Rabu, Februari 18, 2026
spot_img
BerandaAcehMiris! Sehari Jelang Ramadhan, Warga Aceh Terdampak Banjir Masih Tinggal di Tenda...

Miris! Sehari Jelang Ramadhan, Warga Aceh Terdampak Banjir Masih Tinggal di Tenda Pengungsi

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Sehari menjelang bulan suci Ramadhan, pemandangan yang menyayat hati masih terlihat di sejumlah wilayah di Aceh. Ribuan warga terdampak banjir belum bisa kembali ke rumah mereka dan masih harus bertahan hidup di tenda-tenda pengungsian yang serba kekurangan.

Kondisi ini masih terlihat di Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Pidie Jaya, Bener Meriah, Aceh Tengah, hingga Gayo Lues, Selasa (17/2/2026).

Jurnalis Waspadaaceh.com melihat langsung lokasi pengungsian, dimana keseharian warga penuh dengan tantangan. Ketika hujan turun, tanah di sekitar tenda menjadi becek dan berlumpur, membuat aktivitas sehari-hari semakin sulit.

Sebaliknya, saat musim panas datang, debu beterbangan di mana-mana, menyulitkan pernapasan pengungsi maupun warga yang melintas. Fasilitas yang terbatas dan lingkungan yang tidak kondusif membuat masa tinggal di pengungsian terasa semakin berat, apalagi di saat seharusnya mereka bersiap menyambut bulan penuh berkah dengan tenang.

“Belum jelas kapan kami bisa mendapat huntara,” kata Rahmat, warga Aceb Utara yang sebelumnya tinggal di dekat DAS Sungai Arakundo.

Namun, di tengah kesulitan yang melanda, ada secercah kehangatan yang terlihat dari wajah-wajah para pengungsi. Kegembiraan terpancar ketika mereka menerima bantuan daging meugang, tradisi berbagi daging khas Aceh. Baik yang disalurkan oleh relawan seperti Laznas AQL Peduli maupun dari pemerintah.

Tampak di beberapa lokasi di Aceh Timur dan Aceh Tamiang, banyak warga berkumpul untuk mendapatkan daging meugang menyambut Ramadhan.

Momen berbagi ini menjadi pengobat rindu akan kehangatan rumah dan kebersamaan keluarga, serta membuktikan bahwa solidaritas masyarakat Aceh tetap kuat di tengah musibah.

“Alhamdulillah tadi dapat daging meugang dari relawan di sini,” kata Dedi,  warga Aceb Tamiang.

Meski demikian, realita tetaplah pahit. Hingga saat ini, rumah sementara (huntara) yang dibangun oleh pemerintah maupun yang didonasikan oleh lembaga swasta belum mampu menampung seluruh pengungsi. Ribuan orang masih harus berdesakan di tenda-tenda yang tidak memadai, tanpa kepastian kapan mereka bisa mendapatkan tempat tinggal yang layak.

Menjelang Ramadhan, harapan mereka sederhana: ingin beribadah dengan tenang, makan bersama keluarga dalam suasana yang nyaman, dan segera kembali memulihkan kehidupan yang sempat terhenti karena banjir.

Kondisi ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus peduli dan membantu meringankan beban saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER