menyembunyikan bahaya di balik ombak yang tampak tenang,” tutur Cahyo.

Perjalanan kami kali ini membawa bantuan untuk taman kanak-kanak di dusun itu—baju sekolah, baju olahraga, buku tulis, alat tulis, alat peraga, tas sekolah, sepatu boot untuk guru-guru, dan bahan pembelajaran lain yang menjadi harapan agar mereka bisa kembali bersekolah dengan nyaman setelah semua perlengkapan sekolah dan perlengkapan pribadinya terendam banjir lumpur.

Saat melewati sebuah jeram yang arusnya deras, tiba-tiba terdengar suara hentakan dan mesin menderu keras. Bolang mematikan mesin perahu, mendadak situasi menjadi sunyi total, digantikan hanya oleh desisan air yang semakin kuat. Kami terkejut, namun wajah Bulang tetap tenang seperti batu yang berdiri kokoh di tengah badai.

“Ada yang nyangkut” kata Bulang sambil mengarahkan telapak tangannya kepada kami seolah memberikan tanda bahwa akan baik-baik saja.

Sang “Kapten” Bulang mengangkat mesin perahu sambil melepaskan lilitan kain yang telah menyangkut erat pada mesin. (Foto/Relawan Yayasan Tangan Kanan)

Bulang menunggu perahu hanyut ke sisi arus deras karena pasti dangkal dan betul, bulang turun dari perahu, sepinggang Bulang kedalaman airnya.

“Ada kain Baju melilit di baling-baling,” ujarnya dengan nada tenang, saat mengangkat mesinnya.

Ia menjaga kapal agar tidak terbawa arus dengan tubuhnya yang kuat, mendorong bagian belakang perahu sambil secara hati-hati melepaskan ikatan kain yang telah menyangkut erat pada mesin. Kain itu seperti ular yang mengencangkan tubuh mangsanya, namun dengan keahlian dan kekuatan, Bulang berhasil melepaskannya.

Tak lama kemudian, mesin kembali menyala, dan perahu kami melanjutkan perjalanan hingga akhirnya sampai di tepi dusun yang terjal dengan susuan bronjong batu tempat kami berpijak dan mengikat perahu.

“Terima kasih, Bulang,” ucap kami serentak saat bantuan yang kami bawa mulai diangkut ke darat.

Warga lokal dan kebetulan ada seorang Petugas Babinsa menyambut kami, menggunakan along-along (red. Keranjang bambu di sisi kanan dan kiri boncengan sepeda motor untuk mengangkut barang) barang-barang bantuan kami dibawa. Ada 3 sepeda motor melangsir kami bertiga. Kami melewati rumah-rumah yang hancur dan masih tergenang lumpur. Tidak sampai lima belas menit, kami sampai di tujuan.

Sekali lagi kami memandang Sekolah TK, Ruang Publik dan Mushalla berurutan dalam satu atap yang kami bangun beberapa tahun lalu. Takjub melihatnya masih utuh dengan banyak noda lumpur.

“Di sini (mushalla dan TK) kami membuat pengungsian setelah 3 hari kami turun dari bukit mengungsi selama banjir” Kata Dani, warga lokal penghubung kami. “Satu bulan persis kami membuat dapur umum disini” lanjut Dani.

Kelas TK ini menggunakan ruang tengah antara ruang TK dan ruang Mushala. Ruang TK masih belum dibersihkan karena baru dipakai untuk menyimpan perlengkapan dan logistik dapur umum. Suaranya riuh ketika anak-anak sedang membaca deretan angka 1 hingga 20 di papan tulis dengan panduan gurunya.

Selepas kelas selesai, kami membagikan bantuan, mulai dari tas ransel, baju seragam dan pakaian olahraga dan semua perlengkapan pembelajaran.

“Oalah bang… pas kali baju ini… banjir kemarin bikin baju anak-anak rusak dan berlumpur” kata salah seorang ibu di keramaian para orang tua murid yang menjemput anak-anak TK.

Kemudian relawan bertemu dengan Bang Dedy, kepala dusun yang wajahnya penuh kedermawanan namun juga membawa beban berat. Bang Dedy juga kepala tukang yang membangun Mushalla dan TK ini.

Satrya -Seorang relawan- bertanya kapada kepala dusun, “Apakah Pak Bupati sudah sampai kesini?”

“Belum pak” jawab Bang Dedy
“Camatnya?” tanya Satrya
“Belum juga pak” jawab Dedy lirih.

“Apakah dusun ini masuk resmi dalam catatan pemerintahan Indonesia?” tanya Cahyo kepada Kepala Dusun.

“Resmilah Pak, Meskipun camat sekarang bahkan belum pernah menginjakkan kaki ke sini,” katanya sambil menghela nafas panjang, “dusun ini tetap bagian dari NKRI”.

“Walau bantuan dari pemerintah harus kami jemput ke Kantor Desa, kami tetap mendapatlah sikit-sikit bantuan” jelas Dedi.

Kami mengetahui bahwa para pemimpin itu tidak hadir saat banjir datang menggenang dan merobohkan banyak rumah begitu juga saat damai dan baik-baik saja. Dusun ini terlalu jauh, hanya ada 60 KK dan paling mendulang suara politik 150 suara. Tetapi mereka tetap ada di sini. “Kami tetap berjuang untuk hidup demi masa depan anak-anak,” ujar Dedi.

Dusun ini terlalu terpencil. Bisa dijangkau melalui jembatan gantung melalui Dusun Aras Nepal Kanan dengan rute melambung sejauh 24 km dari Simpan Pantai Buaya (jalan lintas sumatera) yang 14 Km nya adalah jalan offroad yang harun menggunakan kendaraan 4×4.

Bisa juga melalui getek penyeberangan yang berjarak 14 Km dari Simpan Pantai Buaya (jalan lintas sumatera). Getek penyebrangan satu-satunya ini hanyut dan kedua sisi penyeberangannya hilang dibawa arus banjir.

Setelah naik getek, harus naik sepeda motor dengan ban offroad melintasi bukit sekitar 20 menit dan sayangnya saat ini ada 9 titik lokasi yang longsur di jalur bukit itu. Satu-satunya cara yang paling bisa untuk mengantarkan bantuan adalah dengan menggunakan perahu seperti yang dioperasikan Bulang. 1 jam 15 menit perjalanan pergi (melawan arus) dan 45 menit jalan pulang ke titik awal.

Semangat dan kata-kata bang Dedi nya menggema di hati para relawan saat perahu kembali berlayar menjauh dari dusun itu.

Batin para relawan masih tertinggal di dusun kecil ini. Di atas kemudi, Bulang tetap memegang arah dengan tangannya yang kokoh. Ia bukan hanya kapten perahu—ia adalah relawan dalam arti yang sesungguhnya, penjaga hubungan antara dunia luar dengan sebuah dusun yang tak boleh terlupakan.

Sungai mungkin panjang dan penuh rintangan, namun dengan orang-orang seperti Bulang , ban Dani dan Bang Dedy, jalan menuju harapan anak-anak di pelosok kampung ini tak akan pernah padam. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER