Senin, Maret 4, 2024
Google search engine
BerandaAcehProses Pembangunan Jembatan Selayakh (Pedesi) Agara Sesuai Spesifikasi

Proses Pembangunan Jembatan Selayakh (Pedesi) Agara Sesuai Spesifikasi

Kutacane (Waspada Aceh) – Saat ini proses pengerjaan jembatan Baja Selayakh atau jembatan Pedesi Keran berlokasi di Desa Pedesi dan Darul Amin, Aceh Tenggara, sudah rampung, namun masih ada isu miring di tengah masyarakat.

Jembatan ini diketahui menghubungkan beberapa kecamatan, yakni Bambel, Lawe Alas dan Kecamatan Tanoh Alas. Keberadaan jembatan ini cukup penting dan vital bagi masyarakat di tiga kecamatan tersebut.

Untuk meluruskan isu tersebut, Mustafa, selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) jembatan Baja Selayakh menjelaskan kepada Waspadaaceh.com, Sabtu (21/1/2023), proses pengerjaan jembatan tersebut sudah sesuai dengan regulasi dan spesifikasi untuk setiap komponen pekerjaannya.

Jembatan yang juga disebut Pedesi Keran itu menelan biaya Rp42 miliar lebih. Rencananya jembatan ini diresmikan pada 24 Januari 2023.

“Jadi tidak benar jembatan tersebut sudah diresmikan,” katanya.

Menurut Mustafa, jembatan Selayakh dimulai pembangunannya sejak 2014 sampai 2022, dengan PPK berbeda. Dengan segala tantangan yang sangat rumit karena kondisi sungai yang berpindah pindah dan alotnya negosiasi pembebasan lahan dengan warga,  namun akhirnya semua bisa diselesaikan dengan baik.

Salah satunya terkait dengan mutu beton, telah melewati proses yang sesuai regulasi. Sampel material dikirim ke laboratorium agar mutu beton sesuai dengan yang diinginkan atau disebut dengan job mix. Selain itu saat pengecoran diawasi langsung oleh petugas Laboratorium PUPR, ujarnya.

Terkait dengan getaran jembatan, menurutnya itu hal yang lumrah. Karena, kata dia, beban dari atas disalurkan ke bangunan bawah melalui bantalan elastomer yang memiliki tingkat elastisitas tertentu guna meredam getaran ketika jembatan diberikan beban berat (saat kendaraan lewat).

“Semakin panjang rentang jembatan, getarannya semakin kentara. Maka rentang 30 dengan 60 meter jembatan jelas beda getarannya,” terang Mustafa

Kemudian untuk kebutuhan pembangunan opritnya, lanjut Mustafa, anggarannya juga terbatas, sehingga dibangun sampai dengan 10 tahap. Pembangunan ini melibatkan Dinas PUPR Aceh Tenggara dan Provinsi Aceh agar jembatan tersebut segera rampung.

Tempat terpisah, Hakim, salah seorang warga Kecamatan Bambel, menuturkan, dengan rampungnya jjembatan itu, memberi kemudahan kepada masyarakat. Bahkan kata dia, berfungsinya jembatan dapat meningkatkan prekonomian warga.

“Kami sangat berterima kasih kepada pemerintah atas terwujudnya jembatan ini,” kata Hakim. ( *)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments