Beranda Parlementaria Terkini Peringati Hari Lahir Pancasila, Ali Basrah: Singkirkan Rasisme, Perkuat Persatuan

Peringati Hari Lahir Pancasila, Ali Basrah: Singkirkan Rasisme, Perkuat Persatuan

BERBAGI
Ketua Fraksi Partai Golkar DPRA, H.Ali Basrah, S.Pd, MM. (Foto/Facebook)

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Dalam memperingati hari lahirnya Pancasila yang ke-76, bertepatan pada 1 Juni 2021, Ketua Fraksi Partai Golkar Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Ali Basrah, mengajak masyarakat Indonesia khususnya Aceh untuk menyingkirkan pikiran-pikiran rasisme dan memperkuat persatuan.

Ali Basrah menyampaikan hal itu ketika dimintai tanggapannya oleh Waspadaaceh.com, Selasa (1/6/2021), terkait hari lahir Pancasila dalam konteks kekinian Aceh. Ali Basrah menyebutkan, sebagai warga negara Indonesia, kita hidup dalam keberagaman suku, agama dan budaya yang harus saling dihormati. Tidak boleh ada pemikiran rasisme, ujarnya.

“Kita harus memaknai hari lahirnya Pancasila ini sebagai tonggak agar kita lebih maju kedepanya, dengan memperkuat persatuan dan jangan terpecah belah,” lanjut mantan Wakil Bupati Aceh Tenggara ini.

Menurut pengamatannya, terjadinya perpecahan di Indonesia khususnya Aceh, sering terjadi bersamaan dengan pelaksanaan pesta demokrasi. Saat itu isu-isu rasis akan muncul dan terus digoreng untuk memecah belah persatuan bangsa. Hal itu dilakukan oleh orang-orang yang mengedepankan kepentingan pribadi mau pun kelompoknya.

“Oleh sebab itu mari kita tunjukkan bahwa kita bersatu, jangan mau terpecah belah hanya karena kepentingan sekelomok orang. Dalam hal ini anak muda sangat dibutuhkan untuk meredam perpecahan dengan memperkuat persatuan, sesuai dengan sila ketiga yaitu Persatuan Indonesia,” ucapnya.

Sekretaris  DPD I Partai Golkar Aceh ini juga atas nama pribadi dan pimpinan Fraksi Golkar, mengucapkan selamat Hari Jadi Pancasila yang ke 76.

“Tentu dengan doa dan harapan, Pancasila sebagai dasar negara dengan bingkai burung garuda dan semboyan Bhineka Tungal Ika, kita sebagai garda terdepan harus membela Pancasila dan harus mempertahankannya. Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh,” tegasanya. (Kia Rukiah).