Sabtu, April 20, 2024
Google search engine
BerandaAcehPemerintah Diminta Tindak Lanjut Usulan KEE atau Tahura, Solusi Konflik Satwa di...

Pemerintah Diminta Tindak Lanjut Usulan KEE atau Tahura, Solusi Konflik Satwa di Bener Meriah

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Tim Pengamanan Flora Fauna mengusulkan adanya Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) atau Taman Hutan Raya (Tahura) seluas 10.000 hektare sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi konflik antara manusia dan gajah di wilayah tersebut.

Koordinator Tim Pengamanan Flora Fauna Karang Ampar-Bergang, Kabupaten Aceh Tengah, Muslim mengatakan bahwa KEE atau Tahura yang diusulkan meliputi bentang alam antara Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Bireuen.

“Kami berpikir solusi jangka panjangnya ada di sini. Karena kita harus berbagi ruang. Alhamdulillah semua perangkat desa siap melepaskan hak gajah. Sehingga gajah tidak mengganggu hak masyarakat,” kata Muslim, usai kegiatan konferensi pers di Sekretariat Walhi Aceh, Kamis (30/11/2023).

KEE adalah kawasan yang penting untuk menjaga kekayaan alam dan manfaat lingkungan, tapi tidak termasuk daerah konservasi resmi seperti taman nasional atau cagar alam. KEE dilindungi agar tidak rusak atau diubah fungsinya yang bisa yang dapat mengancam kelestarian ekosistem dan keanekaragaman hayati di dalamnya

Muslim menambahkan bahwa usulan KEE atau Tahura ini bukanlah hal baru. Pada tahun 2016, tim juga sudah mengajukan usulan serupa, namun belum ada tindak lanjut dari pemerintah provinsi.

Konflik antara gajah dan manusia di Bener Meriah telah berlangsung sejak 13 tahun lalu. Akibatnya, banyak kerugian yang dialami oleh masyarakat, baik dari segi ekonomi, pendidikan, maupun keamanan.

Tim Pengamanan Flora Fauna juga telah berjuang untuk mengatasi konflik ini dengan cara menggiring gajah. Namun, mereka juga menghadapi kesulitan dalam berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh.

Muslim juga mengkhawatirkan dampak dari hilangnya tutupan hutan di Bireuen, yang berpotensi membuat gajah pindah ke Bener Meriah. “Awalnya di Juli terjadi konflik gajah. Wilayah Juli ada HGU. Sehingga, di Bener Meriah, di Aceh Tengah jadi imbasnya,” ungkapnya.

Muslim berharap usulan KEE atau Tahura ini dapat menjadi solusi konflik gajah dan manusia yang terjadi sejak puluhan tahun silam. Ia juga mengajak semua pihak untuk bersama-sama menjaga keanekaragaman hayati, khususnya gajah, yang merupakan warisan alam yang harus dilestarikan. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER