Aceh Tamiang (Waspada Aceh) – Tokoh masyarakat Aceh, Suryadi Djamil, meminta pemerintah pusat segera menambah alat berat serta personel TNI dan Polri untuk mempercepat penanganan banjir dan pembersihan lumpur di sejumlah wilayah Aceh yang hingga kini masih terdampak.
Menurut Suryadi, keterbatasan alat berat menjadi kendala utama di lapangan. Pembersihan masih banyak terfokus di jalan-jalan utama, sementara kawasan permukiman warga, khususnya lorong-lorong dan desa pedalaman, belum tersentuh secara maksimal.
“Di lorong-lorong permukiman, rumah warga masih tertimbun lumpur dengan ketinggian mencapai dua hingga tiga meter. Ini yang perlu segera ditangani,” kata Suryadi, Senin (5/1/2025).
Ketua Pembina Petani Organik Indonesia ini menyebutkan, daerah yang masih membutuhkan penanganan serius antara lain Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Pidie Jaya, Pidie, Bireuen, Bener Meriah, dan Aceh Tengah.
Suryadi mengusulkan penambahan berbagai jenis alat berat, mulai dari ekskavator kecil, dozer kecil, hingga ekskavator besar. Menurutnya, alat berat berukuran kecil sangat dibutuhkan agar pembersihan dapat menjangkau kawasan permukiman yang tidak dapat dilalui alat berat besar.
Selain peralatan, ia juga meminta penambahan personel TNI dan Polri untuk mendukung percepatan pemulihan pascabanjir.

“Personel yang ada sudah bekerja maksimal, siang dan malam. Namun jumlahnya terbatas, sehingga perlu penambahan agar proses pemulihan berjalan lebih cepat,” ujarnya.
Ia menambahkan, masih banyak warga yang belum bisa kembali ke rumah meski bangunan tempat tinggal mereka tidak mengalami kerusakan berat, lantaran akses lorong dan lingkungan sekitar masih dipenuhi lumpur.
Suryadi juga menyoroti kondisi fasilitas umum seperti sekolah, perkantoran, serta saluran drainase dan parit di permukiman warga yang tersumbat lumpur dan memerlukan penanganan menggunakan alat berat kecil serta dukungan armada pemadam kebakaran.
Tak hanya itu, ia meminta perhatian terhadap ribuan kendaraan warga yang rusak akibat terendam banjir. Menurutnya, dukungan mekanik dan bengkel darurat diperlukan agar kendaraan tersebut dapat kembali digunakan untuk menunjang aktivitas harian masyarakat.
“Penanganan banjir ini murni urusan kemanusiaan. Kami mengapresiasi kerja relawan, tenaga medis, ASN, serta TNI dan Polri yang terus bekerja di lapangan,” kata Suryadi.
Ia berharap pemerintah pusat memberikan perhatian serius dengan menambah dukungan peralatan dan personel, sehingga proses pemulihan pascabanjir di Aceh dapat berjalan lebih cepat dan
masyarakat segera kembali beraktivitas. (*)



