Beranda Laporan Khusus Nyala Semangat Guru Garis Depan Bak Setetes Embun di Ladang Gersang

Nyala Semangat Guru Garis Depan Bak Setetes Embun di Ladang Gersang

BERBAGI
Arif Widayanto, tercatat sebagai guru garis depan (GGD) Kemendikbud, yang mengemban tugas mencerdaskan masyarakat di Pulau Nasi, Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar. (Foto/Ist)

“Peralatan olahraga seperti gawang untuk sepakbola dan sebagainya, saya berinisiatif membuatnya sendiri dengan bahan yang ada untuk melengkapi sarana olahraga siswa”

— Arif Widayanto, Guru di Pulo Aceh —

Peran guru dalam perjalanan sejarah sangat besar dan menentukan untuk masa depan Indonesia khususnya Provinsi Aceh. Perjuangan para guru di pedalaman untuk mendidik dan mencerdaskan siswanya tak pernah berhenti.

Walaupun mereka jauh meninggalkan kampung halamannya, namun semangat mengajar untuk mengabdikan ilmunya pada nusantara selalu mereka bawa dalam jiwa dan raga. Walaupun sosok mereka sederhana, tetapi mereka motivasi berbeda, untuk mencerdaskan murid-muridnya.

Arif Widayanto, tercatat sebagai guru garis depan Kemendikbud, yang mengemban tugas mencerdaskan masyarakat di Pulau Nasi, Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar. Dia merupakan Guru Garis Depan (GGD) angkatan pertama Kemdikbud, mengabdi di SMAN 1 Pulo Aceh sejak tahun 2015.

Pada tahun 2011, dia juga pernah bertugas dalam program Sarjana Mendidik di daerah terdepan, terluar, tertinggal (SM-3T). Arif mendapat tugas di Pulau Breuh, Kecamatan Pulo Aceh, di SDN Lapeng dan SDN lLmpuyang.

Tahun 2013, Arif kembali ke daerah asalnya (Pulau Jawa) untuk mengikuti Pendidikan Profesi Guru. Sejak tahun 2015 – hingga sekarang, setelah lulus CPNS Kemendikbud untuk Daerah Khusus 3T, dia kembali ditempatkan di SMAN I Pulo Aceh di Pulo Nasi.

SMA Negeri 1 Pulo Aceh adalah salah satu satuan pendidikan dengan jenjang SMA di Alue Riyeung, Kemukiman Pulo Nasi, Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Juga merupakan sekolah yang berlokasi di daerah Kepulauan, daerah tertinggal, terluar dan terdepan (3T).

SMA ini merupakan sekolah yang sangat penting dalam dunia pendidikan di kecamatan terluar ujung barat Indonesia. Kecamatan Pulo Aceh ini terdiri dari dua pulau berpenghuni, yaitu Pulau Breueh dan Pulau Nasi. Kedua pulau berjarak sekitar 1 jam naik perahu ke Banda Aceh, ibu kota Provinsi Aceh.

Arif merupakan guru mata pelajaran Sejarah Indonesia. Pria asal Kudus, Jawa Tengah ini, genap bertepatan 6 tahun pengabdiannya tepat pada HUT PGRI ke-76 dan Hari Guru Nasional (HGN) 2021.

Guru ini berdomisili di Komplek Rumah Dinas SMAN 1 Pulo Aceh. Meski tak punya kendaraan, Arif terbilang aktif beraktivitas, baik terkait dengan pendidikan mau pun sosial kemasyarakatan. Dia tinggal berjauhan dengan istri dan anaknya. Istrinya, Reni Handayani, dan anak-anaknya, yang juga seorang guru, tinggal di Jawa Tengah. Namun dia tetap berkomunikasi dengan keluarganya. Setiap lima atau enam bulan, Arif pulang ke kampung halamannya di Jepara, Jawa Tengah.

“Saya selalu pulang kampung setelah 6 bulan mengajar. Saat liburan sekolah baru saya pulang kampung,” ujarnya.

Menjadi Guru Berinisiatif

Dia menyebutkan untuk siswa di daerah tertinggal, terluar dan terdepan (3T), siswa SMAN 1 Pulo Aceh memiliki semangat belajar yang sangat tinggi. Meskipun sarana jalan dan kondisi geografis terbilang cukup ekstrem.

Arif Widayanto, tercatat sebagai guru garis depan (GGD) Kemendikbud, yang mengemban tugas mencerdaskan masyarakat di Pulau Nasi, Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar. (Foto/Ist)

Kondisi jalan yang berbahaya bagi pengendara sepeda motor, serta ada yang berjarak sangat jauh untuk menuju sekolah, tetapi menurutnya para siswa tetap antusias dan berjuang untuk sekolah demi menuntut ilmu mengejar cita-citanya.

Arif menyebutkan, di sekolah perlu ada sarana prasarana yang diperlukan untuk mendukung kegiatan belajar. Seperti lapangan olahraga yang memang belum dimiliki oleh sekolah tersebut.

“Peralatan olahraga seperti gawang untuk sepakbola dan sebagainya, saya berinisiatif membuatnya sendiri dengan bahan yang ada untuk melengkapi sarana olahraga siswa,” ungkapnya.

Menurut Arif, meski dengan fasilitas yang terbatas semua ini tidak mengecilkan motivasi belajar siswa. Para siswa selalu bersemangat untuk datang dan belajar di sekolah itu.

Bagi Arif mengajar adalah bentuk perjuangan nyata yang dapat dia lakukan untuk bangsa dan negara. Para guru di pulau ini tetap antusias menggagas ide-ide kreatif demi memperoleh model belajar yang lebih baik di tengah keterbatasan yang ada.

Terkait hambatan dan tantangan selama bertugas di SMA Negeri 1 Pulo Aceh, sebut Arif Wijayanto, dirasakan ketika hujan dan badai di laut, maupun di daratan. Katanya, kendala itu menghambat kedatangan siswa, karena keadaan sarana jalan lintasan siswa menjadi licin.

“Sehingga saat terjadi hujan ataupun longsor, maka jalan tertutup dan menyulitkan siswa dan masyarakat untuk melintas,” tuturnya.

Arif Duta Vaksin di SMAN 1 Pulo Aceh

Arif juga dinobatkan sebagai duta vaksin di SMAN 1 Pulo Aceh. Menurut Arif, masyarakat di Pulo Aceh masih perlu sosialiasi secara masif tentang pentingnya vaksinasi.

“Kami tidak akan menyerah membantu program pemerintah daerah dan pusat untuk kesehatan dan pendidikan di sini,” tuturnya.

Menurut Arif, demi kesehatan bersama, dia selalu menyampaikan terkait vaksinasi dan memotivasi, baik kepada siswa maupun orang tua siswa.

Baru-baru ini dia juga mewakili kepala sekolah untuk memberikan arahan vaksinasi dan sosialisasi oleh IPDN pada masyarakat dan siswa SMAN 1 Pulo Aceh.

Guru Harus Meningkatkan Kapasitas

Segala keterbatasan yang dia hadapi tidak menjadikan penghalang untuk memberikan kontribusi bagi kegiatan pendidikan. Termasuk untuk menimba ilmu dan pengalaman melalui serangkaian kegiatan pelatihan.

Arif menyebutkanm dia dengan penuh iklash menjalankan tugas sebagai pendidik yang berkewajiban untuk mencerdaskan anak bangsa. Peran guru sangat menentukan dalam mendidik dan mencetak sumber daya manusia yang berkualitas, berkarakter serta produktif. Untuk itu di rela berjauhan dari keluarganya demi membaktikan diri untuk mencerdaskan generasi muda di pulau tersebut.

Menurut Arif, meskipun mereka di daerah pedalaman, semangat belajarnya tidak pernah padam. Mereka juga punya hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan.

“Saya menyebut sekolah kami laksana setetes embun di ladang yang gersang. Walau hanya setitik embun, tapi kami akan berusaha membawa kesegaran untuk Pulau Nasi ini,” tutur Arif. (Cut Nauval Dafistri)