BerandaBeritaMiris! Di Kota Medan, Siswa Pertaruhkan Nyawa Lintasi "Jembatan Maut" untuk Sekolah

Miris! Di Kota Medan, Siswa Pertaruhkan Nyawa Lintasi “Jembatan Maut” untuk Sekolah

Medan (Waspada Aceh) – Ini bukan pemandangan di pedalaman terpencil atau pelosok negeri yang terisolir. Ini terjadi tepat di jantung Kota Medan, di mana nyawa menjadi taruhan demi menuntut ilmu.

Di kawasan Sukadamai, Medan Polonia, para siswa terpaksa menempuh perjalanan membahayakan yang memisahkan mereka dari bangku sekolah. Mereka harus berjalan di atas pipa besar milik Perumda Tirtanadi yang melintang di atas aliran Sungai Deli yang deras.

Ketinggian pipa tersebut mencapai sekitar 7 hingga 10 meter dari permukaan air sungai. Di bawahnya, arus sungai bergemuruh siap menerkam, sementara di atasnya, para pelajar harus menyeimbangkan tubuh dengan hati-hati. Para siswa melangkah demi langkah mempertaruhkan nyawa.

Kondisi mengerikan ini menjadi pemandangan rutin setiap pagi dan sore bagi para siswa SMPN 34 Kampung Baru. Bagi mereka, pipa besi itu adalah satu-satunya jalan penghubung agar bisa sampai ke sekolah tepat waktu.

“Sudah sering anak-anak sekolah itu jatuh ke sungai, Pak. Bahkan pernah ada yang hampir hanyut,” ujar Rabiatul Hadawiyah dengan nada prihatin kepada wartawan, Jumat sore (10/4/2026).

Ia mengenang, pernah suatu ketika insiden jatuhnya siswa itu menjadi perhatian. Wali Kota Medan, Bobby Nasution, bahkan sempat datang menjenguk korban dan melihat langsung kondisi lokasi tersebut.

“Malamnya Pak Bobby datang ke sini. Saat itu menjelang pemilihan Gubernur Sumatera Utara. Beliau berjanji akan membantu membangun jembatan gantung yang layak untuk warga,” tuturnya.

Namun sayangnya, hingga kini tak kunjung terealisasi. Pipa besi itu tetap menjadi satu-satunya harapan, dan bahaya tetap mengintai setiap detik.

Ketika para siswa SMP harus berjalan di atas pipa besar milik Perumda Tirtanadi yang melintang di atas aliran Sungai Deli yang deras. (Foto/Ist)

Hal senada diungkapkan Nurhayati Tinambunan. Ia menegaskan bahwa insiden jatuhnya siswa bukanlah kejadian sekali dua kali, melainkan sudah menjadi hal yang biasa terjadi di sana.

“Sudah sering ada yang jatuh, Pak. Kadang luka-luka, tapi mau bagaimana lagi? Itu jalan satu-satunya,” timpalnya.

Sebenarnya, jarak dari pemukiman warga ke gedung sekolah itu tidaklah jauh. Hanya berjarak sekitar 400 meter jika ditempuh dengan berjalan kaki melewati pipa tersebut.

Namun, jika harus lewat jalan resmi yang memutar, jarak itu menjadi jauh dan membutuhkan biaya transportasi. Siswa harus naik angkutan kota, becak, atau ojek online. Hal yang bagi sebagian warga di sana, sangat memberatkan.

“Bapak bayangkan, berapa biaya yang harus dikeluarkan pulang pergi setiap hari? Kami tidak sanggup, Pak. Kalau lewat pipa ini, lebih dekat dan tidak perlu keluar ongkos sepeser pun. Meski bahaya, ini pilihan terpaksa,” keluh salah satu warga lain dengan nada putus asa.

Kisah pilu ini bermula sejak terputusnya jembatan rel kereta api yang dulu menjadi penghubung utama. Sejak jembatan itu hilang, pemukiman ini bagaikan sebuah pulau yang terisolir.

Warga kini hanya bisa berharap dan terus berdoa. Mereka mendesak agar Pemerintah Kota Medan benar-benar hadir dan membangun jembatan gantung yang aman. Bukan hanya demi keselamatan anak-anak sekolah, tapi juga agar konektivitas warga dengan kawasan Kampung Baru kembali terhubung.

Ironisnya, hanya beberapa langkah dari lokasi tersebut, berdiri megah perumahan elit Malibu dengan rumah-rumah mewah dan gedung-gedung bergengsi.

Di satu sisi, kemewahan dan kenyamanan terpampang nyata. Namun di sisi lain, ada anak-anak yang harus merangkak di atas ketinggian demi masa depan. Sebuah kontras yang menyayat hati, di tengah kemajuan Kota Medan yang terus digembar-gemborkan. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER